Arti Pulang Menjadi Hal Yang Paling Berarti
Mari Merayakan Hati Yang Mati Rasa Ini
****○•○•○•○****
Sekitar pukul tujuh malam, Negara menuangkan air minum ke gelas Melody, lalu menyerahkannya pada gadis itu. Tia kembali hendak mengelus puncak kepala anaknya, namun lagi-lagi tangan wanita itu ditepis pelan oleh Melody.
"Mama ngapain ke sini?" tanya Melody.
"Mama khawatir sama kamu, Mell."
Melody tersenyum getir. "Tumben, biasanya mama cuek!" Melody mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Maksud kamu apa, nak? Mama-mama beneran khawatir sama kamu, mama takut kamu kenapa-napa," ujar Tia. Suara wanita itu terdengar serak karena sehabis menangis tadi.
Melody menoleh ke arah Tia. "Kenapa baru sekarang ma? Kenapa gak dari dulu? Mama gak usah khawatir sama Melody."
"Mama pasti khawatir, nak. Mama pasti khawatir! Karena Mama adalah orang tua kamu!!"
"TAPI SELAMA INI AKU GAK NGERASA KALAU PUNYA ORANG TUA!!"
"Semenjak ayah meninggal, Mama berubah!!"
"MELODY-" Kalimat Tia terpotong kala Negara menengahi mereka.
"Udah tante, udah. Biar Gara yang menjelaskan kepada Melody." Negara mendorong lembut bahu Tia keluar dari ruang rawat Melody. "Tante duduk di sini aja, biar Gara yang menjelaskan semuanya pada anak tante." Negara menenangkan wanita itu lalu kembali memasuki ruangan Melody.
Melody menatap Negara yang memasuki ruangannya. "Apa Gar? Jelasin apa?!" Melody bertanya dengan mata yang berkaca-kaca.
Negara duduk di tepi ranjang Melody lalu menakup kedua pipi gadis itu. Ia menatap mata Melody dalam bak meyakinkan gadis dihadapannya. Negara menceritakan yang ia tahu tentang Tia kepada anaknya dengan penuh yakin. Sempat beberapa kali Melody membantah, namun Negara lagi-lagi berhasil meyakinkan gadis itu. Melihat air mata Melody yang luruh, Negara memeluk gadis itu yang tengah menangis. Melody menampar pipinya sendiri namun berhasil dicekat oleh Negara.
"Salahku, Gar ... salahku ...."
"Seharusnya aku gak terus-menerus nyalahin mama ... aku-aku selalu membuat mama terpojok." Melody terisak. "Dan-dan selalu berharap mama mati ... aku gak mau itu lagi Gar, aku gak mau ...."
Mendengar suara tangis anaknya, Tia segera memasuki ruangan itu. Ia melihat Negara yang tengah menenangkan anaknya yang menangis. Segera wanita itu menghampiri anaknya lalu mengambil alih kepala Melody dari dada Negara.
"Ma ... kenapa mama gak bilang ke Mell ... Mell selalu mojokin mama ... Mell minta maaf ...."
"Gapapa nak, mama juga minta maaf ... mama juga salah gak memberitahu Mell. Kita juga jarang komunikasi nak, ini juga salah mama ... mama janji, mama bakal berhenti kerja di dunia malam ...." lirih Tia.
Senyum Negara terbit kala melihat seorang ibu dan anak yang sudah saling mengetahui isi hati satu sama lain, memaafkan kesalahan pakaian atas kejadian tahun silam. Merasa rindu dengan wajah sang ayah, Melody meminta ponselnya kepada mereka. Negara membuka laci dan merogohnya, lalu meraih benda pipih itu untuk diberikan kepada Melody.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hidup Itu Luka
Ficção AdolescenteSetiap insan ada masanya. Setiap masa ada insannya. Jikalau semesta berkehendak, atma yang dipilih tak akan bisa lepas dari takdirnya. Begitu juga dengan Harmony atas segala derita laranya dalam kehidupan bak orang ketiga. Menyukai seseorang yang...
