"Daddy bohong!"
Yeonjun berteriak kesal saat mendengar daddynya mengangkat telepon dari teman kantornya. Ada hal penting yang tidak bisa jungkook titipkan pada sekretarisnya, harus jungkook yang turun tangan. Jadi jungkook terpaksa harus pergi kembali meninggalkan yeonjun yang sudah menangis di dalam kamar.
Yeonjun mengunci pintu kamarnya dari dalam. Bisa jungkook dengar suara tangisan anaknya yang tidak kunjung berhenti sejak pulang dari taman bermain tadi.
"Njun, daddy pamit dulu ya, maafin daddy."
Ucap jungkook menyesal, jungkook sudah menghancurkan kepercayaan anaknya sendiri padanya. Pasti setelah ini yeonjun tidak akan percaya lagi pada janji yang jungkook beri.
Yeonjun menutup rapat telinganya, tidak mau mendengar alasan daddynya lagi. Sampai suara jungkook menghilang dari arah pintu dan jungkook terpaksa meninggalkan anaknya tanpa mendapatkan ijin.
Yeonjun tiba-tiba menyesalinya, menyesal karena tidak melihat jungkook sebelum pergi. Semakin kalap saat mendengar suara mobil ayahnya yang baru dinyalakan.
Dengan terburu-buru dan susah payah yeonjun berusaha membuka pintu yang tadi di kunci olehnya, sangat sulit di putar karena terlalu panik.
Saat pintu berhasil terbuka, mobil jungkook sudah keluar dari pekarangan rumah, tapi yeonjun tetap berlari mengejarnya.
Beberapa kali yeonjun terjatuh karena tidak memperhatikan jalan dengan benar dan karena pandangannya yang terhalang oleh air matanya sendiri yang terus meluncur.
"Daddy hiks dad... Daddy... Becok hiks njun ulang tahun hiks... Dad...hiks."
Yeonjun duduk di pinggir jalan sambil memukul-mukul kakinya yang sudah tidak bisa ia bawa berlari. Mobil daddynya sudah tidak terlihat dan yeonjun merasa sangat kehilangan. Untung saja pembantu rumah mengejar yeonjun sehingga yeonjun pulang di antar oleh pembantunya.
***
Minhyuk mengobati kaki yeonjun yang lecet dan berdarah karena jatuh berkali-kali saat mengejar mobil jungkook sore hari tadi. Yeonjun sudah tidur tenang di atas ranjang dengan mata sembabnya karena menangis terlalu lama. Badannya terasa hangat saat di sentuh, jadi minhyuk memakaikannya plester penurun demam sebelum demamnya naik.
"Soobin."
"Ya yah?"
"Jagain njun dulu ya, ayah mau nyiapin sesuatu. Nanti kalo ada apa-apa langsung telpon ayah aja."
"Siap."
Soobin pun duduk di samping ranjang yeonjun sambil memainkan game di hpnya.
***
"Binie yun? Njun mau di bawa kemana? Cudah malam, gelap."
Yeonjun bertanya-tanya heran saat soobin menggendongnya dan membawanya keluar dari rumah saat malam hari.
"Ada deh."
Yeonjun mempererat pelukannya pada leher soobin saat mulai merasa dingin akibat terpaan angin malam yang berhembus sedikit kencang. Plester penurun demam pun masih tertempel di dahinya.
"Njun duduk di sini sebentar ya."
Pesan soobin saat sudah mendudukan yeonjun di atas kursi besi yang berada di tempat yang gelap, hanya terlihat bayang-bayang hitam di sekitarnya. Yeonjun sangat takut saat soobin melepaskannya dan tiba-tiba menghilang.
"Binie yuun! Yuun!"
Ctek
Tiba-tiba lampu-lampu kuning dan kerlap kerlip menyala di sekeliling yeonjun dengan sangat terang.
"Selamat ulang tahun yeonjuniee~~"
Yeonjun membulatkan matanya, kagum saat melihat dokter minhyuk dan soobin yang sudah ada di hadapannya membawa kue ulang tahun.
"Ayo tiup lilinnya njun."
Seru soobin sambil menyodorkan kue ulang tahun di hadapan yeonjun untuk memudahkan yeonjun meniup lilin.
Yeonjun pun meniup lilinnya dengan semangat.
"Telimakasi dotel, binie yun."
Cicitnya sambil mengecup pipi minhyuk dan soobin yang berjongkok di hadapannya. Imut sekali karena setelahnya yeonjun malah menunduk malu-malu.
"Enak tidak kuenya njun? Ini dokter minhyuk yang bikin lho."
Beritahu minhyuk saat yeonjun tengah memakan kue dengan lahap, bibir kecilnya di penuhi krim roti karena minhyuk menyuapkannya dengan suapan besar.
"Jangan bohong yah, inikan beli di toko tadi."
Nasehat soobin saat tahu ayahnya baru membeli kue sore tadi.
"Enak kok, kuenya lucu hihi. Njun cuka gambal pololo."
Serunya antusias membuat minhyuk tersenyum lebar, yeonjun ternyata sangat menyukai kue pilihannya. Tidak sia-sia ia membelikannya dengan harga mahal karena berebut dengan salah satu pembeli yang saat itu juga berniat ingin membeli kue yang sama.
"Dotel sama binie yun halus coba kuenya, jangan liat njun telus. Ini enak lho, njun nda boong."
Yeonjun menyendok potongan kue dan menyuapkannya secara bergantian pada soobin dan minhyuk.
Sepertinya yeonjun sudah melupakan daddynya yang pergi saat sore hari tadi, terlihat ceria dan antusias di temani obrolan minhyuk dan soobin yang terkesan seperti saling adu omongan. Yeonjun pun hanya terkekeh dan tertawa sebagai pendengar, kadang juga bingung karena tidak paham dengan keduanya.
"Ayah tidurnya jangan mepet-mepet ke tengah, kasian enjun sempit."
Soobin memberikan protes saat tahu ayahnya tidur terlalu ke tengah.
Minhyuk pun membela diri.
"Ranjangnya kecil, jadi ngga muat. Kamu ngga tahu ini ayah udah di pinggir bin?"
Minhyuk sedikit keras saat mengucapkannya membuat yeonjun bergerak gelisah saat tidur.
"Ssht... Jangan berisik!"
Keduanya saling berbisik.
"Pololo pololomh."
Minhyuk dan soobin tertawa dalam diam mendengar yeonjun yang mengigau, ranjang yeonjun pun sedikit berbunyi krek karena menahan bobot tambahan 2 orang yang bongsor, sudah tahu ranjang anak kecil tapi mereka memaksakan diri untuk ikut menemani yeonjun tidur agar tidak kesepian dan sedih lagi. Untung saja ranjangnya tidak ambruk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dr. Soobin is My Americano||Soobjun|| END
FanfictionDisaat orang lain berdoa untuk selalu sehat, yeonjun adalah anak unik yang berdoa agar dirinya sakit. "Aku ingin sakit demi bertemu dengan Dr. Soobin." Start : 9 September 2023 End : 14 November 2023
