Rindu kalian [cry cry cry]
Selamat membaca♡
.
.
.
Langkah Rosela terhenti seketika saat matanya menangkap sosok Dietrich berdiri di dalam kamarnya. Sorot matanya menunjukkan keterkejutan yang tak bisa ia sembunyikan.
"Keluar. Tinggalkan kami berdua," perintah Dietrich tegas.
Riri dan dua dayang yang berada di ruangan itu segera menunduk hormat, lalu melangkah keluar tanpa sepatah kata pun.
"Apa yang hendak Anda bicarakan?" tanya Rosela dingin, menatap Dietrich dengan waspada.
"Duduklah," ucap Dietrich sambil menunjuk kursi di hadapannya.
"Aku tidak mau," tolak Rosela tanpa ragu.
Wajah Dietrich menegang, ia berdiri dari duduknya, lalu menarik lengan Rosela dengan gerakan cepat.
"Sakit! Lepaskan!" pekik Rosela sambil berusaha melepaskan diri.
Dietrich tersentak, seolah tersadar. Ia segera melepaskan genggamannya. "Maaf... jika aku bertindak kasar," ucapnya pelan, nada suaranya merendah.
"Apa yang sebenarnya ingin Anda sampaikan? Bisakah kita percepat saja? Aku lelah. Ingin beristirahat," ujar Rosela, suaranya mulai melemah.
Dietrich menatapnya tajam. "Kau menghindariku, bukan?"
Rosela menggeleng pelan. "Tidak."
"Aku yakin kau sengaja menjauh. Apa ada yang salah dariku? Apa aku telah bersikap keliru sampai-sampai harus dihindari?" tanya Dietrich, nada suaranya penuh luka yang disembunyikan.
"Tidak ada kesalahan pada Anda. Dan aku tidak menghindari Anda," balas Rosela tegas. "Anda terlalu jauh berspekulasi."
"Kau bohong," desak Dietrich, melangkah maju selangkah.
"Aku tidak," jawab Rosela, menahan emosi yang mulai mendesak dadanya.
"Apa rencanamu mendekati Paduka Raja?" tanya Dietrich tiba-tiba, menembus keheningan yang sempat menggantung.
"Tidak ada," jawab Rosela tenang. "Aku hanya ingin membantu Nyonya Violet. Aku melihat masa lalunya dan Raja. Dan, saat aku menemuinya, kehidupan beliau dan pangeran begitu memprihatinkan. Tak sepatutnya mereka hidup dalam bersembunyi dan dibayangi ketakutan seperti itu. Sudah selayaknya Nyonya Violet dan Pangeran Daunte kembali ke istana."
Dietrich menatapnya lekat. "Hanya itu saja?" desaknya, seolah mencari retakan kecil dalam jawaban Rosela.
Rosela mengangguk mantap. "Hanya itu."
Namun sebelum Dietrich sempat mengucapkan sesuatu lagi, Rosela mendahuluinya dengan suara yang sedikit lebih cepat, "Ah, bagaimana dengan rumah yang Anda janjikan itu? Apakah saya sudah bisa segera pindah ke sana?" tanyanya.
Dietrich tampak sedikit terkejut, bahkan sempat kehilangan kata. "Aku... sudah mengutus Felix untuk mencari. Tapi belum ada yang sesuai dengan seleramu," jawabnya, matanya menghindar dari tatapan Rosela.
"Oh," gumam Rosela singkat. "Baiklah... kalau begitu."
Ia memalingkan wajah, menatap ke arah jendela besar yang menghadap taman kerajaan, sebelum kembali menatap Dietrich dengan sorot mata yang kini dingin dan tegas.
"Lalu... bisakah Anda keluar sekarang?"
Permintaan itu terdengar lembut, namun jelas menjadi isyarat bahwa percakapan telah usai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Am I a Villain
FantasyReinkarnasi di dunia isekai jadi tuan putri atau bangsawan? Mana enak! Jadi budak lah... Itu semua adalah hal yang dirasakan oleh Rosela. Seorang perempuan berusia 19 tahun yang hendak pulang kerumahnya malah ditabrak truk. Dan masuk kedunia novel...
