Kasur

1.2K 100 17
                                        



"Yah, kucingnya mengompol di kasur njuun!"
Soobin meneriaki yeonjun yang sedang ke kamar mandi untuk BAB. Tadi langsung kebelet setelah makan sarapan, tidak heran jika badannya tetap ramping walaupun makan banyak sekalipun. yeonjun juga anak yang hyperaktif sehingga tanpa olahraga berat pun kalori dalam tubuhnya otomatis terbakar.

Yeonjun yang tengah boker merengut kesal sambil berusaha untuk segera menuntaskan BABnya. padahal ia baru saja mengganti seprai nya 3 hari yang lalu, sayang sekali karena harus repot mengganti serta mencuci kembali, apalagi kasurnya berat.

Segera keluar setelah selesai BAB, yeonjun juga berkaca terlebih dahulu sebelum keluar kamar mandi, memastikan dirinya sudah cantik tanpa make up sebelum menghadap soobin lagi.

Cklek...
"Eh, lho?"
Yeonjun mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan di kamarnya. Tidak ada soobin dan hewan peliharaan yeonjun pun sudah berada di dalam kandang. Menyadari bahwa kasur di ranjangnya sudah raib, pasti soobin sedang menjemur kasurnya di luar. Keren sekali, membayangkan soobin membawa spring bed milik yeonjun yang berat itu sendirian ke bawah, yeonjun jadi memikirkan yang tidak-tidak. Membayangkan soobin yang manly tiba-tiba merengkuh tubuh kecil yeonjun sambil berputar-putar membuat yeonjun merinding di tempat, takut jika soobin tiba-tiba melempar tubuh kecilnya ke langit. Buru-buru yeonjun menggeleng, random sekali pikirannya, rada mesum juga.

Buru-buru yeonjun berlari ke bawah menyusul soobin. Tidak tega membiarkan soobin menggosok spring bad yang terkena kencing kucing sendirian, yeonjun merebut sikat yang ada di tangan soobin, mengambil alih menyikat kasur dan menyuruh soobin untuk duduk menunggu sampai yeonjun selesai membilas.

"uh, berat sekali hyuung..." keluh yeonjun sambil berusaha memindahkan kasur yang telah bersih ke tempat yang terkena panas matahari.

"Sini sini hyung bantu."
Mereka bersama-sama menjemur kasur, dengan soobin yang mengangkat bagian kasur yang berat karena basah. Untung saja kucingnya mengompol di bagian pinggir kasur, sehingga kasurnya tidak sulit untuk di bilas.

Yeonjun tertawa keras saat soobin tengah mengeringkan bed cover milik yeonjun ke pengering mesin cuci. Selalu berbunyi gotak gatek dan pengeringnya tidak memutar.
"Lagian enjun ngga bantuin ini, hyung kan ngga tau."
Rengek soobin tiba-tiba. Terlihat menggemaskan di mata yeonjun. Padahal tadi soobin sendiri yang mengusir yeonjun dari kamar mandi dan menyuruhnya untuk duduk menonton.

"Lagian tadi ngga mau di bantu sama enjun."
Yeonjun langsung berkacak pinggang di hadapan soobin.

Soobin pun memaksakan senyum. "Junie...my cutie, sweety, lovely...
,minta tolong ya. Soobin hyung ngga jago ngeringin pake mesin cuci nih."
Mohon soobin sambil sedikit merayu yeonjun dan berhasil, yeonjun terlihat malu-malu menghampiri mesin cuci dan memasukan bed cover ke dalam pengering dengan benar, tidak menggumpal dan rapi sehingga pengering bekerja dengan baik saat di putar.

"Waa, hebatnya..."
Puji soobin heboh membuat pipi yeonjun ngeblus, yeonjun kan suka sekali dipuji, apalagi akhir-akhir ini tidak ada yang memujinya, jadi sekali di puji serasa mau terbang.

"Beli rumah yuk jun."
Ajak soobin semangat.

"Rumah??"
Yeonjun membulatkan matanya, kaget saat soobin mengajaknya membeli rumah. Apa soobin ingin membeli tempat tinggal baru bersama yeonjun.

"Iya, rumah buat kucing njun."
Jelas soobin sebelum yeonjun salah mengartikan.

"Ah... Ehehe... Njun kira beli rumah beneran."

"Iya rumah kucing beneran, mau ngga jun?"
Tanya soobin sekali lagi.
"Pakai uang hyung kok belinya."
Lanjut soobin.

"Mauu!"
Yeonjun berseru kegirangan, hampir melompat-lompat di tempat jika saja tidak ada soobin. Kalo ada soobin mah njun malu, wajib jaga image. Takut soobin malah ilfeel dengan sikap asli yeonjun yang kadang berlebihan.

"Njun siap-siap dulu ya hyung, tungguin!"
Yeonjun berteriak dan berlari memasuki kamar, mencari baju yang bagus dan tidak lupa memakai make up tipis andalannya.
Sedikit menata rambut sebelum keluar menghampiri soobin yang tengah bertelepon.

"Bisa tunggu sebentar tidak? Saya ada kepentingan di luar, mungkin satu jam lagi saya bisa pak. Atau mungkin di alihkan ke yang lain?"

"Tidak ada dokter lain pak, semuanya sedang sibuk mengurus pasien."

Soobin melirik yeonjun yang tengah menunduk memainkan tas selempangnya. Tidak tega soobin membatalkan janjinya untuk membeli rumah kucing, apalagi yeonjun tampak sangat bersemangat tadi.

"Baik pak."
Putus soobin mematikan pangggilan.

"Yeonjunie..."

"Uhm?"
Yeonjun mendongak menatap soobin yang sudah berdiri di hadapannya. Tatapan polos yeonjun membuat soobin tidak tega untuk membuat alasan, yeonjun sudah sangat berharap, soobin merasa bersalah membuat yeonjun berharap, yang nyatanya harus soobin batalkan akibat jadwal soobin untuk melakukan operasi pada pasiennya di percepat.

"H-hyung...mm."
Soobin bingung membuat alasan yang sekiranya tidak membuat yeonjun kecewa. Tapi nyatanya mau apapun alasan soobin, membatalkan janji tetap saja akan membuat orang yang berharap akan kecewa. Walaupun saat kecewa tidak menunjukkannya secara langsung.

"Hyung harus ke rumah sakit ya?"
Soobin menatap wajah yeonjun, memastikan jika yeonjun baik-baik saja jika soobin menundanya.
"Sana hyung, sebagai dokter kan harus bertanggungjawab pada pasien."
Nasehat yeonjun sambil berusaha menguatkan hatinya sendiri, yeonjun tidak boleh menangis di saat-saat seperti ini, rasanya kurang tepat menahan soobin dengannya sedangkan di sisi lain sebuah nyawa sedang di pertaruhkan dan soobin harus memperjuangkan kesembuhan orang lain yang lebih membutuhkan.

Soobin tampak merogoh kantong saku celananya, mengambil berlembar-lembar uang untuk yeonjun. Yeonjun yang di beri uang menggeleng, menolak uang pemberian soobin.
"Jun... Ini buat beli rumah kucingnya."
Jelas soobin memaksa yeonjun untuk menerima uang pemberiannya. Mengambil tas selempang yeonjun dan meletakkan uangnya ke dalam tas.

"Hyung pergi dulu ya, kamu ngga papa kan hyung tinggal?"

Yeonjun mengangguk, mendorong soobin untuk segera keluar dari rumah.
"Buruan hyung."

"Oke oke."
Soobin melambaikan tangan kanannya pada yeonjun, tapi yeonjun sudah lebih dahulu menutup pintu depan rumahnya.

Soobin pun berusaha membiarkannya, walaupun dalam hati ia tahu jika yeonjun tengah kecewa. Tapi soobin dengan berat hati segera melajukan mobilnya keluar dari pagar rumah yeonjun menuju rumah sakit tempatnya bekerja.

Yeonjun sendiri sudah menangis di balik pintu menenangkan diri, merubah diri menjadi sosok tegar itu sulit menurutnya. Sisi emosionalnya membuatnya refleks menangis, dalam keadaan bahagia sekalipun.

Buru-buru yeonjun menyeka air matanya, memperingati diri untuk tidak menangis.
Sepertinya membawa tobin jalan-jalan adalah ide bagus, mumpung langit cerah dan tidak mendung, membawa tobin ke taman pasti menyenangkan.









jjunijun ˚‧º·(˚ ˃̣̣̥⌓˂̣̣̥ )‧º·˚

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

jjunijun ˚‧º·(˚ ˃̣̣̥⌓˂̣̣̥ )‧º·˚




















Dr. Soobin is My Americano||Soobjun|| ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang