Bab 20 : Rasa

176 6 0
                                        

ATTENSION!

Seperti biasa, aku yang random ini kembali berulah🥲👌

Privat dari bab 15 sampai 20 akan aku buka kembali FULL untuk kalian sebagai hadiah karena masih mau baca cerita ini.

Untuk bab 21 dan berikutnya (gatau ya sampai ban berapa) akan aku Update FULL × 24 jam, setelah itu aku privat😖✌

So pantengin terus akun ini jika mau baca gratis ya😁👍

Selamat membaca🤍


Rosela kembali ke istana dengan keadaan lusuh dan hati yang hancur. Kepedihan yang ia rasakan ketika harus menerima kepergian Izer sungguh amat sangat berat baginya. Rosela pikir Izer akan bertahan hingga bala bantuan datang, tapi nyatanya Ia malah pergi meninggalkannya. Sendirian, dengan kenyataan bahwa Pria itu ternyata selama ini mencintainya. Sebuah cinta tulus yang selama ini Ia damba-dambakan.

Riri memapahnya menuju kamar. Sedangkan pelayan yang lain meliriknya dengan tatapan penuh tanya. Apalagi melihat gaun Rosela yang penuh dengan darah. Namun, ketika melihat kondisi wajah Rosela yang sedikit pucat dengan mata yang bengkak membuat mereka mengurungkan niat untuk bertanya. Sepertinya Rosela benar-benar terpukul. Entah apa yang telah dilalui wanita itu diluar sana.

Dietrich yang mendengar kabar kepulangan Rosela dan berita kematian Izer langsung menemuinya. Tapi, Rosela menolak untuk bertemu. Mau tak mau Dietrich hanya bisa menuruti perintah wanita itu. Karena Dietrich yakin Rosela mengalami trauma yang cukup serius. Pria yang dekat dengannya mati mengenaskan di depannya.

"Apa kau melihat siapa pelakunya?" Tanya Dietrich kepada Riri. Jika tidak bisa menemui Rosela, Dietrich beralih untuk bertanya kepada Riri, karena Ia ada di lokasi kejadian bersama Rosela.

Riri yang tiba-tiba diminta untuk menghadap Dietrich jadi ragu untuk mengungkapkan kebenaran, karena dia tahu bahwa pelaku penembakan itu adalah orang terdekat Dietrich. Riri takut jika dituduh berhohong. Tapi, demi keselamatan Rosela di masa depan Ia berani bertaruh. "Anu, itu Yang Mulia, dia tuan Dalton." Jawabnya yakin.

"Apa?!"

"Saya melihatnya sekilas ketika menembakkan peluru ke arah Nona, namun karena panik saya hanya bisa fokus kepada Nona saja. Apalagi ketika Tuan Izer tiba-tiba muncul dan menjadi tameng untuk Nona. Semuanya terasa begitu cepat." Jelasnya.

"Apa kau yakin itu Dalton, karena yang aku tahu Ia susah dikurung di penjara Ibukota." Terang Dietrich.

"Saya yakin Yang Mulia, demi Nona Rosela saja berani bersumpah. Penembak itu adalah Tuan Dalton." Ucap Riri. "Demi keselamatan Nona saya mohon untuk memberikan hukuman kepadanya Yang Mulia. Bagaimana pun jika tidak ada Tuan Izer mungkin Nona yang meninggalkan Saya dan Anda sekarang." Sambungnya.

Dietrich diam, tapi rahangnya terlihat mengeras.

"Baiklah, kau boleh pergi. Dan, ketika kondisi Rosela sudah membaik jangan lupa memberitahukannya padaku," perintah Dietrich.

Riri bangkit dari sofa dan menunduk, "baik Yang Mulia, kalau begitu saya permisi." Pamitnya kemudian, lalu keluar dari ruangan kerja Dietrich.

Setibanya diluar Riri langsung mengambil nafas dalam-dalam. Ini adalah pertama kalinya Ia dipanggil dan ditanyai oleh Dietrich. Ketika bersama Dietrich auranya terasa mencekam. Bagaimana bisa Rosela membantah apalagi melawan Pria itu selama ini, sungguh mental yang luar biasa.

👑👑👑

Dietrich pergi menuju penjara dimana Dalton di kurung. Ternyata benar, Pria itu kabur dari penjara sambil membawa kabur senapan yang belum diperjual belikan. Berarti ucapan pelayan Rosela benar, Dalton lah yang telah mengacungkan senjata kepada Rosela. Ini tidak bisa dibiarkan.

Bersama Felix dia pun pergi mencari keberadaan Dalton, dan berkat informan kepercayaannya Pria itu ditemukan di salah satu pub yang cukup jauh dari ibukota. Dalam keadaan mabuk Dalton terkejut melihat kedatangan Dietrich.

