Setiap insan ada masanya.
Setiap masa ada insannya.
Jikalau semesta berkehendak, atma yang dipilih tak akan bisa lepas dari takdirnya. Begitu juga dengan Harmony atas segala derita laranya dalam kehidupan bak orang ketiga.
Menyukai seseorang yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tempat Singgah Tidak Selamanya Berujung Indah Ada Kalanya Mereka Berubah Dan Itu Adalah Hal Yang Lumrah
****○•○•○•○****
Keesokan harinya, cuaca mendung mendominasi. Baskara terlihat redup ditutupi awan berkabut. Dengan langkah pelan Harmony menuruni anak tangga dengan perban yang terlilit di satu lutut dan sikunya. Gadis itu menoleh ke arah Kenandra yang tengah memberikan obat kepada Saras di ruang tamu. Saras diperkenankan untuk pulang subuh tadi karena keadaannya dirasa sudah membaik. Saras yang melihat kedatangan Harmony, mulai meliriknya dari atas ke bawah. Harmony menggendong tasnya seraya berjalan melewati Kenandra dan Saras.
"Hei," panggil Kenandra.
Harmony menghentikan langkahnya lalu membalikkan tubuhnya menghadap pada mereka berdua. Kenandra menutup botol obat milik Saras lalu meletakkannya di sisi meja. Pria itu beranjak lalu berjalan hingga ia berada tepat di hadapan Harmony.
"Apa maksudnya ini?" tanya Kenandra.
Harmony yang merasa bingung, lantas mengerutkan keningnya. "Maksud papa apa?"
Seketika rahang Kenandra mengeras. "Kamu mau membuat keluarga saya malu! Hah!" Pria itu menghela napas kasar. "Tadi ada guru yang menghubungi saya, katanya salah satu siswanya ada yang terluka parah. Dan banyak saksi yang melihat kalau kamulah pelakunya!"
"Kamu-" Kenandra berdecak seraya mengacak-acak rambutnya. "Memang seharusnya di keluarga saya itu gak ada kamu!"
"Kamu mau jadi pembunuh?!" bentak Kenandra.
"Pa- Papa, bukan gitu, dengerin Mony-"
"Semakin dilihat, kamu makin mirip sama mamamu ya,"
Mata gadis itu berkaca-kaca. "Pa-"
"Pembawa sial tau gak! Pembunuh sama seperti mamamu! Entah apa dosa saya sampai-sampai punya anak kek KAMU!!"
Setelah kejadian kemarin yang terus berputar-putar di pikirannya, saat ini ia juga dicerca habis-habisan oleh papanya. Harmony melangkah mundur lalu mengangguk pelan, ia terkekeh sejenak dan menatap Kenandra. "Iya pa, iya. Mony pembawa sial! Emang seharusnya Mony gak lahir!" Suara Harmony terdengar parau. "Kenapa Mony dilahirkan pa? Bukan keinginan Mony untuk lahir di dunia ini!"
"Jika Mony tahu kalau hidup Mony kek gini, Mony gak mau dilahirin. Kalau Mony bisa memilih, Mony pasti memilih untuk tidak dilahirkan, pa!"
"Ap-apakah salah Mony jika Mony lahir? Kenapa gak papa bunuh saja Mony saat Mony masih dikandungan mama?" Harmony menyeka tangisnya.
Tak ada tanggapan dari Kenandra, Harmony tersenyum sendu. "Mony berangkat dulu pa." Gadis itu melenggang pergi. Sudah tak punya uang sepeserpun untuk ia gunakan, akhirnya Harmony menggunakan sepeda gayuhnya menuju sekolah. Jaraknya cukup jauh, namun ia tetap mengayuh sepedanya dengan susah payah. Ia berdesis kala tiap rasa sakit yang timbul kembali pada lukanya. Gadis itu mengayuh sepedanya seraya menyeka air matanya yang tak kunjung berhenti.