Di sebuah dermaga yang sepi, terlihat dua orang pria yang sedang melakukan transaksi. Salah seorang pria yang sedang nyebat berkata, jika uang yang diberikan oleh seorang pria di depannya kurang karena perjanjiannya adalah 20.000 dollar atau sekitar 296.360.000 rupiah.
"Ini kurang dari perjanjian kita di awal!!" ujar pria yang sedang nyebat kesal.
" Kau hanya membereskannya!, untuk bayaran segitu sudah lebih dari cukup untukmu!!" ujar pria satunya.
" Jika kasus ini kembali di buka, pasti diriku yang akan di jatuhi pidana!! Lalu dirimu!?" tanya pria nyebat.
" Boneka jangan banyak bacod!! Bacod lagi, saya bunuh!!!" ujar pria satu lagi mengancam.
Si pria yang nyebat tadi pun pergi dari dermaga itu meninggalkan pria yang satu lagi. Diketahui pria yang menerima uang tadi bernama Scorpio sedangkan yang memberi uang bernama Capricorn.
Dermaga itu semakin gelap saat Capricorn menatap kepergian Scorpio, wajahnya keras seperti batu. Pikiran-pikirannya berputar cepat, menghitung segala risiko. Pikirannya penuh dengan amarah yang tertahan, namun ia tahu bahwa jika situasi ini sampai keluar dari kendali, semuanya akan berakhir buruk baginya.
Ketika Scorpio menghilang dari pandangan, Capricorn mendengar langkah kaki di belakangnya. Dua sosok muncul dari dalam bayang-bayang, wajah mereka tidak begitu jelas, namun setiap gerakan mereka tampak penuh perhitungan. Cancer dan Sagitarius.
"Saat Scorpio pergi, kau seharusnya sudah tahu ke mana arah ini akan berlanjut," ujar Cancer, suaranya dingin namun penuh keyakinan. Wajahnya sulit dibaca, tetapi tatapan matanya tajam, seperti predator yang sedang memantau mangsanya.
Sagitarius, yang lebih muda dari Cancer, mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. Senyumnya menyiratkan sesuatu yang lebih jahat daripada sekadar kelicikan. "Kau pikir ini akan mudah? Menjadi calon dewan, berkuasa, dan kaya se-Asia?" tanya Sagitarius, mencemooh. "Aku sudah melihatmu datang jauh-jauh, Capricorn. Tidak ada yang mudah dalam permainan ini."
Capricorn menggigit bibirnya. "Kalian memang licik, tapi kalian lupa satu hal. Aku tahu banyak hal yang bisa menghancurkan kalian," jawabnya, matanya menyipit menatap kedua pria itu.
Cancer tertawa pelan, nada suaranya bergema di udara malam yang sepi. "Capricorn, kau terlalu percaya diri. Kalian berpikir kalian bisa mengendalikan segalanya, tapi seperti yang sudah kukatakan, aku yang akan menjadi orang kaya se-Asia, bukan kalian."
Tiba-tiba, Sagitarius melangkah maju, mendekatkan wajahnya yang dingin ke wajah Capricorn. "Kalian tidak tahu siapa yang sebenarnya mengendalikan permainan ini. Kita semua hanya bidak dalam papan yang lebih besar." Ia mengangkat satu tangan, memegang pistol kecil yang tersembunyi di balik jaketnya.
Capricorn terdiam sejenak, matanya melotot ketika menyadari ancaman itu. "Jadi, itu yang kalian maksud dengan menawarkan posisi dan kekayaan? Menjual nyawa?" katanya, nada suaranya tegang.
Sagitarius mengangguk pelan, lalu dengan cepat mengalihkan pandangannya pada Cancer, memberi tanda. Cancer mengeluarkan sebuah amplop dari saku jasnya dan melemparkannya ke tangan Capricorn. "Ambil itu," katanya datar. "Itu untukmu. Bayaran untuk kerjasama kita. Pikirkan dengan baik."
Capricorn membuka amplop itu, melihat isi di dalamnya—foto-foto yang memperlihatkan dirinya terlibat dalam berbagai kegiatan ilegal yang lebih besar dari yang ia kira. "Kalian memeras aku?" tanyanya dengan suara yang bergetar, meskipun ia mencoba menyembunyikan ketakutannya.
Sagitarius tersenyum, senyum yang tak menenangkan. "Kami tidak memeras. Kami hanya menunjukkan apa yang kau tak ingin dunia tahu."
Capricorn tahu saat itu bahwa ia berada di ujung jurang. Situasi yang ia pikir bisa dikendalikan, ternyata telah menjebaknya lebih dalam daripada yang ia bayangkan. Sagitarius dan Cancer memiliki lebih banyak kontrol atasnya daripada yang ia duga. Dan Scorpio, pria yang seharusnya menjadi sekutunya, ternyata hanyalah bagian dari puzzle yang lebih besar.
Dengan tatapan tajam, Capricorn memandang kedua pria itu, menyadari bahwa perjanjian mereka tidak akan semudah yang ia kira. "Ini belum berakhir," ujarnya, dan melangkah mundur dengan langkah cepat, menyadari bahwa di dermaga ini, tidak ada yang bisa dipercaya, bahkan dirinya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNPACk
Ficción GeneralKorupsi, adalah hal yang lumrah terjadi di dunia politik. Tuan Damian Altero, ketua partai besar sekaligus calon wali kota di ibu kota.Merupakan anggota dari Han Corporate yang diketuai ketua Handero atau yang akrab di panggil ketua Han yang mem...
