Ace terbangun dengan napas terengah-engah, peluh dingin membasahi pelipisnya. Suara jeritan dan darah-selalu itu yang muncul dalam mimpinya. Seakan waktu tak pernah bisa menjauhkan dirinya dari peristiwa kelam tiga belas tahun lalu. Wajah-wajah yang tak bisa ia lupakan. Jeritan yang menggema seperti doa terkutuk.
Ia duduk di tepi ranjang, menatap jendela yang tertutup kabut pagi. Hening, tapi menyesakkan. Ia tahu mimpi itu bukan sekadar mimpi. Itu fragmen masa lalu yang terus menghantui.
Keesokan Paginya...
Dering telepon memecah keheningan. Ace memandang ponselnya sekilas-nama "Pak Wiryo" terpampang di layar, tapi jari-jarinya tak kunjung bergerak. Dia terlalu jenuh untuk menjawab.
Setelah beberapa dering, panggilan itu beralih menjadi pesan suara. Dengan malas, Ace mendengarkannya. Suara berat Pak Wiryo terdengar tegas:
"Ace, segera ke rumah Pak Sastra. Warga ricuh. Kau tahu tugasmu."
Ace mendesah panjang. Meski malas dan pikirannya masih dipenuhi bayang-bayang mimpi buruk itu, ia tetap bergegas mengenakan jaket dan meluncur ke lokasi.
Di Kediaman Pak Sastra - Pukul 07.03
Begitu tiba, Delio langsung menyambutnya dengan makian.
"Lo molor terus! Nih orang-orang pada demo makin gila!" hardiknya.
Ace menatap Delio tajam. "Kapan gue molor? Tidur aja susah, Del!"
"Sudah kalian berdua!" bentak Pak Wiryo. "Kondisikan pendemo itu, sekarang!"
Mereka pun bergerak, menghadapi warga yang berkumpul di depan rumah Pak Sastra. Teriakan, amarah, dan spanduk tuntutan memenuhi udara.
Lalu, sebuah kalimat terdengar samar-namun cukup tajam untuk menusuk relung hati Ace.
"Pak Sastra itu pelaku pembunuhan tiga belas tahun lalu! Jangan biarkan dia lolos!"
Deg.
Ace membeku. Dunia seolah berhenti berputar. Tiga belas tahun. Pembunuhan. Kalimat itu seperti membangkitkan sesuatu yang telah lama ia kubur.
Tubuhnya limbung. Matanya membelalak. Nafasnya tercekat. Dan dalam sekejap, gelap.
☠️☠️☠️
Di Rumah Sakit
Ace membuka matanya perlahan. Cahaya lampu menyilaukan pandangannya. Aroma disinfektan menyengat hidungnya. Delio duduk di kursi samping ranjang, ekspresinya kesal.
"Lo ngapain pingsan!? Cuma ngondisiin pendemo aja, lo pingsan-gak jantan banget!" bentak Delio, sambil menjitak kepala Ace.
Ace tak membalas. Ia hanya menatap langit-langit kamar, kosong. Kalimat itu masih menggema di telinganya. Tiga belas tahun lalu. Luka lama. Dan nama... Sastra.
Tiba-tiba, Ace bicara lirih. "Del... lo percaya kalau Pak Sastra pernah ngebunuh orang?"
Delio mengernyit, heran. "Apaan sih lo? Sadar belum, ha?"
Ace menatap mata Delio-tajam dan penuh luka.
"Ada yang gak beres. Gue harus tahu... siapa sebenarnya Pak Sastra. Dan... apa hubungannya sama mimpi gue."
KAMU SEDANG MEMBACA
UNPACk
General FictionKorupsi, adalah hal yang lumrah terjadi di dunia politik. Tuan Damian Altero, ketua partai besar sekaligus calon wali kota di ibu kota.Merupakan anggota dari Han Corporate yang diketuai ketua Handero atau yang akrab di panggil ketua Han yang mem...
