Hadiah

779 93 8
                                        



"Happy birthday anak mommy..."
Seru taehyung dengan ekspresi semangat di balik layar ipad anaknya.

"Uhm..."
Yeonjun hanya menjawab seadanya karena masih mengantuk.

"Njun baru bangun tidur ya sayang?"
Taehyung terkekeh gemas saat anaknya mengucek kelopak matanya menggunakan tangan kecilnya yang tenggelam dalam balutan piyama kuning.

"Njun mau kado apa dari mommy?"

"Mau mommy."
Ucapnya dengan mata yang masih menyipit di tambah suara seraknya.

"Njun mau mommy pulang."
Ucapnya sekali lagi.

Hening cukup lama hingga ipad di hadapan yeonjun rubuh karena tertabrak yeonjun yang tidur kembali. Taehyung yang tidak tahu pun panik melihat layar yang berubah gelap dan hitam. Mencoba memanggil anaknya beberapa kali tapi masih tetap sama, tidak ada jawaban dan yeonjun juga sudah tertidur pulas kembali. Taehyung pun terpaksa mengakhiri panggilannya, permintaan yang sangat mudah tapi tidak untuk taehyung dengan jadwal padatnya.
Taehyung pun akan mencoba mencari tahu keinginan anaknya lewat pembantunya di rumah, siapa tau yeonjun pernah memiliki keinginan yang tidak taehyung ketahui.











***

"Binie yuun...
biniiee...
Biniie yun."
Yeonjun memanggil soobin beberapa kali di balik gerbang rumah soobin yang terkunci dan terlihat sepi.

"Sepertinya soobin masih di sekolah tuan."
Beritahu sopir yang mengantar yeonjun ke rumah soobin.

"Belum pulang?"

"Sepertinya belum."

"Belalti njun pulang lagi, njun nda ada teman."
Sesalnya sambil melangkahkan kaki kecilnya kembali ke dalam mobil untuk pulang. Selama ini teman yeonjun memang hanya soobin dan dokter minhyuk.

"Paman, cekolah itu enak nda ya? Apa njun kalo cekolah bica dapat teman?"

"Pasti tuan punya banyak teman. Tuan yeonjun kan lucu dan imut, pasti semua orang akan suka."

"Njun boleh cekolah nda ya? Paman, njun ingin cekolah bial ada teman."

"Tuan yeonjun ingin sekolah? Nanti biar paman kasih tahu tuan jungkook."

"Pasti nda boleh."
Yakin yeonjun karena dirinya yang belum cukup umur untuk masuk tk.

"Pasti boleh, tuan kan anak pintar."

















***

3 bulan setelahnya...

"Tuan, sarapan dulu."
Seru pembantu di rumah yeonjun yang sudah menyiapkan sarapan pagi untuk tuan mudanya yang akan memulai sekolahnya hari ini.

"Tapi nanti njun telat."

"Engga kok, ini masih pagi. Sekolahnya masih tutup tuan."

Yeonjun pun mengangguk dan menurut untuk sarapan.
Yeonjun terlalu semangat saat mendapatkan paket perlengkapan sekolah dari daddynya. Mulai dari seragam, alat tulis, tas, sepatu, kotak makan dan botol minum bergambar pororo kesukaannya. Sekolah pun sudah di daftarkan oleh jungkook, jadi yeonjun bisa langsung bersekolah.



















"Paman pulang dulu aja."

"Beneran? Tuan ngga takut kan? Kalo ada apa-apa bilang sama gurunya ya."

Yeonjun mengangguk dan langsung memasuki sekolah yang masih terlihat sepi, baru ada satu anak yang sudah duduk tenang di dalam kelas. Yeonjun pun ikut duduk di dekat anak itu tanpa ragu. Ingin mengajak berkenalan tapi yeonjun si pemalu tidak berani bersapa lebih dulu, apalagi anak di sebelahnya tampak diam.

"Hai, anak baru ya?"
Suara anak tadi memecahkan keheningan. Yeonjun pun menghentikan kakinya yang sedari tadi ia gerak-gerakan pada lantai, menoleh dengan menunjukkan raut wajah yang lucu seperti kaget.

"Aku beomgyu, namamu?"
Anak tadi menyodorkan tangannya pada yeonjun, dengan segera yeonjun membalasnya.
"Yonjun."
Cicit yeonjun dengan suara kecil malu-malu membuat anak di hadapannya dengan berani mencubit pipi yeonjun.

"Yonjun jadi teman gyu ya?"

"Gyu?"

"Iya, panggil gyu aja njun."





















"Anak-anak, sudah selesai semua menggambarnya? Ayo kumpulkan."
Bu guru menyuruh anak-anak untuk menggambar sebisanya di sebuah kertas gambar.

"Njun belum selesai?"
Tanya beomgyu pada yeonjun yang tengah serius mewarnai gambarnya sendiri.
"Biar gyu tungguin."

"Gyu kumpul gambalnya duluan aja, njun lambat."

"Biar gyu tungguin, kita kumpulin bareng ke depan hehe."
Paksa beomgyu sambil memperhatikan yeonjun yang tengah mewarnai.

"Sebental ya."
Yeonjun mempercepat kegiatannya mewarnai gambarnya sendiri.

"Ayo anak-anak, kalo sudah selesai semua bisa langsung pulang."

Semua anak sudah mengumpulkan gambarnya ke depan, kecuali beomgyu dan yeonjun.
Yeonjun hampir menangis saat ada beberapa anak yang mengolok-oloknya.

"Lama banget si, tinggal nunggu satu anak, lambat."

"Langsung kumpulin aja, ngga bakal dinilai paling."

"Lagian gambar apa si? Lama banget, aku yang gambar banyak aja udah selesai."

"Gambarnya jelek gitu, tapi lama banget."

"Percuma gambar jelek."

"Buruan dong, kelas sebelah udah selesai dari tadi."

"Sstt."
Beomgyu menyuruh anak-anak tadi diam, mereka menyebalkan sekali. Beomgyu rasanya ingin memukulnya satu-satu jika tidak ada guru di depan.

"Njun udah selesai?"
Yeonjun mengangguk dan menunggu beomgyu berdiri dan menyuruh beomgyu berjalan duluan ke depan.
Yeonjun di belakangnya mengikuti beomgyu dengan menunduk takut-takut, yeonjun merasa tidak di sukai oleh teman-teman sekelasnya.

Tadi ada salah satu anak yang mendorong tubuh kecilnya ke samping, untung saja yeonjun bisa menahan bobotnya sendiri sehingga tidak jatuh. Jika tidak, pasti sudah di tertawakan karena terjatuh dengan tidak elit.

Bu guru tiba-tiba membagikan formulir pada anak didiknya satu-satu.
"Anak-anak, besok kita ada kunjungan ke kebun binatang. Nanti formulirnya di isi oleh orangtuanya ya."

"Iya bu guru."

"Sudah ada yang pernah ke kebun binatang?"

"Sudah."

"Belum buu."

"Nah, besok kita akan ke kebun binatang lho. Semangat ya anak-anak, formulirnya  langsung di masukkan tas biar tidak hilang ya? Jangan lupa besok bawa bekal dari rumah ya."

Anak-anak serempak memasukan formulir pemberian guru tadi ke dalam tas masing-masing dan mereka langsung di perbolehkan untuk pulang.
Tidak lupa bersalaman terlebih dulu pada guru sebelum keluar kelas.







































"Bagaimana sekolahnya tuan? Asik ya?"
Yeonjun yang mendengar pertanyaan pak sopir di sampingnya hanya tersenyum tipis kemudian mengalihkan pandangannya ke luar jendela saat mobil yang di tumpanginya mulai berjalan.

Sebenarnya yeonjun tengah kecewa. Sekolah ternyata tidak semenyenangkan apa yang ia bayangkan selama ini. Banyak teman yang jahil dan tidak menyukai yeonjun. Yeonjun pun hanya bisa diam, berusaha untuk tidak menangis agar tidak di bilang cengeng.





















Dr. Soobin is My Americano||Soobjun|| ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang