Korupsi, adalah hal yang lumrah terjadi di dunia politik. Tuan Damian Altero, ketua partai besar sekaligus calon wali kota di ibu kota.Merupakan anggota dari Han Corporate yang diketuai ketua Handero atau yang akrab di panggil ketua Han yang mem...
“Orang suruhanmu itu penakut. Dia sudah tertangkap, bukan?” katanya sinis.
Oscar menghela napas dan perlahan meremas gelas di tangannya hingga retak. Matanya menyipit tajam.
“Jika dia berani buka mulut… keluarganya akan hilang satu per satu,” desis Oscar.
Sastra menatapnya tajam, lalu berkata penuh tantangan, “Lalu bagaimana kalau aku yang membuka mulut?”
Oscar tersenyum tipis, penuh ejekan. “Maka semua rahasiamu, satu per satu, akan ku bongkar ke publik.”
Ratna panik, wajahnya berubah pucat.
“Jika semuanya terbongkar… aku dan kau juga akan terseret, Oscar!” katanya cemas.
Oscar hanya menatap Ratna sambil tersenyum sinis. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Tapi dari matanya, terlihat jelas: ia telah menyiapkan langkah selanjutnya.
☠️☠️☠️
Di kantor polisi
Seorang reporter muda melangkah masuk dengan percaya diri. Namanya Leora Evengelina, dari tim redaksi CBN. Ia datang dengan misi: mengungkap lebih dalam tentang insiden pemukulan Pak Sastra saat konferensi pers.
“Permisi, saya Leora dari CBN. Saya ingin mewawancarai petugas yang tadi menginterogasi pelaku pemukulan,” katanya sopan.
Pak Wiryo, salah satu perwira senior di sana, mengangguk santai. “Silakan, kalau dia bersedia bicara.”
“ACE!” teriak Pak Wiryo memanggil polisi muda itu.
Tak lama, seorang pria tinggi dengan seragam polisi yang rapi dan tubuh kekar muncul. Wajahnya tampan, namun terlihat dingin dan tidak ramah. Ace Arsenio Jirro, nama yang sudah mulai dikenal karena reputasinya yang tegas dan sulit dilunakkan.
Saat matanya menangkap Leora, ia segera membuang pandangan. “Ada apa, Pak?” tanyanya kepada Pak Wiryo, mengusap rambutnya yang sudah rapi.
“Ini, ada reporter yang ingin mewawancaraimu,” jawab atasannya singkat.
Leora melangkah maju, mencoba tersenyum ramah. “Selamat siang, maaf mengganggu…”
Ace langsung memotong, “Semua yang terjadi dalam ruang interogasi adalah rahasia negara. Tidak bisa diungkap.”
Leora mencoba membujuk, “Tak bisakah sedikit saja informasi untuk redaksi? Ini menyangkut figur publik…”
Ace tetap dingin. “Intinya, pelaku tidak dituntut oleh Pak Sastra, sehingga tidak dikenakan hukuman pidana. Itu saja.”
Leora ingin terus membujuk, tapi Ace segera memberi isyarat agar ia pergi. “Kalau tidak ada urusan resmi, silakan keluar.”
Terusir dengan kesal, Leora hanya bisa mengepalkan tangan di balik punggungnya.
☠️☠️☠️
Di rumah Ace 22.03
Malam telah larut. Ace terbaring di tempat tidurnya, menatap langit-langit. Di sana, sebuah foto keluarga tertemorl dilangit langit, tepat diatas ranjang.
“Setiap kali Ace lihat foto itu… rasanya Mama dan Papa masih ada. Nemenin Ace di sini…” gumamnya pelan.
Ia membalikkan badan, menghadap dinding. Air matanya hampir tumpah.
“CIH! SIALAN!” umpatnya.
Ia meremas selimut, mencoba menahan tangis.
“Gue kira gue cukup kuat buat hadapin ini semua… Tapi kenyataannya? Bahkan gelandangan di jalanan aja kayaknya lebih waras dari gue…”
TING! TING! TING!
Notifikasi ponselnya berbunyi berkali-kali.
Awalnya Ace mengabaikannya.
TING! TING!
“BERHENTI!!!” teriaknya.
Akhirnya ia meraih ponsel dan membuka pesan dari nomor tak dikenal.
Nomor Tak Dikenal:
> Hehe, gue Leora.
Ace:
> Lalu?
Leora:
> Sebelumnya maaf ya, besok kamu ada waktu? Aku mau wawancara, please banget…
Ace:
> Kagak ada.
Ace mendengus. “Cewek nggak jelas ini lagi. Nggak ada kerjaan lain apa ganggu hidup orang terus?”
Namun, dalam diam, ia tak menutup pesan itu. Entah mengapa, pikirannya tak bisa berhenti memikirkan Leora. Sesuatu tentang wanita itu membuatnya terganggu. Bukan karena rasa kesal. Tapi sesuatu yang lain… yang belum bisa ia pahami.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ace Arsenio Jirro
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.