"Yang Mulia!"

Dua kata itu adalah kata terakhirnya sebelum Dietrich menembakkan peluru ke-kepalanya. Dalton jatuh dan semua pengunjung pub terkejut dan kalang kabut.

"Lembah ke hutan sebagai makanan para monster," ucap Dietrich.

Felix mengangguk dan menyuruh beberapa anak buahnya membawa tubuh Dalton.

Dietrich menungganggi kuda dan berniat kembali ke istananya. Namun sebelum kembali, Ia berkunjung ke makan ibunya. Entah kenapa Dietrich jadi merindukan sosok ibunya yang telah lama pergi.

Makam Daphne terletak di istana khusus untuk makam-makan anggota kerajaan yang telah tiada. Letaknnya cukup jauh dari istana utama.

Dietrich menatap makam ibunya lekat-lekat. Pikirannya melayang kepada Rosela. Jika seandainya Izer tidak menjadi tameng, apa Rosela akan pergi meninggalkannya seperti ibunya? Amarah, sedih dan putus asa menyatu menjadi satu, bergemuruh di dalam dirinya. Sepertinya Doetrich tidak sanggup untuk merasakan hal itu dua kali.

"Sebenarnya perasaan apa ini? Kenapa aku tidak bisa melepaskannya pergi? Dia bukan milikku ibu." Monolognya kearah makam Daphne.

"Apa aku kejam jika merasa senang atas kematian pria itu?" Lirihnya.

Dietrich pun berdiri dan menguatkan tekatnya, sepertinya perasaaanya kepada Rosela bukan hanya sekedar rekan kerja lagi melainkan lebih. Lihat saja dirinya sekarang, kalang kabut tidak beraturan hanya karena Rosela hampir saja terbunuh oleh Dalton. Ia juga tidak suka ketika Izer dan Rosela mulai dekat.

Dietrich kembali ke istana.

Lagi-lagi langkah kakinya berhenti di depan pintu kamar Rosela. Dan begitu ia mengetuk pintu tersebut dirinya disambut oleh pelayan wanita itu. "Maaf, Yang Mulia, saat ini Nona masih tidak ingin menemui siapapun. Sebagai pelayannya Saya mohon maaf atas sikap Nona Rosela, tapi beliau sudah mulai membaik Yang Mulia."

"Baiklah, aku akan pergi."

Langkah kaki Dietrich terasa berat, padahal ia sangat merindukan sosok yang selalu menyambutnya dengan senyuman sinis khasnya itu, atau candaan yang selalu Ia lontarkan dan selalu membuatnya bingung. Jika sampai sosok ceria itu menghilang, entah apa yang akan Dietrich lakukan selanjutnya. Ia tidak akan bisa menerimanya.

Kepergiaan Dietrich membuat Riri menghela nafas dan kembali masuk kedalam. Ia melihat Rosela yang duduk sambil membaca buku novel yang diberikan Izer kepadanya.

"Mau sampai kapan kau begini? Kembali lah seperti biasanya, itu bukan salahmu. Dan lihat biarkan pangeran menemuimu, dia terlihat seperti akan mati besok karena tidak bisa menemuimu."

Rosela tidak mengidahkan perkataan Riri. Jika marah Riri tidak akan menggunakan kata formal kepadanya.

"Itu hanya khayalanmu saja, mungkin dia ingin aku segera pergi dari sini." Balas Rosela kemudian.

"Aku tidak yakin. Semenjak kau mengurung diri di kamar belaiu selalu berdiri di depan pintu kamarmu, dan begitu aku bilang kau tidak ingin menemui siapapun termasuk dirinya, seperti ada guratan kekecewaan di wajahnya." Timpal Riri kembali.

Rosela memutar bola matanya acuh. Paling Dietrich merasa bersalah karena dirinya hampir dibunuh oleh Dalton, dan juga iba karena Izer mati karena dirinya. Rosela tidak mau dikasihani, ia akan pergi kok dari istana ini tapi bukan hidup dengan harta pemberian Dietrich, Rosela beralih ke rencana B, ia akan menemui Raja dan memberitahukan sebuah rahasia. Dan, dengan rahasia itu hidup Rosela pasti akan sejahtera sampai tujuh turunan.

Dan, ia pun akan menghilang dari kehidupan Dietrich untuk selama-lamanya seperti yang di inginkan Estela dan tunangannya itu. Untuk kedepan Rosela juga tidak ingin menikahi siapapun, ia merasa lelah untuk mencintai dan dicintai.

To be continue...


Am I a VillainCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang