"Saya cuman takut Mas.... Saya takut tenggelam setelah jatuh terlalu dalam."
"Jadi ini semua cuman perkara salah paham 'kan? OK, gimana kalo kita bikin kesalahpahaman itu jadi kenyataan?"
"Maksudnya, Mas?"
"Ayo kita bikin lo hamil beneran!"
"HAH?!"
...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Oh."
"Lah kok cuman oh doang, Mi?"
"Ya terus? Emang kamu berharapnya Ummi jawab apa?"
Althaf menatap Umminya dengan wajah syok yang tidak dibuat-buat, tak habis pikir dan tidak percaya. Tak hanya Althaf, Aleena yang duduk di sampingnya pun demikian.
"Ummi beneran dengerin Althaf ngomong gak sih?"
"Denger kok, istri kamu gak lagi hamil 'kan? Mungkin emang belum Al, gak papa bisa coba lagi," jawab Ummi santai.
"Maksud Ummi?" Althaf semakin dibuat bingung, ia tak mengerti arah pembicaraan mereka saat ini.
"Kamu kenapa sih, Al? Atau jangan bilang kalo kalian selama ini belum ngapa-ngapain?!" Ummi melotot sambil menunjuk ke arah Althaf penuh intimidasi.
"Itu.... Jadi Ummi udah tau kalo Aleena beneran gak hamil? Kok bisa? Sejak kapan?" Althaf balik bertanya tak kalah mengintimidasi.
Ummi menghela napas berat, kemudian menatap ke arah Althaf sepenuhnya.
"Pagi itu, pas kamu pergi dari rumah sakit, Abi pergi nemuin dokternya buat konfirmasi lagi masalah itu. Dokternya bilang dia salah nerima berkas, mau balik lagi tapi keburu disusul Abi. Jadi ya begitu, dokternya juga udah minta maaf kok waktu itu," jelas Ummi dengan tenang.
Althaf yang mendengar itu reflek memijat pangkal hidungnya, kepalanya tiba-tiba saja terasa pusing, terlalu banyak fakta yang ia dapat secara tiba-tiba seperti ini.
"Terus kenapa Ummi sama Abi gak bilang dari awal?"
"Emang kalo Ummi sama Abi bilang waktu itu, kamu bakalan tetep mau nikah? Ummi itu udah tua Al, Ummi cuman takut gak bisa gendong cucu pertama Ummi dari kamu, hm?" Kata Ummi dengan lembut.
"Ummi kok ngomongnya gitu sih? Ngaco deh, Althaf gak suka!" Ujar Althaf sambil menyilangkan tangannya di depan dada dengan bibir yang sedikit dimanyunkan.
"Gak usah sok imut gitu deh Al, gak cocok. Nak Aleena, suami kamu kalo di rumah gini juga gak? Maafin ya kalo kadang-kadang suka tantrum, tampol aja kalo perlu."
"Ih, Ummi kalo ngomong jahat banget. Nana jangan dengerin Ummi ya, Ummi emang gak sayang sama Althaf," kata Althaf sambil tiba-tiba memeluk lengan kiri Aleena lalu bersandar di bahunya.
Aleena yang sedari tadi hanya diam menyimak sontak terkejut dengan apa yang dilakukan Althaf secara tiba-tiba itu, walau bagaimanapun ia masih belum terbiasa dengan sisi clingy Althaf yang satu ini.
"Tapi Ummi.... Kenapa harus saya?" Pertanyaan yang dilontarkan Aleena sontak membuat Ummi dan juga Althaf terdiam.
"Hm? Nak Aleena gak suka ya sama Althaf?" Aleena reflek saja menggeleng cepat, bukan begitu maksudnya.
"Bu-bukan, Ummi. Maksud Aleena, kenapa harus perempuan seperti Aleena yang dinikahin sama putra sulung keluarga sebaik ini? Aleena bahkan gak bisa buatin Mas Althaf sarapan, Aleena juga solatnya belum sepinter Inar. Aleena cuman merasa itu gak adil buat Mas Althaf," lirih Aleena sambil menunduk dalam.