Merah

928 83 13
                                        



Demam yeonjun tidak kunjung mereda selama 3 hari ini. Taehyung sampai bingung dengan anaknya. Siangnya sedikit membaik tapi malam harinya demam lagi.

"Coba kasih tau mommy mana yang sakit?"

Yeonjun hanya diam, air matanya menetes ke samping. Di salah satu lobang hidungnya tersumpal tisue, menahan darah mimisan agar tidak menetes ke bantal.

"Biar mommy panggilin dokter minhyuk ya?"
Tanya taehyung sambil mencari kontak nomor minhyuk untuk di hubungi.

"S-soobin hiks."
Cicit yeonjun sangat pelan tapi taehyung mendengarnya. Beralih menelepon soobin yang kebetulan langsung mengangkat telepon.



"Pusing ya?"
Tanya soobin sembari duduk di bagian samping ranjang. Telapak tangan besarnya mengusap-usap kepala yeonjun dengan lembut.
Yeonjun hanya diam tidak menjawab. Soobin itu tidak peka atau entah bagaimana, mungkin lupa karena terlalu sibuk, yeonjun tidak mau tau. Pokoknya ia akan menahan soobin agar tidak pergi.

"Udah makan?"
Pertanyaan soobin seperti angin lalu, tidak mendapat jawaban. Seolah berbicara dengan boneka cantik yang mirip manusia.

"Kemarin yeonjun kehujanan, katanya mau ketemuan sama nak soobin, tapi ngga jadi ya?"
Taehyung tiba-tiba berucap sambil meletakkan nampan berisi segelas susu dan secangkir kopi hitam, tidak ketinggalan sekotak pizza yang masih hangat ikut di sandingkan.

Soobin yang mendengarnya jadi merasa bersalah, harusnya soobin tetap datang ke cafe waktu itu, mungkin yeonjun tidak akan pulang kehujanan jika soobin menyusulnya menggunakan mobil.

"Ini dimakan ya? Soobin suka kopi kan? Mommy sengaja beli pizza biar yeonjun mau makan. Dari kemarin makannya dikit banget. Makan bareng soobin ya? Mommy keluar dulu."
Soobin tersenyum kikuk sebelum taehyung keluar, menggaruk rambutnya yang tidak gatal sebelum mengajak yeonjun makan. Sekarang soobin jadi tahu jika yeonjun sedang kesal padanya.

"Aaa..."
Yeonjun menepis tangan soobin yang menempelkan sepotong pizza pada bibirnya yang terkatup rapat, tidak semudah itu yeonjun menurut.

"Kopii..."
Rengeknya dengan lucu. Beranjak duduk dan mengambil cangkir kopi tanpa ragu.

"Eits, makan dulu!"

"Ngga mau pizza!! paitt!"

"Emang kopi ngga pahit ya?
Lebih pahit kopi lho padahal."
Sanggah soobin sambil menarik cangkir kopi dari tangan yeonjun dengan mudah, untungnya tidak sampai tumpah.

"Biasanya suka pizza hmm..."
Nyak nyak nyak nyak nyak ewnakk.
Suara kunyahan dari mulut soobin sangat mengganggu yeonjun, membuat yeonjun kesal hingga berniat memukul wajah soobin, tapi soobin tentu dengan mudah menahannya.

"Masih kecil ngga boleh nakal ya dek? Ntar pipi gembulnya ilang lho."

"Njun ngga gem-bwul."
Soobin dengan segera memasukan potongan pizza ke dalam mulut yeonjun.

"Enak kan? Hyung tau kalo njun laper lho."

Yeonjun cemberut dengan mulut penuh, mengambil kotak pizza dengan gerakan kilat. Rasa pizzanya tidak buruk, tidak terlalu pahit di lidah dan masih rasa pizza favoritnya.

"Pelan-pelan aja makannya, soobin ngga minta kok.
Habisin aja biar njun gemuk hehe."
Soobin terkekeh senang sambil sesekali mencubit pipi yeonjun.

Sedangkan yeonjun sendiri tampak tidak peduli dan memakan pizzanya dengan khidmat. Seperti anak yang sudah lama tidak di kasih makanan.

Soobin meminum kopi segera sebelum mendingin. Kopi itu nikmat di minum saat masih agak panas, segar di tenggorokan.
"Kwopii!!"
Teriak yeonjun membuat soobin tersedak, suaranya melengking sampai masuk telinga.

Dr. Soobin is My Americano||Soobjun|| ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang