Chapter 05. Pantai Sanur

71 33 3
                                        

Singgah di pulau tak bertuan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Singgah di pulau tak bertuan...
Lalu lalang di gurun tak berhuni...

****○•○•○•○****

Cakrawala pada senja ini terlihat lebih cerah, tidak seredup pagi tadi. Matahari semakin tenggelam kala jam telah berputar melewati angka lima sore. Menyebarkan cahaya yang seketika mencipta gradasi warna yang terlihat begitu menenangkan.

Langit senja pada dasarnya memang terlihat sangat indah. Gradasi yang dihasilkan seolah mampu menghadirkan keinginan hanya untuk menggenggamnya barang sejenak. Namun, semua hanya sia-sia kala bergerak untuk mendekatinya. Karena apa yang ada di sana hanya lah susunan gas dan udara yang membiaskan lebih banyak cahaya jingga daripada cahaya putih matahari.

Dikala senja mulai datang, langit biru mulai berganti dengan hamparan bintang. Langit senja terisi akan kepakan sayap burung-burung yang terbang. Harmony mengayuh sepeda gayuh-nya sembari bersenandung kecil. Sesekali gadis itu mendongak ke atas melihat hamparan awan kejinggan yang terbentang luas pada nabastala di atas sana.

Desiran pawana menerpa Harmony, membuat rambut yang sedikit bergelombang pada bagian bawahnya itu terangkat menjauh dari bahunya. Sekitar lima menit ia mengayuh dari rumah, sampailah Harmony di toko kelontong. Gadis itu membeli benang rajut dan alat lainnya yang diperlukan. Melakukan pembayaran dan hendak melangkah pergi dari sana.

"Eh, gek. Kamu udah gede makin mirip ya, sama wanita itu." Ucap ibu-ibu pedagang yang melayani Harmony.

Lantas gadis itu menoleh ke belakang. "Nggih? Maksudnya, buk?" Tanya Harmony.

"Aduh, gak jadi, gek. Ibu cuma asal bicara." Ibu itu tertawa kecil saat Harmony bertanya. Kemudian ia terdiam sejenak kala memperhatikan wajah bingung Harmony. Tak selang lama, ibu itu kembali menahan tawanya.

"Gapapa, gek. Yang penting sifat kamu gak kayak wanita itu." Pungkasnya.

Harmony hendak membuka mulutnya untuk bertanya, namun hal itu terhenti kala dering telepon miliknya berbunyi. Segera ia menerima panggilan itu. Dari sambungan telepon terdengar suara seorang gadis yang memberitahukan bahwa ia sudah sampai di tempat mereka janjian. Harmony lantas bergegas pergi dari sana, tak menghiraukan apa yang dimaksud oleh ibu penjual itu.

Harmony mengayuh sepedanya melewati jalan Kusuma Sari. Hingga tibalah gadis itu di pantai sanur. Ia memarkirkan sepedanya di bawa rindangnya pohon. Berjalan melewati banyaknya turis, sampai bertemu di Bale Bengong.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hidup Itu Luka  Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang