Sensitive content
Trigger warning // abusive, child abuse, kekerasan, blood, bullying, sexual assult / sexual Harrasment, dead dove, trauma, mental health, selfharm
Jimin melihat jika sudah banyak murid yang berbaris, ia tidak membawa begitu banyak barang seperti mereka, hanya ransel sekolah di punggungnya yang berisikan beberapa pakaian, makanan ringan, sebotol air minum dan paling penting kotak obat.
Jimin tahu jika disana memiliki klinik terdekat namun ia tetap harus membawanya, dikala ia tahu jika ia akan menjadi sarung tinju Jung Hee dan teman-temannya.
Jimin mulai masuk kedalam barisan, berdiri di barisan paling belakang, berusaha untuk tidak membuat kontak dengan siapapun. Ia menyadari jika Jung Hee belum datang sama sekali bahkan teman-teman yang bersamanyapun tidak datang, membuat tanda tanya besar di kepalanya juga rasa takut.
Guru mulai memanggil nama mereka satu persatu hingga nama murid terakhir di sebutkan, menyadari nama Jung Hee dan kawan-kawannya tidak di sebut membuat Jimin semakin bingung.
"Pak! Apakah Jung Hee dan teman-temannya tidak ikut?" Salah seorang murid mulai memberanikan diri untuk bertanya, seolah mengetahui rasa penasaran Jimin juga teman sekelas lainnya. Karna hanya kelompok perundung itu yang namanya tidak di sebutkan
Guru itu segera menoleh dan menatap sosok murid yang bertanya, melirik kearah Jimin sekilas yang tengah tertunduk dengan tatapan mata yang tak lepas menanti jawaban.
"Mereka akan menggunakan kendaraan mereka pribadi, dan mereka sudah terlebih dahulu berangkat ke desa itu" mendengar penjelasan guru tersebut entah mengapa membuat jantung Jimin berdetak dengan semangat, rasa nenggelitik di perutnya yang membuatnya sedikit tak nyaman. Perasaan yang sulit untuk di jelaskan namun Jimin bisa memberikan satu kata untuk menjelaskan segalanya
Kebebasan.
Tubuh Jimin berdiri kaku mendengar penjelasan sang guru, begitupula dengan teman-teman sekelasnya yang segera menoleh menatapnya dengan tatapan aneh. Untuk pertama kalinya mereka tidak akan melihat adegan menyedihkan itu, untuk pertama kalinya kelas mereka menjadi sedikit terlihat lebih baik.
Selama perjalanan mereka bersenang-senang, mereka saling berbagi makanan ringan yang mereka bawa, berbincang akan banyak hal dan hal-hal apa saja yang akan mereka kunjungi di desa bulan dan kegiatan seperti apa yang akan mereka lakukan, canda tawa juga teriakan riang bisa terdengar didalam bus yang membawa mereka. Di dalam bus memiliki mesin karoke yang membuat mereka semakin bahagia dan bersemangat.
Jimin melihat semua itu dengan perasaan yang tidak bisa di jelaskan, ia memeluk tas ranselnya dengan erat, menatap bahwa nyatanya mereka semua bisa menjadi lebih baik, teman-teman sekelasnya dan dirinya bisa menjadi dekat layaknya murid normal lainnya jika... Jika saja...
Jika saja mereka tidak pernah hidup di dalam hidupnya.
Ia semakin erat memeluk tas ranselnya, menenggelamkan kepalanya di atas tas ransel. Kursinya berada di paling belakang bus dan ia tahu disini mereka tidak akan menyadari kehadirannya, disini ia bisa sedikit lebih bebas dan tenang.
Matanya menatap kearah jendela luar dimana banyak pepohonan yang sudah mereka lewati, tak ada satu rumah penduduk yang masuk kedalam pengheliatannya, perlahan-lahan matanya mulai terasa berat. Perlahan ia mulai berkedip, dan jatuh kedalam gelap dengan suara nafas yang teratur dan tenang. Menghiraukan suara bising teman sekelasnya, tertidur dengan tenang untuk pertama kalinya.
***
"Akh!" Ia masih berada dalam tidurnya ketika sebuah tangan mulai menarik rambutnya, dengan beberapa tawa yang sudah tak asing di telinganya. Jimin membuka matanya dan terkesiap melihat sosok Jung Hee yang kini sudah duduk di sebelah kursi kosongnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Middle of the night
Fanfiction• Middle of the Night • Written by Ldy_rw Kookmin story | BL story Demon Jungkook | Human Jimin - Ia hanya ingin terbebas dari kecaman mematikan yang setiap harinya. Ia hanya ingin terlepas dari belenggu yang membunuh dan menghancurkannya. Ia hany...
