Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, menghangatkan warna-warni taman kota dengan rona jingga. Ace duduk di bangku kayu yang sama, jari-jarinya menggenggam erat balon merah yang sudah mulai mengempis. Matanya terus menatap ayunan kosong di seberang—tempat di mana Ora biasanya menunggunya.
Bocah berumur 6 tahun itu merasa ada yang aneh sejak kemarin. Ora tidak datang. Hari ini pun tidak. "Di mana dia?" desis Ace pada angin yang berhembus pelan.
Tiba-tiba, langkah kecil terdengar di belakangnya. Ace berbalik dengan cepat, harapannya melonjak tinggi—tapi yang datang adalah Wiena, wajahnya tak seperti biasa; tanpa senyuman kecengiran.
"Ace..." Wiena duduk di sampingnya, suaranya pelan.
"Aku nunggu Ora," gumam Ace tanpa memandangnya.
Wiena menarik napas dalam. "Keluarga Ora... sudah pergi ke desa. Kata orang-orang, ibunya meninggal karena dibunuh orang."
Bumi seolah terbelah. Ace menatap Wiena dengan mata membesar. "Pergi? Tapi... dia janji ketemu besok! Dia—"
Tangis tiba-tiba meledak dari tenggorokannya sebelum ia sempat menyelesaikan kalimat. Tubuh mungil itu gemetar, tangan kecil mencakar tanah seolah ingin meraih sesuatu yang telah hilang. "Dia nggak bilang apa-apa! Nggak bilang selamat tinggal! Nggak bilang—"
Wiena memeluknya erat-erat. Bocah perempuan itu kini menangis juga. "Ibunya meninggal mendadak, Ace... Mungkin mereka terburu-buru."
Tapi Ace tidak mau mendengar. Ia berlari ke ayunan, berdiri di atas pijakan kayu yang sudah lapuk—tempat Ora biasa tertawa.
"ORAAAA!!" teriaknya sekuat tenaga ke arah langit senja yang mulai menggelap. "KALAU KAMU DENGAR, BALON INI AKU SIMPAN! AKU... AKU NUNGGU KAMU BALIK!"
Suaranya pecah. Balon merah itu terlepas dari genggamannya, melayang pelan di udara sebelum tersangkut di dahan pohon. Ace menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Seperti itulah perasaannya sekarang—terjebak di antara harap dan kepergian.
Di kejauhan, boneka beruang kecil,Bogo (boneka kesayangan Ora yang tertinggal) tergeletak di bawah ayunan, separuhnya terendam genangan air hujan semalam.
☠️☠️☠️☠️
Esoknya, Ace kembali ke taman.
Lusa pun demikian.
Dan bulan-bulan berikutnya.
Hingga suatu hari, ayunan itu dibongkar oleh petugas kota. Ketika kayu terakhir tercabut, Ace berlari ke tengah lapangan rumput yang tiba-tiba terasa sangat luas—dan untuk pertama kalinya sejak Ora pergi, ia menangis sesungguhnya.
Wiena memungut balon merah yang masih tersangkut di dahan, lalu menyimpannya dengan hati-hati di dalam kardus sepatu.
"Nanti kalau ketemu lagi, kasih ke dia," bisiknya pada angin sore.
Tapi di lubuk hatinya yang paling dalam, Ace tahu:
Masa-masa bermain kejar-kejaran dengan gadis ayunan itu mungkin tak akan pernah kembali.
☠️☠️☠️
Ace yang kembali tidak memiliki teman pun hanya memiliki Wiena di sampingnya. Ketika usianya menginjak 6 tahun, terdengar kabar bahwa pembunuh Nathalie telah diketemukan, yakni Baron, ayahnya, telah membunuh seorang reporter berita bernama Nathalie Crysant Megan.
Banyak wartawan mulai mengerubungi rumah, dan Baron pun telah ditangkap pihak kepolisian. Banyak hujatan dan makian bencian dari sosial media maupun lingkungan sekitarnya. Hal ini menyebabkan sang ibu, Fara Qalista, melakukan bunuh diri di kamarnya.
Ace yang melihat sang ibu tewas tergantung di langit-langit kamar, merasakan dunia seolah runtuh di sekelilingnya. Ia berlari keluar, terisak, dan berteriak memanggil nama ibunya. Namun, tidak ada jawaban. Hanya kesunyian yang menyelimuti rumah mereka.
Beberapa hari setelah kejadian tragis itu, Ace duduk di depan televisi. Berita tentang ayahnya yang ditangkap terus berulang di layar. Ace melihat wajah ayahnya yang tampak lelah dan penuh penyesalan. "Baron Qalista, ditangkap atas tuduhan pembunuhan," suara pembawa berita menggema di telinga Ace. Ia merasa hancur, bingung, dan marah. Kenapa semua ini bisa terjadi?
Di pemakaman, Ace berdiri di samping makam ibunya, air mata mengalir di pipinya. Ia merasa sendirian di dunia ini. Tiba-tiba, seorang wanita tua mendekatinya. Wanita itu adalah neneknya, yang datang dari jauh untuk mengurus Ace setelah tragedi ini.
"Nak, aku di sini untukmu," ucap neneknya dengan lembut, memeluk Ace erat-erat. "Kita akan melalui ini bersama-sama."
Ace menatap neneknya, merasakan kehangatan dari pelukannya. Meskipun hatinya masih penuh kesedihan, ia merasa sedikit tenang. Neneknya akan mengasuhnya, dan mungkin, hanya mungkin, mereka bisa menemukan cara untuk melanjutkan hidup meskipun dengan kehilangan yang begitu besar.
Sejak saat itu, Ace mulai beradaptasi dengan kehidupan barunya bersama neneknya. Mereka tinggal di rumah nenek yang sederhana, jauh dari keramaian kota. Neneknya mengajarinya banyak hal, mulai dari memasak hingga berkebun. Meskipun Ace masih merindukan ibunya dan Ora, ia belajar untuk menemukan kebahagiaan dalam hal-hal kecil.
Namun, takdir kembali menguji Ace. Ketika ia berusia 12 tahun, neneknya jatuh sakit dan meninggal dunia. Ace merasa seolah dunia kembali runtuh. Ia tidak tahu harus ke mana dan kepada siapa ia harus bergantung. Dalam kesedihan dan kebingungan, Wiena datang menemuinya.
"Ace, kamu tidak sendirian. Ayahku bisa membantumu," ucap Wiena dengan penuh empati.
Ayah Wiena, seorang pria tegas dan disiplin, setuju untuk mengasuh Ace. Meskipun awalnya Ace merasa canggung, perlahan-lahan ia mulai merasa nyaman. Ayah Wiena mengajarinya banyak hal, mulai dari cara bertanggung jawab hingga bagaimana menghadapi tantangan hidup.
"Kamu harus kuat, Ace. Hidup ini penuh dengan rintangan, tapi kamu bisa melewatinya,"kata ayah Wiena dengan nada tegas.
Ace berusaha untuk bangkit dari kesedihannya. Ia bertekad untuk tidak hanya menjadi anak yang baik, tetapi juga untuk menghormati kenangan ibunya dan Ora. Meskipun hidupnya tidak pernah sama lagi, Ace belajar untuk menemukan kekuatan dalam diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNPACk
Genel KurguKorupsi, adalah hal yang lumrah terjadi di dunia politik. Tuan Damian Altero, ketua partai besar sekaligus calon wali kota di ibu kota.Merupakan anggota dari Han Corporate yang diketuai ketua Handero atau yang akrab di panggil ketua Han yang mem...
