Chapter 22. Berujung Maut

23 8 1
                                        

Kenangan Adalah Kata LainDari Tali Yang Melingkari Leher

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kenangan Adalah Kata Lain
Dari Tali Yang Melingkari Leher

****○•○•○•○****

Sore hari menjelang malam, Harmony berjalan dengan lemasnya menuju halte terdekat dari sekolahnya. Seharian gadis itu dikunci di dalam toilet dengan perut kosong. Saat merasa haus, ia hanya meminum air keran di sana. Untung saja di jam pulang, salah satu satpam penjaga sekolah membukanya. Suaranya serak, bahkan kepalanya terasa pusing. Harmony melangkah menyusuri jalan setapak dipinggir sisi jalan.

Gadis itu mendengar dan melihat para murid menertawakannya puas, dan acuh terhadap dirinya. Salah satu siswa di sana membunyikan suara klakson mobil tepat di belakang gadis itu, membuat Harmony memekik kaget. Ada pula yang melemparnya dengan sampah plastik minuman bekas, dan ada yang sengaja melewati genangan air didekatnya dan mengenai pakaian Harmony.

Negara yang melihat hal itu menjadi geram, ia melajukan motornya menghampiri Harmony. "Mon!" panggil laki-laki itu.

Harmony menoleh lesu tanpa menjawab sepatah katapun. Negara berhenti di sisi Harmony. "Lo kenapa? Kenapa diam aja saat ditindas kek gitu?!"

"Emang gue bisa apa? Mereka berbanyak, dan sedangkan gue sendiri ...." jawab gadis itu pasrah. Ia lalu melanjutkan langkahnya.

"Mon, berhenti!" Negara kembali mendekat pada Harmony dengan motornya. "Kok bisa mereka kek gitu? Apa gara-gara postingan di lovegram itu?" tanyanya. Tak punya tenaga untuk menjawab, Harmony terdiam dan memacukan langkahnya.

Tak kenal kata menyerah, Negara menghadang gadis itu. "Mon, kenapa?" Lagi-lagi Harmony terdiam. "Yaudah kalau gak mau cerita, ayo gue antar pulang."

"Gak usah, Gar. Gue bisa pulang sendiri."

Melihat kondisi gadis itu, Negara tak mau mendengar kata penolakan, ia menarik tangan Harmony. "Ayo, pokoknya gue antar pulang."

Harmony menuruti kata laki-laki itu, ia sudah tak memiliki tenaga untuk berdebat lebih jauh. Negara tersenyum, lalu melajukan motornya. Harmony memejamkan matanya kala angin menyapa wajahnya, entah kenapa aroma parfum dan wangi khas tubuh laki-laki itu membuat Harmony merasa tenang.

"Mon!" panggil Negara, lantas Harmony membuka matanya lalu berdehem sebagai jawaban.

"Lo kenapa?" tanya Negara sekali lagi.

"Bener kok apa yang lo bilang, ini gara-gara postingan itu," elak Harmony sekaligus ia ada benarnya.

"Brengsek! Apa mereka gak punya otak! Bisa-bisanya mereka bertindak tanpa menelaah dulu!!" decak Negara.

Harmony tertawa pelan. "Gapapa, Gar. Ini gak ada apa-apanya kok."

"Gak ada apa-apanya gimana? Lo sampe di bully kek gitu! Terus-"

Hidup Itu Luka  Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang