03. PEREBUTAN KUASA

56 35 0
                                        

HAN CORPORATE adalah perusahaan terbesar di Asia yang saat ini dipimpin oleh Handero, putra dari pendiri perusahaan tersebut. Kini, Handero telah berusia 65 tahun. Ia tidak memiliki seorang pun pewaris karena telah bercerai dua bulan setelah pernikahan. Karena itulah, Handero berencana menunjuk salah satu pemegang saham sebagai penerusnya.

Persaingan pun memanas. Para pemegang saham berlomba-lomba merebut hati sang ketua.

☠️☠️☠️☠️☠️

TOK.
TOK TOK...
TOK.

Terdengar ketukan pelan di pintu. Para pengawal pribadi Handero segera memeriksa siapa yang datang. Ternyata Ratna berdiri di luar, menyapa mereka dengan senyuman ramah.

"Ibu Ratna di luar, Pak. Apakah beliau boleh masuk?" tanya salah satu pengawal.

"Biarkan dia masuk," jawab Handero, duduk di kursi rodanya.

Ratna pun melangkah masuk ke dalam rumah megah dan mewah itu. Di tangannya, ia membawa sebuah parcel buah.

"Kau pasti ada maunya datang ke sini. Cepat katakan apa keinginanmu!" ujar Handero dingin.

"Ketua, kau tahu kan... yang selalu menjengukmu di rumah ini adalah aku. Tidakkah kau berpikir untuk menyerahkan Han Corporate kepadaku saja?" tanya Ratna dengan suara lembut.

Handero menatapnya tajam.

"Kinerjamu buruk! Uang kantor? Bukankah kau pakai untuk ke salon? Asisten pribadiku selalu melaporkan semua gerak-gerikmu! Menjadi pemegang saham kecil saja kau sudah berani korupsi, apalagi kalau saham terbesar berada di tanganmu!" serunya sambil membuang muka.

Kesal dan tersinggung, Ratna segera meninggalkan rumah. Di dalam mobil, dengan wajah panik, ia langsung menghubungi seseorang.

 Di dalam mobil, dengan wajah panik, ia langsung menghubungi seseorang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Handero

Di dalam mobil hitamnya yang berlapis kaca anti peluru, Ratna menekan layar ponselnya dengan tangan gemetar. Wajahnya pucat, napasnya memburu.

"Segera jalankan rencana. Aku tidak peduli caranya, yang penting dia harus—"

Belum sempat Ratna menyelesaikan kalimatnya, dari spion tengah, ia melihat bayangan seseorang berdiri diam di ujung jalan rumah Handero, mengenakan jas panjang dan topi hitam. Terlalu diam. Terlalu mengancam.

Ratna terdiam. "Kita... sedang diawasi," bisiknya pada dirinya sendiri.

Sopirnya menoleh. "Ibu, apakah kita langsung ke kantor?"

Ratna tidak menjawab. Pikirannya dipenuhi bayangan kata-kata Handero. "Korupsi... pengawasan... asisten pribadi..." Siapa saja yang sudah tahu? Apakah semua orang di sekelilingnya sedang memantau?

Sementara itu, di dalam rumah besar itu...

Handero kembali duduk dalam diam. Di atas pangkuannya, sebuah berkas cokelat bertuliskan:
"Operasi Burung Hantu –  Ratna Veronica"

Ia membuka lembar pertama—foto Ratna sedang menyerahkan koper hitam kepada seorang pria di tempat parkir bawah tanah. Ada cap waktu dan tempat. Di lembar berikutnya, transaksi uang dalam jumlah besar ke rekening luar negeri. Nama-nama yang terhubung mulai bermunculan.

Handero menghela napas.

"Jika dia nekat menyentuhku... dia sudah menandatangani surat kematiannya sendiri," gumamnya pelan.

☠️☠️☠️☠️

Di sebuah tempat tersembunyi, kamera tersembunyi merekam pembicaraan Ratna di mobilnya.
Di ruangan gelap, seseorang mengenakan headset tersenyum tipis.

" Kau masuk perangkap ku, belut "

☠️☠️☠️

Malam itu, Ratna masuk ke dalam gedung kantor pusat Han Corporate dengan mengenakan mantel tebal dan kacamata hitam. Di tangan kirinya, flashdisk kecil berisi data rahasia yang dicurinya dari ruang file digital. Namun, saat ia melewati lobi, lampu tiba-tiba padam. Semuanya gelap.

Pintu masuk otomatis terkunci. Alarm senyap berbunyi di pusat keamanan. Layar kamera menunjukkan Ratna yang terjebak di tengah lobi.

Dari depan monitor, seorang wanita dengan rambut sebahu tersenyum ketika melihat raut wajah ketakutan Ratna.  Ia menekan tombol on pada microphone yang tersambung di lobi itu.

Tawa nyaring terdengar memekakan telinga. Bukan tawa haru atau tawa senang, melainkan tawa intimidasi yang sangat menyeramkan. Ratna yang mendengar tawa itu seketika kedua kakinya lemas, bahkan ia sampai tak sanggup untuk berdiri. Ia terduduk lemas, pandangannya beredar kemana mana, tangannya masih menggenggam erat flashdisk itu.

" haii Ratna, mungkin kamu bisa kenal suara ini bukan? Atau jangan jangan kau lupa? HAHAHAHAHA, bagaimana keadaan hidupmu sekarang? Menderita?  Menurutku itu KURANG" Ucap wanita dari microphone.

" Mau kamu apakan file itu? Padahal kamu tau bukan kalau kau datang ke kantor ini, pasti dirimu akan mati? "

" Ohhh aku tau, sepertinya kamu lebih takut miskin daripada mati ya? " Ucap si wanita lagi.

" Kumohon, lepaskan aku, siapapun kamu, tolong lepaskan aku." Pinta Ratna  sambil memohon mohon.

" Akan aku beri apapun yang kamu minta, uang berapapun kuberi, tolong lepaskan aku."  Punya Ratna lagi.

" Uang?  Napi itu juga kau bunuh demi uang kan? " Tanya si wanita.

" Napi? B-bukan aku saja yg terlibat, mereka semua juga. "  Ucap Ratna terbata bata.

" Masa bodoh dengan yang lain, hari ini hari pemakamannya Ratna." Ucap si Wanita.

Sebelum Ratna dibunuh, security datang dari arah pintu yang tidak terkunci, dan membawa Ratna keluar dari lobi. Ratna pun merasa lega, walaupun tubuhnya masih lemas tak berdaya

UNPACkTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang