BAB 18. DIA LAGI

149 9 3
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Ada yang kangen sama Olivia???


*

Weekend ini, Olivia mengajak Arfi jalan-jalan ke tama hijau di sekitaran apartement mereka. Karena Arfi sedang tidak ada kuliah, cowok itu langsung meng-iyakan permintaan Olivia.

Dengan berbekal banyak cemilan dan tikar kecil, mereka menggelar mini kemah di taman hijau tersebut. Keduanya duduk-duduk santai sembari melihat lalu lalang para pejalan kaki yang juga sedang menikmati waktu weekend. Kebanyakan dari mereka adalah keluarga kecil yang memiliki satu sampai dua anak.

Olivia melihat mereka dengan penuh senyum. Raut wajah keluarga kecil itu nampak bahagia. Tapi sedetik kemudian, ia menyadarkan diri. Itu bukan mimpinya, harapan dan cita-citanya masih teramat jauh, masa remajanya baru saja di mulai.

"Kuliah lo udah semester berapa? " Tanya Olivia membuka percakapan.

"Udah semester akhir, tinggal nunggu panggilan sidang, lulus, terus wisuda"

Olivia nampak berfikir, mengawang-awang di dalam kepala.

"Kalau lulus SMA umur 18 tahun, kuliah empat tahun, berarti lo harusnya lulus umur 22 tahun dong? Sekarang umur lo 23"

"Gue sering ambil cuti buat waktu yang nggak jelas dulu, kaya sunmorian keliling indonesia-, "

"Ha??! " Potong Olivia kaget. "Serius keliling Indonesia? ".

Arfi menganggukan kepala " Ya nggak seluruh Indonesia gue kelilingin, baru beberapa aja".

Olivia bertepuk tangan "Keren keren!" Sanjungnya sembari mengacungkan dua jempol, hal itu membuat Arfi menyunggingkan senyum.

"Keliling Indo termasuk mimpi lo? Apa cuma gabut aja? "

"Mimpi pertama sih, masih ada mimpi kedua ketiga ke empat".

" Coba sebutin semua mimpi lo, gue pengen denger". Pinta Olivia antusias.

Arfi nampak berfikir, bahkan ia lupa apa saja mimpinya, semua karena Olivia memenuhi fikirannya akhir akhir ini.

"Yang pertama keliling Indonesia, terus yang kedua tuh punya rumah kaya villa gitu di bogor, yang ketiga punya keluarga harmonis, pokoknya kalau gue berkeluarga nanti, gue pengen jadi sosok ayah yang sempurna buat anak gue, gue nggak pengen keturunan gue nanti ngrasain jadi Arfi kecil yang kurang banget dapet peran Ayah".

Arfi menghentikan ucapannya, ia melirik Olivia yang nampak serius mendengarkan banyak mimpinya.

" Terus, mimpi lo yang terakhir? ".

"Jadi suami yang baik buat lo".

Mendengar itu, Olivia langsung kikuk, ia bingung harus bereaksi seperti apa. Sedangkan Arfi menatapnya dengan serius.

OLIVIA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang