Aku Ingin Tinggal Di Dunia Dimana Ibu Berada
Izinkan Ku Kembali Pulang Pada Rumahku Yang Sebenarnya
****○•○•○•○****
Setibanya mereka di rumah sakit tempat Melody dirawat, Harmony segera memacukan langkahnya menuju ruang sahabatnya itu, diikuti oleh langkah Rikanitha di belakangnya. Sesampainya didepan ruangan Melody, netra Harmony melihat Negara yang tengah duduk sembari menundukkan kepalanya. Harmony mengernyitkan dahi, bukankah saat ini masih berlangsungnya jam sekolah? Tak ambil pusing, Harmony mendekati laki-laki.
Negara melihat sepatu yang cukup familiar, ia mulai mendongakkan kepalanya. Sontak ia berdiri saat melihat Harmony berada di hadapannya. "Ngapain lo ke sini?!"
"Ngapain kamu ke sini?" Harmony balik bertanya. Tak mau menjawab, Negara kembali mendudukkan bokongnya.
Suara derap langkah terdengar di lorong rumah sakit, membuat mereka menoleh serempak. Netranya mereka menangkap seorang wanita yang tengah berlari dengan paniknya menuju ke arah ruangan Melody dirawat. Tangan wanita itu meraih gagang pintu lalu mendorongnya, namun pintu terkunci dari dalam karena beberapa perawat dan dokter tengah menangani Melody.
Harmony yang melihat wanita itu mulai mendekat, ia tahu kalau wanita itu ialah mama dari sahabatnya. "Tante ...."
Wanita itu menoleh, ia mengerutkan keningnya kala melihat Harmony. "Kamu lagi ...!" Tia melirik ke arah Negara dan Rikanitha di sana, lalu ia bergerak mendekat ke arah mereka tak mempedulikan Harmony. "Kenapa? Bagaimana keadaan anak saya?" tanyanya.
Negara hanya menatap Tia dengan muka datar. Sudah beberapa kali laki-laki itu melihat luka lebam dan bakar pada tubuh Melody gara-gara mama gadis itu. Sekarang? Wanita terlihat mengkhawatirkan anaknya?
Negara sedikit terkekeh. "Kenapa tante baru menanyakan keadaannya sekarang? Untuk kemarin-kemarin tante kemana?"
"Maksud kamu?"
"Setiap kali saya melihat anak tante, pasti terdapat luka lebam maupun luka bakar di tubuhnya, dan setiap kali saya tanya, dia pasti mengelak. Namun akhir-akhir ini Melody selalu jujur, bahwa tante selalu memukulnya saat tante sedang mabuk, bahkan didepan pria-pria lain yang selalu tante bawa pulang."
"Kamu diam, kamu tidak berhak ikut campur dalam keluarga saya!"
"Memang saya bukan keluarga tante, tapi coba tante tanyakan kepada anak tante, siapa yang dia anggap sebagai keluarga dan ...."
"Dan siapa yang perlahan membunuh mentalnya!" Telak Negara.
Tia mundur sedikit lalu meremas tas yang ia bawa. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang keluarga saya, saya melakukan hal itu demi Melody." Tia menarik napasnya. "Sejak ayah Melody tiada, kami terlilit hutang, pria itu meninggalkan banyak hutang kepada kami, jangankan untuk membayar, bahkan kami tak sanggup untuk makan dengan baik sehari-harinya. Tante tak punya pekerjaan, sudah beberapa tempat yang tante datangin, namun selalu berakhir gagal. Beberapa rentenir mulai mendatangi rumah, tak punya pilihan lain, tante terjun ke dunia malam, dan, dan bayarannya cukup untuk membayar hutang dan menunjang kehidupan kami. Melody tak tahu bahwa ayahnya meninggalkan hutang, yang ia tahu, ayahnya tiada karena tabrakan mobil. Dan ini salah tante, seharusnya tante tidak berkelahi di dalam mobil kala suami tante tengah menyetir, alhasil, tabrakan itu terjadi, dan yang selamat hanya tante." Suara Tia terdengar bergetar.
"Tan-tante tidak berniat untuk memukul anak tante, setiap kali tante membawa pria lain ke dalam rumah, Melody selalu melihat tante dengan tatapan jijik. Jujur, tante sakit hati melihat anak sendiri yang melihat mamanya dengan begitu. Namun, yang membuat tante lebih sakit hati lagi, ialah saat anak tante sendiri melihat tante membawa pria lain ke rumah itu. Tante memukulnya agar ia kembali ke kamar, tante tidak mau anak tante melihat mamanya melakukan itu. Setiap hari tante bertengkar dengannya, tante gak mau anak tante jadi seperti tante ...." Air mata Tia luruh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hidup Itu Luka
Fiksi RemajaSetiap insan ada masanya. Setiap masa ada insannya. Jikalau semesta berkehendak, atma yang dipilih tak akan bisa lepas dari takdirnya. Begitu juga dengan Harmony atas segala derita laranya dalam kehidupan bak orang ketiga. Menyukai seseorang yang...
