Jungkook menghela napas, ia pun kembali menatap langit, "Aku merasa sedih juga merasa iri padamu."
"Sedih? Iri padaku? Kenapa? Apa yang membuatmu merasa seperti itu?"
Jungkook kembali menghela napas, "Keluargaku sangat jauh berbeda dengan keluargamu."
"Apanya yang berbeda?"
"Keluargaku...."
Seokjin hanya diam, menunggu Jungkook menyelesaikan kalimatnya.
"Keluargaku hancur."
*****
"Apa? Kenapa?" Seokjin cukup terkejut mendengar apa yang Jungkook ucapkan.
Jungkook terdiam sejenak, ia merasa tidak enak jika harus menceritakan tentang masalah keluarganya pada orang lain, tapi di satu sisi ia juga ingin mencoba bercerita pada orang lain, mungkin itu akan sedikit mengurangi bebannya saat ini, pikirnya.
"Boleh aku menceritakan semuanya padamu?"
"Seharusnya aku yang bertanya, apa kamu tidak keberatan menceritakan masalahmu padaku?"
"Justru aku ingin menceritakan masalahku pada orang lain, tapi aku belum menemukan orang yang tepat."
"Kalau begitu ceritakan saja padaku."
"Apa aku bisa memercayaimu?" Jungkook menoleh pada Seokjin.
"Tentu, kamu bisa memercayaiku. Ja, silahkan keluarkan semua keluh kesahmu yang selama ini kamu pendam." Seokjin memutar duduknya menjadi menghadap pada Jungkook dan menatapnya.
Jungkook tersenyum, ia pun kembali menatap langit dan mulai bercerita.
"Appaku orang yang jahat, sedari dulu dia selalu membentak, memarahi dan memukuli eommaku dan aku sendiri tanpa alasan yang jelas. Dia sering pulang dalam keadaan mabuk berat, saat di rumah dia marah marah tidak jelas dan berakhir bertengkar denganku dan eommaku. Aku tidak tahu kapan persisnya kejadian seperti itu mulai terjadi, tapi yang pasti sedari aku kecil aku selalu mendengar eomma dan appa berdebat dengan nada yang tinggi."
Jungkook menjeda sejenak untuk menghapus air matanya yang mulai mengalir turun pada wajahnya.
"Hampir setiap malam aku selalu mendengarnya, yang bisa aku lakukan hanya diam di kamar, mengunci pintu dan menutup kedua telingaku sambil bersembunyi di bawah selimut. Saat aku mulai tumbuh semakin besar, appaku mulai marah marah padaku dan memukuliku tanpa alasan yang jelas, atau terkadang dia memukuliku karena nilaiku rendah, karena dulu aku memang tidak terlalu pintar. Itu semua aku alami selama bertahun tahun."
Setelah itu Jungkook berhenti, ia benar benar menangis dengan deras, rasanya ia tidak bisa melanjutkan lagi ceritanya, tapi ia masih ingin mengeluarkan beban pikirannya.
"Lalu, apa lagi yang terjadi?" Tanya Seokjin dengan lembut sembari mengusapi punggung Jungkook bermaksud menenangkannya.
"Saat aku kelas dua SMP, waktu itu aku baru saja pulang sekolah, saat masuk ke dalam rumah aku sangat terkejut melihat eommaku sudah tergantung dengan tali yang mengikat di lehernya."
Seokjin terkejut dengan perkataan yang Jungkook lontarkan, "Jadi maksudnya...eommamu bunuh diri?" Tanyanya dengan hati hati.
"Iya. Satu hari sebelumnya, eomma sempat datang padaku, dia bicara yang aneh aneh padaku, aku tidak terlalu ingat semua perkataannya, tapi aku ingat dia mengatakan kalau aku harus tumbuh menjadi anak yang kuat dan tangguh. Saat itu setelah mengobrol kita saling berpelukan, dan itu menjadi pelukan terakhirku dengan eommaku."
"Aku turut berduka untukmu, aku harap kamu bisa menjadi anak yang seperti eommamu inginkan."
Jungkook tersenyum simpul.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love In Silence [JinKook]
Fanfiction[Completed] Kim Seok Jin, seorang murid yang populer di sekolahnya karena ketampanannya, meskipun tidak terlalu pintar dan juga emosian. Seokjin diam diam mengagumi bahkan menyukai murid pindahan di kelasnya yang bernama Jeon Jung Kook, karena kepin...
![Love In Silence [JinKook]](https://img.wattpad.com/cover/345395173-64-k724664.jpg)