Entah Ketibaan Yang Menjemput
Atau Aku Yang Menghampiri Maut
****○•○•○•○****
Angin menghantam dengan kerasnya pepohonan, sang surya perlahan mulai kehilangan sinarnya, suara decitan sepeda terdengar, kaki yang letih tengah mengayuh dengan kencang, suara tangisan pecah kala seluruh ingatan mulai kembali datang tanpa permisi.
"PERGI KAU DARI RUMAH INI! BARU SATU DARI KELUARGA SAYA YANG TERLUKA, BAGAIMANA JIKA SATU PERSATU DARI KAMI JUGA YANG KENA GETAHNYA KALAU KAMU TETAP TINGGAL DI SINI!! DARI PADA MENJADI PENGGANGGU DI RUMAH INI! LEBIH BAIK SAYA MEMBUANG DURI YANG MENJADI HAMA DI RUMAH INI!!"
Ucapan Kenandra terus mengalir tanpa henti di pikiran Harmony. Dengan terpaksa ia mengambil sepeda gayuh milik Saras karena sepeda gadis itu tertinggal di sekolah. Pandangannya mengabur kala pelopak matanya tergenang air mata. Beberapa kali gadis itu menyekanya, namun tangisannya tak henti-hentinya turun kala semua ingatan itu berputar dengan jelasnya. Ia membawa tas dengan isi baju yang tak seberapa, dengan syal yang gadis itu rajut melekat di lehernya.
"Mell ... Melody ... aku mau ke Melody ...."
Walaupun terbilang cukup jauh, Harmony mengayuh sepeda itu menuju ke rumah sakit tempat sahabatnya di rawat. Karena saat ini yang ada dibenak Harmony hanya gadis itulah yang bisa menjadi tempat pulangnya.
Setibanya di sana, Harmony disambut dengan kedatangan Negara yang sehabis menaiki motornya. Laki-laki itu menantap Harmony dengan kening berkerut kala melihat penampilan gadis itu sangat acak-acakan. Melihat Harmony yang hendak memasuki rumah sakit, Negara segera mencekal tangan Harmony membuat langkah gadis itu terhenti.
"Mau kemana? Hah?"
Harmony berusaha melepas cekalan Negara, namun laki-laki semakin menguatkan cengkeramannya. "Lepasin ... aku mau ketemu Melody ... aku mohon, Gar ... lepasin ... ku mohon ...."
"Gak! Gue gak mau orang yang gue suka terluka lagi gara-gara cewek kek lo! Lo kan yang misahin gue sama Melody dulu! Dari kecil ternyata lo pembawa sial tau gak!!"
Harmony sempat mematung sejenak, lalu ia kembali menatap Negara. "Lo suka Melody ya, gapapa. Tapi izinin aku buat ketemu Melody." Harmony menangkupkan kedua tangannya. "Ku mohon, sekali aja, izinin aku ketemu sahabatku, Gar. Sekali ini aja, untuk kedepannya gue gak bakal muncul di hadapan kalian lagi ...."
"Gak! Saat ini Melody sudah siuman, gue gak bakal ngebiarin dia terluka lagi gara-gara lo!"
"Mel-Melody sudah siuman? Aku mau ketemu dia." Harmony kembali melangkahkan kakinya, namun kerah baju gadis itu ditarik oleh Negara membuat Harmony terhuyung kebelakang.
"SANA!!" Negara mendorong bahu Harmony membuat gadis itu hampir terjatuh.
"Pak satpam!" panggil Negara, segera seorang petugas menghampiri laki-laki.
"Tolong bawa keluar cewek gila ini! Dia mau membuat keributan di sini!!" ujar Negara, lalu laki-laki itu melenggang memasuki rumah sakit.
Segera satpam tersebut menarik lengan Harmony menjauh dari sana. "Enggak pak! Aku hanya mau ketemu sahabatku! LEPASIIN!!" Harmony memberontak, dengan terpaksa satpam tersebut menghempaskan Harmony hingga menghantam sepeda gayuhnya. "Dek, tolong kamu pergi dari sini! Jangan membuat keributan di rumah sakit ini!" Setelah mengucapkan hal itu, satpam tersebut pergi dengan santainya.
Harmony memukul-mukul sepeda. "AAAAAAAARGGGGH! AKU HANYA MAU KETEMU SAHABATKU ...!!" Dengan suara parau karena tangis, Harmony berteriak.
"Aku tidak punya rumah ...."
KAMU SEDANG MEMBACA
Hidup Itu Luka
Teen FictionSetiap insan ada masanya. Setiap masa ada insannya. Jikalau semesta berkehendak, atma yang dipilih tak akan bisa lepas dari takdirnya. Begitu juga dengan Harmony atas segala derita laranya dalam kehidupan bak orang ketiga. Menyukai seseorang yang...
