Chapter 21. Pembunuh Yang Tertindas

22 9 5
                                        

Aku Juga Manusia
Aku Tidak Sekuat Yang Terlihat Mata

****○•○•○•○****

Keesokan harinya, pada pukul lima pagi Harmony kembali pulang ke kediamannya. Sehari penuh gadis itu dan Kenandra berada di SURYA HUSADHA HOSPITAL DENPASAR, tempat Saras di rawat. Dengan langkah letih, Harmony memasuki rumahnya. Ia harus bersiap untuk segera berangkat sekolah, mau bagaimanapun gadis itu harus masuk sekolah, karena ujian kenaikan kelas akan diadakan satu minggu lagi.

Sejak di rumah sakit, Harmony mondar-mandir menjadi pesuruh dari Kenandra dan Saras. Bahkan cacian tak pelak ia terima di sana. Setelah Harmony tiba dikamarnya, ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, menikmati waktu untuk istirahat barang sejenak sebelum berbenah diri. Ia melihat pada langit-langit kamarnya seraya berpikir 'apa yang akan terjadi padanya nanti, karena semua murid pasti sudah mengetahui kejadian kemarin, tidak akan ada yang percaya padanya, mau seberusaha apapun ia menjelaskan'.

Selang waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, setelah gadis itu cukup lama berkutik pada shower, ia bergegas memakai pakaiannya. Gadis itu menggunakan parfum di seluruh lipatan baju, karena ia menggunakan pakaian yang sama seperti pakaian yang kemarin, apalagi bau keringat karena letih.

Setelah meyakinkan diri, Harmony bergegas menuju sekolahnya. Setelah tiba di sana, ia melihat Melody yang tengah sibuknya di pagi hari, yah, namanya juga OSIS. Melihat Harmony yang tiba memasuki gerbang sekolah, Melody berlari kecil menghampiri gadis itu.

"Mon, Mon," panggil Melody.

Harmony menghentikan langkahnya seraya menoleh. "Ya, Mell? Kenapa?"

"Kamu gapapa, kan? Oh ya, hati-hati ya, Mon. Saat ini banyak yang membicarakan kamu, tadi para guru juga," jelasnya.

"Mell, tapi beneran aku gak-"

Melody memegang pundak sahabatnya. "Iya, aku tahu. Bukan kamu pelakunya, aku percaya kamu gak bakal kek gitu. Namun saat ini semua murid membicarakan kamu, jadi kumohon, saat ini kamu pulang ya? Jangan dulu masuk."

Melody menarik napasnya panjang. "Aku gak bisa bareng kamu nanti, aku harus rapat dan membereskan kekacauan ini. Gambar dan videomu tersebar di sosial media, ya Mon, kamu mengerti, kan?" Melody menatap Harmony dalam.

"Iya, Mell. Aku paham kok, namun aku harus tetep masuk sekolah, kan ujian kenaikan kelas sebentar lagi," ucap Harmony.

"Ayolah Mon, guru-guru tidak akan ada yang mengajar, mereka semua bakal rapat. Aku khawatir sama kamu, gara-gara gadis sialan itu."

"Mell, ayo masuk ke ruang rapat!!" Gusti bersorak memanggil Melody, lantas gadis itu menoleh sejenak.

"Sana Mell, maaf ya atas kejadian ini bikin kamu repot." Harmony tersenyum.

"Mell!!" Sekali lagi Gusti memanggil.

"Mon, kalau ada apa-apa telpon aku. Aku bakal hubungin Negara untuk nemenin kamu-" saat hendak mencari kontak Negara di ponselnya, jari Melody seketika terdiam. "Kamu cari aja di kelasnya ya, Mon," ucapnya.

Melody bergegas pergi setelah mengucapkan itu, dan Harmony hanya tersenyum melihat punggu Melody yang kian menghilang dari pandangannya. Harmony melanjutkan langkahnya, ia berjalan menyusuri koridor. Dan benar saja, saat ia melewati kelas-kelas lain, bisik-bisikan pilu itu selalu terdengar di telinganya.

Hidup Itu Luka  Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang