Bab 17 : Kenyataan.

240 12 2
                                        

"Aku mau keluar dulu, aku lelah ditatapi oleh mereka." Bisik Rosela. Felix yang berdiri di sampingnya hanya bisa tersenyum kecil. "Apa perlu saya temani?" Tanyanya sekedar basa-basi, karena Ia memang di suruh Dietrich untuk menjadi partner sekaligus penjawal Rosela.

Rosela menggeleng, "aku cuma sebentar," tolaknya.

"Baiklah, aku akan menunggu disini."

"Oke."

Setelah meninggalkan Felix, Rosela menuju ke arah balkon lantai dua. Dia ingin menyendiri dari hiruk pikuk pesta. Namun, sesosok bayangan Pria berambut hitam yang duduk di kursi taman mengalihkan pandangannya.

"Dietrich," ucapnya pelan.

Dan, ketika Rosela ingin memanggilnya, tiba-tiba Estela datang dari arah berlawanan. Sepertinya wanita itu memanggil namanya, karena dilihat dari reaksi Dietrich yang langsung menoleh ke arah Estela.

Mereka pun duduk di bangku taman dengan posisi membelakangi Rosela yang berdiri di balkon lantai dua. Rosela pun merasa dirinya seperti penguntit yang ingin mendengar percakapan kedua orang tersebut.

"Kapan kau akan mengusir wanita itu?" Tanya Estela tanpa basa-basi.

Jantung Rosela berdetak kencang mendengar pertanyaan Estela, apa Dietrich bilang pada Estela bahwa dia ingin mengusir Rosela? Jika benar itu berarti Dietrich menang tidak memiliki perasaan apapun padanya.

Apa yang aku harapkan? Dasar bodoh.

Kening Dietrich berkerut, "apa maksudmu?" Tanyanya, Ia juga bingung darimana Estela mendengar kabar tersebut.

"Aku tahu kau sedang mencarikan tempat tinggal yang layak untuknya. Lebih cepat lebih baik, karena aku dengar rumor jika kau dan dia menjalin hubungan." Ungkap Estela setelah berusaha mengeluarkan isi hatinya.

"Itu hanya rumor." Balas Dietrich datar.

Rosela sendiri hanya diam mendengar percakapan mereka. Di dirinya ada rasa ingin tahu tapi juga ada perasaan takut. Takut mendengar kenyataan.

"Oleh karena itu kau harus segera mengelurkannya dari istana, kau tahu sendiri pernikahan kita akan di gelar tahun depan. Aku tidak mau menjadi bahan gunjingan kelas atas." Keluh Estela. Ia lelah menjadi pusat perhatian belakangan ini karena rumor Dietrich dan Rosela. Apalagi ada bangsawan wanita yang malah mengasihaninnya, Estela semakin benci.

"Dia tamuku, dan aku akan mengurusnya."

"Oh, benarkah? Tapi, aku merasakan lebih dari itu." Ucap Estela masih tidak percaya, di telinganya Dietrich hanya bermulut manis saja.

Dietrich merasa jika percakapan mereka tidak ada gunanya, oleh karena itu Ia langsung bangkit dan berdiri. "Estela, aku sudah bilang bahwa kita adalah pasangan yang sempurna untuk urusan politik dan kerajaan, tapi untuk urusan pribadi yang berkaitan dengan perasaan itu urusanku." Jelasnya, dan melangkah pergi.

"Jadi kau benar-benar menyukainya?" Tanya Estela memastikan.

Dietrich pun menghentikan langkahnya dan menghela nafas. "Untuk jawabanmu itu, tidak. Apa kau puas?"

Estela tersenyum senang, sepertinya rasa khawatirnya mulai berkurang. "Syukurlah jika seperti itu. Oh, apa kau mau aku bantu mencarikan tempat tinggal untuknya?" Tawarnya.

Am I a VillainCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang