Setiap insan ada masanya.
Setiap masa ada insannya.
Jikalau semesta berkehendak, atma yang dipilih tak akan bisa lepas dari takdirnya. Begitu juga dengan Harmony atas segala derita laranya dalam kehidupan bak orang ketiga.
Menyukai seseorang yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Aku Hanya Butuh Pelukan Bukan Caci Maki dan Pukulan" -Harmony
****○•○•○•○****
"Mon, Mon ... bangun!"
Samar-samar mendengar suara yang memanggilnya, Harmony mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia membuka matanya sempurna, melihat Melody yang menggoyang-goyangkan tubuhnya membuat gadis itu tersenyum.
"Iih, apasih, geli tau."
"Ayo balik ke kelas, kita udah 30 menit tidur di UKS."
Harmony beranjak dari brankar, ia meregangkan tubuhnya. "Bentar, aku mau cuci muka dulu."
Tak selang lama mereka kembali ke kediaman kelasnya. Harmony mengintip lewat jendela kelas untuk memastikan apakah ada guru yang mengajar atau tidak. "Aman Mell, gak ada guru"
"Kalau gitu ayo masuk, ngapain kamu kek swipper di dora the explorer kek gitu?"
"Swipper, jangan mencuri! Jadi maksud kamu aku kek gitu?"
Melody tersenyum lalu tertawa diselingi oleh kekehan Harmony. Sudah cukup bersenda guraunya, Mereka berdua merapikan sedikit penampilan dan kemudian memasuki ruang kelas.
"Mell, kamu dari mana? Tadi kamu dari ruang guru kan? Pak Arka masuk gak?" Tanya salah satu siswa di sana beruntun.
"Gak tau tuh." Melody menjawab singkat.
Cukup lama waktu berlalu tanpa seorang guru, hingga akhirnya mereka berasumsi bahwa hari ini ialah jam kosong. Saat hendak bersiap menuju kantin, tiba-tiba wali kelas mereka memasuki ruang kelas. Sontak mereka kembali ke tempat duduknya masing-masing.
"Anak-anak, kita kedatangan teman baru dari SMA ABHINAYA. Jadi, jaga tingkah laku kalian dengannya." Titah wali kelas mereka.
"Nak Saras, ayo sini masuk."
Sontak mata Harmony terbelalak sempurna melihat gadis yang sangat ia kenali saat ini tengah berada di depan ruang kelasnya. Saras saat ini tengah berdiri di podium depan memperkenalkan dirinya. Para laki-laki yang berada di sana seketika bersorak melihat siswi baru di kelas mereka memiliki paras yang dahayu. Harmony mematung menatap saudari tirinya tak percaya. Bukan hanya dirumah, melainkan ia harus bertemu dengan Saras di sekolah, dan setiap harinya.
"Nak Saras, silakan duduk di kursi yang ada di belakang," guru itu melayangkan jari telunjuknya pada meja yang berada tepat di belakang.