#edit (Aku akan merubah beberapa alur cerita ini, karena menurutku ceritanya jadi mengambang)
.
.
.
.
.
"Ibunda!"
Tiba-tiba Benjamin keluar dari dalam lemari. Sontak Pauliana dan pelayannya terkejut.
"Kamu membuat Ibu terkejut, bagaimana bisa kamu masuk kedalam sana?" Tanya Pauliana sambil mengusap pundak putranya.
"Aku tadinya ingin memberi kejutan, tapi karena sudah ketahuan makanya langsung keluar." Terang Benjamin sesantai mungkin agar Ibunya tidak curiga.
Sebenarnya Benjamin tidak sepenuhnya bohong. Ia ke kamar Ibunya memang ingin menyampaikan kejutan, karena bertemu Rosela Ia jadi ikut bersembunyi juga.
"Oh ya? Kejutan apa?" Tanya Ibunya.
"Aku baru saja selesai membuat lukisan taman yang indah untuk Ibunda." Ucap Benjamin.
"Putraku memang tampan dan berbakat. Lantas dimana lukisan itu sekarang? Kenapa Ibu tidak melihatnya," Tanya Pauliana antusias, Benjamin memang sering memberikannya lukisan, dan Pauliana senang dibuatnya. Ia sudah mendukung bakat melukis Putranya dari kecil.
"Ada di kamarku. Karena belum kering makanya tidak aku bawa. Dan, aku mau mengajak Ibunda melihatnya." Ajak Benjamin sekaligus memberi celah bagi Rosela untuk keluar.
"Apa kami boleh ikut, Pangeran?" Tanya pelayan tua itu, Ia juga penasaran dengan lukisan Benjamin.
"Tentu saja." Balas Benjamin dengan senang hati. "Lebih baik kita segera pergi ke kamarku." Sambung Benjamin.
Benjamin sangat menyayangi Ibunya begitu pun sebaliknya, tapi yang dia bingungkan kenapa Ibunya tidak suka dengan Dietrich, juga sebaliknya Dietrich selalu terlihat tidak suka jika bertemu dengan Ibunya. Sebenarnya ada apa di antara mereka sampai tidak suka seperti itu, Benjamin masih penasaran hingga saat ini. Tapi, ia juga takut untuk bertanya kepada mereka.
Ketika mendengar langkah kaki mereka menjauh, Rosela baru memberanikan diri untuk keluar dari lemari. Ia mengawasi sekitar, takut jika ada pelayan yang masih berada di kamar itu. Dan, setelah aman, ia beranjak keluar dari sana. Untungnya pengawal maupun pelayan yang lewat di luar kamar tidak mencurigainya. Jadi, Rosela bisa balik ke Istana Dietrich dengan aman.
👑👑👑
Setibanya di istana Dietrich, Rosela mendengar kabar kepulangannya. Tanpa menunggu, Ia langsung pergi menemui Dietrich ke ruang kerjanya. Rosela ingin menceritakan apa yang terjadi hari ini serta ingin memberikan botol racun yang dicurinya kepada Dietrich, juga ingin memberitahukan siapa itu Dalton.
Namun, ketika masuk ke ruang kerja Dietrich, kedua lengan Rosela malah di pegangi oleh dua orang pengawal istana didepan Dietrich dan Dalton. "Ada apa ini? Lepas!" Berontaknya.
Sepertinya firasatnya benar, pasti saksi itu sudah tiada. Dan, Dalton pasti menuduhnya penghianat makanya Dietrich menahannya saat ini.
Dietrich tetap duduk di kursinya sambil menatapi Rosela. Tapi Rosela tidak bisa menebak tatapan apa yang diberikan Dietrich, apakah rasa kecewa atau amarah. Lagi-lagi ekpresinya tidak bisa Rosela baca.
"Apa benar kau mata-mata Ratu?" Tanya Dietrich.
"Tidak! Aku bukan mata-mata Ratu, tapi dia!" Rosela mengarahkan pandangan ke Dalton karena tangannya dikunci. dak habis pikir.
"Beraninya kau menuduhku! Tahan Perempuan itu di penjara!" Perintah Dalton marah, lalu kedua pengawal itu langsung menariknya untuk pergi. Melihat Dietrich diam ketika dirinya di perlakukan tidak adil begini membuat hati Rosela sakit. Setidaknya Dietrich mendengar penjelasannya dulu, bukan malah mendengar si Dalton bajingan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Am I a Villain
FantasyReinkarnasi di dunia isekai jadi tuan putri atau bangsawan? Mana enak! Jadi budak lah... Itu semua adalah hal yang dirasakan oleh Rosela. Seorang perempuan berusia 19 tahun yang hendak pulang kerumahnya malah ditabrak truk. Dan masuk kedunia novel...
