bagian 6

418 37 3
                                        

"Namaku Bintang Angkasa, dan sebentar lagi aku akan jadi salah satu Bintang di Angkasa:)"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Namaku Bintang Angkasa, dan sebentar lagi aku akan jadi salah satu Bintang di Angkasa:)"



















°°°

"Pagi kak Zero," sapa Asa ramah sembari duduk di samping Zero.

Zero hanya menatapnya sekilas, lalu kembali melanjutkan sarapannya. Saat ini mereka berada di kantin sekolahnya.

"Nanti, nonton pertandingan basket kak Juna sama Asa yuk."

"Gue ada les."

"Yah... Padahal hari ini babak final loh."

"Bodo amat. Lo nggak usah sok akrab sama gue kenapa sih," ucap Zero kesal.

"Kita kan satu kamar. Harus akrab dong," ucap Asa dengan senyum manisnya.

"Ogah banget gue akrab sama Lo," Zero memandang Asa jijik kemudian beranjak dari sana. Mengabaikan Asa yang tertunduk sedih.

"Emang gini ya, nasib anak yang tidak diinginkan," gumam Asa. Ia kembali melanjutkan sarapannya dengan pelan.

Tak sengaja, Juna mendengar gumaman Asa. Kemudian, ia duduk di tempat bekas Zero tadi.

"Kak Juna," senyum sabit tampak muncul di wajah manisnya. Seumur hidupnya, mungkin ini baru kali pertamanya ada seseorang yang Sudi duduk di sampingnya.

"Diem. Gue mau makan."

Asa mengangguk. Ia memperhatikan lelaki yang dua tahun lebih tua darinya itu makan. Juna yang di perhatikan pun jengah.

"Makan makanan Lo," ucap Juna datar dan Asa pun kembali memakan makanannya.

"Terimakasih sudah duduk di samping Asa. Asa senang... Banget, Asa berasa punya teman. Terimakasih kak Juna," ucap Asa, kemudian ia beranjak, tak lupa membereskan piring dan gelasnya.

Sementara yang di ajak bicara, hanya terdiam kaku. Juna menatap punggung sempit itu menjauh. Sebenarnya, Juna itu bukan tidak peduli, ia hanya tidak tau, bagaimana cara menyampaikan perasaannya. Bahwa, ia juga kesepian. Ia butuh teman seceria Asa. Ia juga ingin mengucapkan terimakasih kepada Asa karena sudah menganggapnya sebagai seseorang yang berharga.

°°

Hari ini, kelas sepuluh IPA satu sedang pelajaran olahraga. Semua anak kelas nampak berhamburan ke lapangan. Beberapa anak cowok ada yang futsal, sementara yang cewek, hanya sekedar pemanasan juga voli.

Asa memperhatikan teman-teman sekelasnya dari kursi di bawah pohon rindang tak jauh dari lapangan.
Ia juga menggunakan seragam olahraga, tetapi tidak mengikuti pelajarannya. Ya... Pihak sekolah memang memberikan izin untuk tidak melakukan kegiatan olahraga dan semacamnya. Tetapi dengan satu syarat, nilainya harus stabil agar ia bisa mempertahankan beasiswanya.

Asa menundukkan kepalanya kala merasakan bau anyir keluar dari kedua lubang hidungnya. Ia tidak panik, hal ini sudah biasa terjadi. Padahal Asa tidak melakukan kegiatan yang memforsir tubuhnya. Ia hanya berjalan dari kelas ke lapangan, ia juga tidak melakukan pemanasan.

Semesta AsaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang