BAB 24. TRAGEDI 2

237 8 0
                                        

Yuk pasang headset kalian sambil dengerin lagu :)
Biar feelnya dapet!
Selamat membaca!

*

Mereka telah sampai di depan rumah Olivia. Namun rupanya, Olivia tidak tinggal serumah dengan Ara. Ia justru menyewa rumah kost tiga petak yang tak jauh dari toko tempat usahanya.

Gadis itu beranjak turun, namun dengan cepat, Arfi lebih dulu turun dan membukakan pintu mobilnya.

"Apaan sih, lebay lo". Gerutu Olivia tak suka.

" Ya nggak apa-apa. Dulu juga semasa lo hamil suka mager buka pintu. Kebawa sampai sekarang".

Olivia tak menggubris, ia segera turun dan berjalan membuka pagar rumah kostnya.

"Gue kira lo tinggal bareng Kak Almi sama Ara". Tanya Arfi sembari melihat-lihat sekitar kost.

" Nggak, udah setahunan ini gue mutusin tinggal sendiri".

"Kenapa? Lo nggak berat jauh dari Ara?".

Olivia terdiam, agak lama, gadis itu menunduk sedih.

"Siapa sih yang nggak berat jauh dari anak-, em jauh dari keponakan yang udah bareng dari lahir?". Ralatnya.

Olivia kemudian mendongak, menatap wajah Arfi yang justru tersenyum teduh. Kemudian cowok itu mengusap kepalanya lembut.

"Maaf, gue kemarin bilang kalau lo bukan ibu yang baik. Gue tahu pasti berat dan bimbang jadi lo, maaf ya?" Ucapnya lembut sembari menatap Olivia.

Gadis itu tak menjawab, justru air matanya yang menggenang, bibirnya bergetar.

"Kenapa? Kok malah nangis?". Tanya Arfi lembut, ia segera mengusap air mata Olivia dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya.

Apa Arfi tahu ya, kalau gue lagi nggak baik-baik aja? Apa arfi tahu juga, kalau gue aslinya pengen banget mengakui Ara sebagai anak kandung gue dan bawa dia hidup sama gue?

Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari hati dan fikiran Olivia membuatnya semakin tak karuan.

Ia menerima pelukan Arfi, melingkarkan tangannya ke punggung cowok itu dan tenggelam di dalam dadanya.

Suatu perasaan yang tak pernah ia bisa lawan selama ini. Perasaan nyaman, tenang, dan merasa di perdulikan. Namun kenyataan selalu menamparnya dan membuatnya sadar, bahwa sampai kapanpun Arfi adalah seorang penjahat.

"Liv, lo tahu nggak? ".

" Soal?".

"Kehidupan gue di penjara".

" Enggak, emang kenapa?".

"Banyak temen gue di sana yang dapat kabar kalau istrinya nikah lagi, mereka hancur, mereka seperti udah nggak semangat buat melanjutkan hidup kalau bebas nanti".

" Terus?".

"Gue selalu berharap kalau kabar lo meninggal itu bohong. Dan harapann gue di kabulin sama Tuhan".

Arfi menghela nafas panjang, ia mengusapkan pipinya ke rambut Oliv

" Tapi nasib temen-temen gue, akhirnya gue alamin sekarang. Lo udah jadi milik orang lain tanpa seijin gue".

Olivia terdiam, ia kemudian melepas pelukan Arfi dan mundur selangkah.

"Maaf kalau itu bikin lo sakit".

" Sakit banget Liv, sampai gue nggak kepikiran apa-apa lagi buat maju kedepan nerusin hidup gue".

"Ohhh, jadi ini pelaku pencabulannya sayang??".

OLIVIA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang