Satu bulan kemudian. Tepat di hari pertunangan Yesenia dan Benjamin. Pagi harinya, Rosela dikejutkan oleh kedatangan dua pelayan dari Dietrich dan Benjamin. Mereka mengirimkan gaun untuknya. Gaun Dietrich bewarna biru malam campur krem, sedangkan gaun Benjamin bewarna merah.
Rosela pun bingung ingin mengenakan yang mana, karena dua-duanya bagus. Tapi, hatinya lebih condong ke gaun Dietrich. "Bagaimana menurutmu?" Tanyanya kepada Riri.
"Gaun Pangeran Dietrich saja,"
"Baiklah," ucap Rosela, ternyata selera mereka sama.
Namun, kendala yang dirasakan Rosela adalah ketika hendak mengenakan Gaun tersebut.
"Tarik nafas dulu." Perintah Riri sambil menarik tali korset gaun Rosela.
"HAAAHHH...." helaan nafasnya. Ternyata menjadi cantik itu sulit. Lihat saja dirinya tersiksa mengenakan korset agar terlihat sempurna. Mungkin karena novel ini berlatar kerajaan masa lampau. Coba di dunianya sekarang, punya perut buncit pun banyak yang suka.
Riri berdecak. "Kenapa tubuh anda jadi membesar begini? Padahal gaun ini sesuai dengan ukuranmu." Keluhnya.
"Apa kau tidak salah memberikan ukuran gaunku kepada Dietrich. Apa kalian berencana membunuhku dengan gaun sempit ini." Rutuk Rosela kesal. Karena Dietrich dan Benjamin menanyai ukuran gaun Rosela sebelum mereka memesan gaun untuknya.
Riri memutar kedua bola matanya kesal. "Bukan gaun yang salah. Salahkan mulut anda yang tidak berhenti makan. Apalagi semalam anda makan kue pemberian pangeran Benjamin." Balas Riri.
Rosela jadi teringat rasa kue yang ia makan semalam. "Sangat enak. Aku tawari kau malah menolak." Ucapnya.
"Makanan pasar sudah biasa Saya makan. Tapi, kalau makanan mewah baru tidak Saya tolak." Jawab Riri.
Rosela hanya bisa menggeleng kecil.
Kemudian beberapa pelayan lainnya merias wajah dan rambut Rosela. Melihat rambut hitam legam Rosela membuat mereka antusias untuk menatanya. Karena di kerajaan tidak ada yang memiliki rambut hitam kecuali Rosela dan Dietrich. Mungkin kalau ada yang gelap palingan warna coklat tua.
"Rambut Nona sangat unik, mirip seperti warna rambut pangeran Dietrich." Ucap pelayan yang sedang menata rambut Rosela.
Pelayan yang sedang bertugas merias wajah Rosela pun mengangguk setuju, "kulit Nona juga seputih susu, jika di pencet langsung memerah." Timpalnya.
"Jangan mengada-ngada, susu terlalu putih," protes Rosela bergurau, Ia hampir tertawa ketika kulitnya dibilang seputih itu. Kalau seputih susu berarti dia mayat hidup jatuhnya.
Beberapa menit kemudian. "Selesai!" Ucap para pelayan itu setelah berhasil menyulap Rosela menjadi semakin cantik.
"Anda sangat cantik." Puji Riri ikut takjub. Melihat kecantikan Rosela, Riri semakin yakin dirinya akan hidup nyaman. Tidak mungkin para pangeran tidak terpesona dengan nonanya.
Seorang Pria mengetuk pintu kamar Rosela lalu masuk. Pria itu tak lain adalah Dietrich, Ia menepati janjinya untuk mengetuk pintu terlebih dahulu walaupun tetap saja masuk sebelum Rosela mengizinkan. "Apa kau sudah siap?" Tanyanya. Namun, di detik berikutnya Ia terpesona melihat Rosela mengenakan gaun pilihannya. Dietrich kira Rosela akan memilih gaun pemberian Benjamin, mengingat hubungan mereka yang lumayan dekat.
"Nona sudah siap Pangeran." Jawab Riri semangat.
Sejak dikatai cantik oleh Dietrich, entah kenapa setiap bertemu apalagi menatap mata Pria itu membuat jantungnya berdetak tak karuan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Am I a Villain
FantasyReinkarnasi di dunia isekai jadi tuan putri atau bangsawan? Mana enak! Jadi budak lah... Itu semua adalah hal yang dirasakan oleh Rosela. Seorang perempuan berusia 19 tahun yang hendak pulang kerumahnya malah ditabrak truk. Dan masuk kedunia novel...
