"Lo cuma punya satu pilihan. Lo lepas dengan selamat dan nggak akan bilang kejadian ini ke siapapun termasuk polisi,atau lo berakhir di sini sebagai mayat?".
#1 16tahun
#1 pelecehanseksual
Agustus 2022
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Olivia menahan nafas setelah memasuki kamar Arfi. Kamar yang cukup luas dengan nuansa serba abu-abu itu begitu berantakan. Bau rokok menyembur keluar ruangan, padahal kamar itu terpasang AC.
Gadis itu mengibas ngibaskan tangannya di depan hidung, berharap bau rokok yang begitu menyengat itu cepat lenyap, namun nihil, tidak ada ventilasi udara yang terbuka. Dengan langkah cepat, ia menyingkap gorden besar yang menghalangi cahaya pagi masuk dan membuka pintu kaca geser yang menghadap ke balkon.
Perlahan tapi pasti, bau asap rokok itu mulai hilang tersapu angin. Olivia pun segera membereskan kamar yang super berantakan itu. Baju kotor dan baju bersih tercampur aduk berserakan di lantai, bedcover yang entah berapa abad tidak di ganti, buku-buku kuliah Arfi yang seperti buku loakan tak terpakai.
Kamar itu benar benar mengerikan, membuat Olivia gatal sekali ingin merapikan tanpa ada yang tersisa.
Dalam waktu dua jam, kamar itu sudah tersulap menjadi kamar yang sudah rapi dan bersih. Bedcover yang sudah di ganti, baju-baju bersih sudah terlipat rapi di lemari, buku-buku yang sudah tersusun indah di rak meja belajar.
Olivia merebahkan badannya di tepi ranjang. Punggungnya rasanya sakit sekali, apalagi perut bawahnya yang terasa mulas seperti sedang haid di hari pertama.
Tiba tiba Arfi sudah berdiri di ambang pintu menenteng dua kresek besar berisi stock makanan.
"Wuihh, kamar gue langsung rapi pas udah punya istri". Ujar Arfi sembari tersenyum senang.
"Sumpah ya, kamar lo tuh kayak kapal pecah! Heran gue, kenapa ada cowok se-, akhh". Ucapan Olivia terpotong setelah ia beranjak berdiri namun perutnya justru bertambah sakit. Arfi langsung menjatuhkan kresek belajaan itu. Melihat bagian bawah Oliv yang ternyata sudah di penuhi darah.
"Liv, kenapa?! Kok keluar darah?!". Tanya Arfi panik sembari memegang kedua bahu Olivia.
"Fi, bayi kita!". Ujar Oliv panik dan berusaha menahan tangis. Arfi segera menggendong Olivia menuju lantai dasar.
Mobil melaju dengan kecepatan yang tak terkira. Arfi benar benar ngebut di jalanan yang syukurnya sudah mulai lenggang. Karena tadi adalah jam-jam anak sekolah dan para pekerja berangkat beraktifitas.
"Aduh Fi, sakit banget perut gue!". Rintih Olivia sembari memegangi perutnya. Ia pun tak perduli bagaimana cowok itu mengemudikan mobilnya dengan ugal ugalan, yang terpenting sekarang, bagaimana sakit di perutnya segera mereda.
"Sabar ya Liv, gue cari UGD terdekat. Tapi dari apart gue tuh gada Rumah sakit yang deket". Jawab Arfi ikut gelisah.
Limabelas menit berlalu, akhirnya Arfi sampai di UGD terdekat. Ia cepat cepat membuka pintu mobil dan berjalan cepat menggendong Olivia menuju UGD.
Gadis itu terlihat meringkuk memegangi perutnya yang sakit. Di tambah bekas darah segar yang mengalir dari celananya membuat Arfi tak pernah sepanik ini.