Extra Chapter

22 1 0
                                        

Tujuh tahun telah berlalu, suara kicauan burung-burung kian hari perlahan tak terdengar. Kepakan cantik kupu-kupu pun mulai menghilang dari peradaban. Gumpalan asap menghiasi langit bagaikan awan. Suara burung baja berdesing memecah melintasi langit. Hingga burung baja itu mendarat dengan sempurna membawa rombongan para manusia.

Seorang wanita muda turun dengan anggunnya, namun suara ketukan sepatu hells-nya terdengar tak beraturan. Ya, wanita itu berjalan cepat seraya sesekali melihat ke arah jam tangan cantik yang melekat di tangannya. Ia membawa kopernya menuju ke arah taxi yang berjejer didepan bandara. Lalu ia bergerak memasuki salah satu taxi di sana, dibantu oleh sang supir yang meletakkan koper wanita itu pada bagasi mobil.

Sang supir menanyakan alamat yang dituju wanita itu, lantas wanita itu tersenyum lalu memberitahukan tempat yang ingin ia tuju. Segera taxi itu melaju memecah padatnya jalan raya. Wanita itu memainkan ponselnya, raut wajahnya terlihat serius dengan kacamata yang tersemat pada wajah cantiknya itu.

Dering telepon berbunyi, membuat wanita itu sontak mengangkat panggilannya. Wanita itu melakukan percakapan ringan dengan sesekali tertawa pelan. Melihat sebuah toko bunga berada diseberang jalan, wanita itu menjauhkan ponselnya dari dirinya sejenak.

"Pak, tolong ke toko bunga di depan sana ya ...."

Setelah itu, wanita itu melanjutkan pembicaraannya dengan seseorang diseberang telepon sana. Hingga tiba ia didepan toko bunga dengan dekorasi yang sangat cantik. Bunga-bunga di sana tumbuh dengan baik dan memiliki aroma wangi semerbak. Wanita itu berjalan memasuki toko itu.

Saat memasuki pintu toko tersebut, bell penanda berbunyi membuat sang pemilik toko segera keluar untuk menyambut pembelinya.

"Selamat datang di toko bunga Harsa," ucap sang memilik menyambut wanita itu seraya tersenyum.

Wanita itu tersenyum balik seraya tangannya bergerak menyentuh bunga-bunga di sana. "1 bucket bunga lily putih ya," ujar wanita itu.

Ia bergerak menuju kasir dan berdiam diri di sana sembari melihat tangan sang penjual dengan telaten menyiapkan bucket pesanannya. Sesekali wanita itu melihat bingkai foto seekor kucing terpampang di belakang kasir itu, lalu ia melirik ke sebelah bingkai foto itu, terdapat foto seorang gadis tengah tersenyum dengan mengenakan seragam sekolah, sontak wanita itu tersenyum tulus diselingi tatapan sendu wanita itu.

"Sudah lama banget ya ...." ucap penjual itu sembari menyerahkan bucket bunganya.

Wanita itu tersenyum lalu menyerahkan selembar uang dan meraih pesanannya. "Iya, Ras. Gimana tokomu? Rame?"

"Yaaah gituan, Mell ... walaupun gak rame, setidaknya ada pembeli yang masih mau membeli bunga dari tokoku, apalagi anak-anak muda yang hendak memberikan bunga kepada kekasihnya." Saras tertawa diikuti oleh tawa Melody.

"Seperti biasa ya, setiap tahunnya kamu mau pergi ke sana."

Melody menoleh kearah bingkai foto. "Iya, hari ini kan hari ulang tahunnya Harmony," ucap Melody.

Saras ikut menoleh ke arah bingkai itu lalu menghela napasnya. "Setelah 2 tahun kepergian saudariku, Harsa juga ikut pergi menemui pemilik aslinya di atas sana."

"Mungkin Harsa sudah rindu kepada Harmony di sana, termasuk juga kita." Melody melihat ke arah jam tangannya. "Oh, sudah jam segini, aku pamit dulu ya, Ras."

"Tunggu-tunggu." Saras memberikan bunga tulip kepada Melody. "Tolong juga letakkan di sana ya, ini hadiah ulang tahunku untuk saudariku," ucap Saras lalu dibalas anggukan oleh wanita itu. Melody melenggang pergi dari toko milik Saras dan kembali menaiki taxi.

Melody menempuh perjalanan yang cukup panjang dan lama, hingga akhirnya ia tiba di pantai kuta pada sore hari. Wanita berjalan mendekati bibir pantai, ia menatap langit senja dengan sendu, karena mengingatkannya pada sahabatnya itu.

Hidup Itu Luka  Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang