Bangun

840 81 13
                                        

Yeonjun melenguh pelan, membuka mata sambil mengedarkan pandangannya di ruangan yang tampak berbeda dari ruangan sebelumnya, yakni kamar kecil milik soobin.
Mengangkat tangannya saat merasakan ada benda yang melekat di punggung tangan, itu infusan.
Mata yeonjun seketika membulat terkejut, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

"Njun udah bangun?"
Soobin datang menghampiri yeonjun, memeriksa keadaan yeonjun sambil mengelus pipinya dengan lembut.
Yeonjun yang di perlakukan seperti seorang pasien merasa bingung, bukankah tadinya yeonjun hanya tidur. Tidak sadar jika tiba-tiba sudah seperti pasien rumah sakit dengan bajunya yang sudah terganti dengan seragam biru muda khas pasien yang tengah di rawat.

"Njun kemarin pingsan, udah soobin goyang-goyang tapi njun ngga bangun-bangun."
Jelas soobin sambil mengelus punggung tangan yeonjun yang terbebas dari infus.

"P-pingsan?"
Tanya yeonjun dengan suara serak.

"Iya, kemarin pas hyung mau ajak njun pulang njun ngga bangun-bangun."

Yeonjun mendadak panik, berusaha beranjak dari ranjang, tapi soobin menahannya.
"Mau kemana?"

"Mommy...mana?"
Tanyanya kebingungan.

"Tante taehyung lagi kerja."

"Jangan kasih tau orangtua enjun!"
Tegasnya dengan lucu, kembali berbaring dengan tenang mengetahui fakta jika orangtuanya tidak tahu. Yeonjun paling tidak suka jika membuat orangtuanya khawatir dan sedih, tidak suka juga jika orangtuanya mulai mengasihaninya.

"Tenang aja ngga hyung kasih tahu kok."

"Beneran?"

"Iyaa, ngga percayaan banget kamu mah. "

"Hm..."

"Pusing ya?"
Tanya soobin saat melihat yeonjun yang meringis sambil memejamkan mata.

"Harusnya njun kemarin istirahat aja, sakit lagi kan sekarang!"
Nasehat soobin dengan tegas, semata-mata agar yeonjun menurut dan tidak ngeyel lagi.

Soobin mengelus-elus dahi yeonjun yang terasa panas kembali.
"Tuh, panas lagi kan badannya." Tegas soobin sambil terus mengelus dahi yeonjun dengan lembut dan pelan.

"Kemarin udah sembuh kok."
Sangkal yeonjun cepat sambil sedikit menyipitkan matanya menatap soobin yang memandangnya datar.

"Iya, tapi kecapean lagi. Harusnya istirahat dirumah, nunggu sampe bener-bener udah sehat."
Yeonjun hanya diam, tidak mau menyangkal perkataan soobin yang makin lama tidak enak didengar, ditambah denyutan di kepalanya yang semakin menjadi saat membuka mata. Yeonjun memejamkan matanya sambil berbaring miring, menghindari omelan soobin yang mendadak terdengar seperti emak-emak rempong.






"Bagaimana hasilnya rin?"
Tanya soobin selepas menemani yeonjun agar tidur kembali. Soobin langsung menanyakan hasil tes lab kemarin.

"Bin, anu mungkin kita harus tes ulang, sepertinya ini salah."

"Coba liat dulu. Tidak mungkin salah kok, kenapa memang nya?"

"Y-yeonjun terkena leukimia akut bin."
Beritahu arin sambil menunjukkan kertas hasil tes lab yeonjun yang keluar.

"Ah, masa si? Bukan tipes? Kayaknya harus cek ulang deh ini, keluarga yeonjun ngga ada yang punya riwayat leukimia."
Sangkal soobin setelah melihat kertas laporan, meremat pinggiran kertas dengan kuat hingga merobeknya berkali-kali. Soobin menangis sambil menutupi wajahnya sendiri, kejadian yang sama persis saat soobin mendengar diagnosis ayahnya saat itu, ibu soobin meninggal akibat leukimia akut yang baru terdeteksi saat ibu soobin bahkan sudah menunjukkan tanda-tanda hampir sekarat sebelum akhirnya meninggal karena telat penanganan.
Ibu soobin menghembuskan napas terakhirnya bahkan sebelum terapi leukimia pertamanya.

Berlari menuju ruang rawat yeonjun dan soobin langsung mendekap tubuh ringkih itu dengan posesif, membuat tubuh kecil itu mengeliat pelan, sedikit membuka kelopak matanya.
"Hyu-"

Cup
Soobin mengecup bahu yeonjun sambil ikut merebahkan diri di sampingnya. Menyuruh yeonjun untuk tidur kembali dengan menepuk-nepuk pinggangnya pelan.
"Sempit." Rengek yeonjun sambil menyikut dada soobin di belakangnya, merasa tidak nyaman sama sekali, jantung yeonjun malah berdisco ria saat ini.

"Yeonjun..."

"Hm. Apa?"

"Mm, hyung pengin bobo bareng."

"Usap kepala njun dong."
Perintah yeonjun sambil memindahkan tangan soobin yang tadinya di pinggang berpindah ke kepala, sangat nyaman.

"Jangan salahin njun kalo hyung ketularan sakit."
Ingat yeonjun sebelum tertidur pulas. Soobin langsung memeluknya dari belakang, menyembunyikan wajah sembabnya dengan menduselkan wajahnya pada pundak kecil yeonjun yang tenang. Soobin akan terus menemani sosok kecil lugu di hadapannya dan memastikan yeonjun segera sembuh.



***

"Hyung, njun kapan pulang?"
Tanyanya lirih, bahkan di saat sedang lemah pun yeonjun malah meminta pulang. Kondisinya semakin mengkhawatirkan dengan bibirnya yang bertambah pucat dan kering.
"Badan njun sakit semua hiks." Keluhnya kasian.
Soobin bahkan sedari tadi hanya diam, tidak berniat menjawab. Terus menyeka tubuh kurus yeonjun dengan air hangat.

"Njun"
Panggil soobin selepas menyelesaikan membersihkan badan yeonjun yang lengket karena keringat.

"Hm, pulang?"
Tanya nya antusias.

"Bukan."

"Kok njun lama banget di sini? Padahal cuma demam." Lirihnya di akhir.

"Yeonjun mau kemoterapi kan?"
Tanya soobin to the point.

"Huh? Terapi ikan?"

"Mau saja ya?"
Tanya soobin balik.

Yeonjun mengangguk semangat, seumur-umur baru kali ini yeonjun diajak untuk terapi, pasti geli menyenangkan saat kakinya di geromboli ikan-ikan kecil.



"Yeonjunie sudah siap?"
Tanya dokter paruh baya bernametag jaehwi yang tengah menyiapkan suntikan.
Yeonjun mengedipkan mata bingung melihat jarum suntik berukuran cukup besar yang tengah di masuki cairan dari botol.
"Ikannya mana dok?"
Tanya yeonjun bingung, sambil sesekali melirik soobin yang terus mengalihkan pandangannya dari yeonjun.
"Oh, ikan?
Ikannya mana bin?"

Soobin hanya menggeleng dan menyuruh jaehwi untuk melakukannya dengan cepat.
"Ikannya sedang di masak dulu ya, biar bisa di makan."

"Njun kan mau terapi ik-akh."
Yeonjun menggigit bibirnya saat jarum suntik menembus kulitnya. Sensasi tidak nyaman perlahan menjalar hingga ke seluruh tubuh.
Tangan yeonjun meremat genggaman soobin dengan kuat, menyalurkan rasa sakit. Keringat dingin mengalir deras dari pelipis.
Yeonjun kepayahan hingga jatuh pingsan karena menahan rasa sakit.









Yeonjun menghela napas lemah di pelukan soobin. Sudah terhitung 4 kali yeonjun muntah hingga tidak ada yang bisa ia keluarkan lewat mulutnya, perutnya sudah kosong dari makanan. Hingga rasa menyakitkan seperti menekan-nekan dan menusuk di dalam rongga perut semakin menjadi. Kemoterapi memang menyebabkan efek samping yang cukup parah hingga yeonjun bahkan kini terlihat lebih pendiam. Menahan sakit sambil sesekali merintih saat gejolak rasa sakit terasa menghunjam kuat.

"H-hyung?"

"Hum? Tidak kuat?"

"Njun sakit keras?"
Tanyanya serius.

"Tidak kok, yeonjun bentar lagi sembuh."

"Bohong."
Sangkal yeonjun sambil menyingkap lengan bajunya ke atas, memperlihatkan lengan tangannya yang memerah bercampur biru dan keunguan seperti lebam.
"Ini kenapa?"
Tanya yeonjun penasaran sambil menyodorkan lengan tangannya ke arah soobin dengan takut-takut. Lengannya terlihat mengerikan karena terdapat bekas lebam cukup banyak yang tidak tahu asalnya dari mana. Seharian ini yeonjun hanya tidur sambil sesekali terbangun karena kesakitan.

Cup
"Yeonjun pasti sembuh."
Ucapnya sambil kembali mengecup punggung tangan yeonjun cukup lama.
















Dr. Soobin is My Americano||Soobjun|| ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang