Setiap insan ada masanya.
Setiap masa ada insannya.
Jikalau semesta berkehendak, atma yang dipilih tak akan bisa lepas dari takdirnya. Begitu juga dengan Harmony atas segala derita laranya dalam kehidupan bak orang ketiga.
Menyukai seseorang yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sulit Tuk Menggapai Langit Jika Engkau Masih menatap Bumi
****○•○•○•○****
Harmony bergegas menuju sekolah dengan pakaian kebaya Bali warna putih bersih serta kamen biru tua dengan corak yang khas sudah melekat pada raganya. Tidak lupa gadis itu mengikatkan selendang dengan warna senada dengan kamennya pada bagian perut. Gadis itu menggendong tasnya erat memasuki area sekolahnya. Ia memberi salam pada patung dewa Ganesha yang terletak di depan setelah memasuki gerbang sekolah. Ya, itu adalah sambutan pertama setiap ia memasuki pekarangan sekolahnya.
Sebelum benar-benar menaiki anak tangga menuju ke kelasnya, Harmony membeli minuman dingin guna meredakan dahaga. Ia berjalan santai menyesuaikan agar kamen yang gadis itu gunakan tak terlihat kusut. Dari ujung lorong sana netra Harmony menangkap Negara dengan baju adatnya. Baju safari dengan kamen berwarna cokelat dan saputan dengan corak uniknya sungguh terlihat kontras. Namun tetap saja, ia selalu terlihat tampan entah ia memakai pakaian rombeng sekalipun. Apalagi saat ini ia memakai udeng putih.
"Mirip tai cicak."
Hendak menaiki anak tangga, deru suara lantang memanggil namanya. Harmony menoleh ke belakang melihat Negara yang berlari kecil menghampiri sembari melambaikan tangannya.
"Mon, Mon bentar" Negara mengatur napasnya.
"Aduuh, masih muda kok kek remaja jompo."
"Lo tau, dari ujung lorong sana menuju ke sini itu lumayan jauh tau."
"Iya-iya, ngomong-ngomong kenapa?"
Negara melirik ke arah Harmony, ia tersenyum lebar, matanya seketika berbinar. Bukan karena wajah berseri gadis dihadapannya, melainkan karena minuman dingin di tangan gadis itu. "Bagi doong." Tanpa permisi tangan laki-laki itu menyambar minuman milik Harmony.
"Eeh, itu .... itu kan sudah bekasku."
Negara mengelap bibirnya. "Emang kenapa, lagian ini histeril kok?" Negara meraih tangan Harmony dan menyerahkan minuman kaleng itu kembali ke pemiliknya. "Nih, makasih yaa."
"Iiih kok dihabisin, kan gue belum minum setengahnya."
"Lain kali aku ganti. Lo gapapa kan? Udah mendingan?" Tanyanya.
"Iya, gue sehat kok, sebelum ketemu lo." Harmony tersenyum miring.
"Etdah, gue anggap itu iya."
Mati topik, Harmony menaiki anak tangga. Dipertengahan tangga ia memutar tubuhnya. "Gar, kapan lo ganti minuman gue."
Negara membalikkan tubuhnya, alih-alih menjawab iya, ia malahan menepuk-nepuk bokongnya. "Kapan-kapan ya ...." Negara bergegas pergi dari sana.