Sedari pagi Ella sibuk membereskan barang-barang yang akan dibawa ke Istana, karena mulai sekarang Yesenia akan tinggal di Istana sampai acara pernikahannya. Walau sudah menolak, tapi Yesenia tidak bisa membantah perintah Ayahnya. Seakan tubuhnya tidak bisa melawan.
"Aku tidak mau!" Tangisnya. Yesenia tipe manusia yang mudah menangis, apalagi disaat hatinya tidak bisa menerima keadaaan, air matanya langsung bercucuran. Tapi sisi ini hanya ia tunjukkan di depan Ella. Ella pun terkejut melihat sikapnya, pasalnya Yesenia dulunya tidak pernah terlihat menangis sekalipun walau kadang menghadapi Ibu tirinya.
"Nona harus bertahan, bagaimana pun takdir Anda adalah menikahi Pangeran Benjamin." Ucap Ella sambil menepuk-nepuk bahu Yesenia pelan untuk menenangkannya.
Yesenia menggeleng, "aku tidak mau menikah! Mau itu sama Pangeran ataupun yang lain!" Rengeknya.
"Yaa... kabur pun tidak mungkin." Celetuk Ella pelan, namun terdengar oleh Yesenia.
Yesenia langsung menyeka air matanya, "ide bagus, kita kabur saja!" Ucapnya.
"Anda gila?!" Pekik Ella.
"Kenapa?"
"Tidak mau! Leherku bisa putus jika membantu Nona kabur." Protesnya.
"Aku tidak tahu."
"Jangan pernah berpikiran untuk kabur, karena hidup Saya ada di tangan Anda." Tegas Ella.
Akhirnya Yesenia berhenti tantrum, dan menerima semuanya.
Antony tiba-tiba masuk kedalam kamarnya.
"Kenapa matamu?" Tanyanya ketika melihat mata Kakaknya merah dan berair. "Jangan bilang kau habis menangis,"
"Jangan sok tahu! Siapa yang nangis!" Protes Yesenia.
"Dasar anak kecil," decak Antony, lalu pergi begitu saja.
"Kebalik!" Seru Yesenia tidak terima.
"Apa-apaan bocah itu, tiba-tiba datang lalu pergi begitu saja." Decaknya.
Dari luar Antony tersenyum mendengar ocehan Kakaknya. Entah sejak kapan dia tertarik dengan Kakaknya, mungkin semejak Yesenia jatuh sakit. Antony yang selama ini melihat manusia kejam dan tangguh seperti Yesenia tiba-tiba jatuh sakit dan lemah membuatnya merasa iba.
Apalagi ia melihat sikap Kakaknya yang berubah drastis, menjadi lebih pendiam dan baik di mata para pelayan. Semakin membuatnya penasaran. Ketika ia ingin menemui Yesenia untuk bertengkar seperti kebiasaan mereka, Antony malah mendengar Kakaknya itu menangis ketika berdiri di depan kamarnya.
Yesenia tidak mau menikah. Ternyata Kakaknya itu benar-benar telah berubah. Karena selama ini satu kerajaan pun tahu jika Yesenia tergila-gila dengan Benjamin, kenapa disaat keinginannya terkabulkan Ia malah tidak mau dan menangis dalam kamarnya.
"Aku jadi prihatin," gumam Antony.
👑👑👑
"Berhenti sebentar," Ucap Rosela ketika melihat anak kecil berambut coklat bermata biru.
KAMU SEDANG MEMBACA
Am I a Villain
FantasyReinkarnasi di dunia isekai jadi tuan putri atau bangsawan? Mana enak! Jadi budak lah... Itu semua adalah hal yang dirasakan oleh Rosela. Seorang perempuan berusia 19 tahun yang hendak pulang kerumahnya malah ditabrak truk. Dan masuk kedunia novel...
