Bagi Lili, kematian bukanlah hal yang mengerikan. Kematian adalah kedamaian yang sudah lama diadambakannya. Yang Lili takutkan adalah jika dia mati membawa segala kenangan buruk yang masih terpatri lekat di ingatannya. Lili takut mati dengan keadaannya yang masih menyedihkan. Dia takut mati dan tak ada orang yang merindukannya. Dia takut mati sebelum benar-benar bisa hidup.
Sejak mengerti bahwa dia tidak sepenuhnya diterima oleh papa angkatnya, Lili bermimpi ingin lepas dari keluarga angkatnya itu setelah lulus SMA. Dia ingin bisa membangun kehidupan di atas kakinya sendiri. Merasakan kehidupan tanpa ketakutan. Mungkin dia akan mencari keluarga kandungnya. Mungkin juga tidak. Lili belum tahu apa yang akan dia perbuat dengan masa lalunya. Yang pasti, dia ingin terlepas dari kehidupan yang tak memberinya ruang untuk benar-benar hidup ini.
"Kakak cinta sama kamu. Kamu nggak akan bisa lari."
Perlahan mata Lili terbuka. Lili nanar menatap sekelilingnya. Tak ada Arion di sana. Mimpinya terasa begitu nyata.
Pandangan Lili jatuh di lengan kirinya. Daren tertidur lelap di kursi dengan kepala diletakkan di dekat lengan kirinya.
Dimana ini?
Lili mengingat-ingat lagi kejadian sebelum dia tak sadarkan diri. Bagaikan disiram air dingin, tubuhnya merinding. Tergambar jelas ingatan ketika Arion hampir memperkosanya lagi. Juga ingatan ketika Sadewa menancapkan pisau dapur ke perutnya. Raut wajah Sadewa yang sangat murka kepadanya membuatnya bergidik ketakutan. Akhirnya Sadewa melakukan apa yang pria itu ingin lakukan sejak Lili masuk ke dalam rumah itu.
"Halo, Lili?" sebuah suara berat menyapanya. Seorang pria tinggi dengan kemeja navy yang lengannya digulung setengah mendekatinya.
Pria itu menepuk pundak Daren untuk membangunkannya.
Lili tak menjawab. Tenggorokannya terasa sangat kering. Dia terus saja memandangi pria itu.
Siapa dia? Kenapa dia tahu namaku?
"Lili?" Daren terbangun. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini tampak berantakan. "Kamu udah bangun."
Lili mengangguk pelan. Tubuhnya terasa sangat lemah. Berapa lama dia berada di sini?
"Aku akan memanggil perawat." ucap pria tinggi tadi sebelum keluar dari kamar.
"Apa yang kamu rasain?" tanya Daren sambil mendekatkan dirinya kepada Lili.
"Haus." jawab Lili lirih. Suaranya parau karena lama tertidur.
Daren tersenyum. Dia mengambilkan segelas air dari nakas samping tempat tidur dan meletakkan sedotan agar Lili bisa minum tanpa harus bangun.
"Makasih, Kak." ucap Lili.
"Ada yang sakit?" tanya Daren.
Lili menggelengkan kepalanya. Dia merasa sedikit nyeri di ulu hatinya, namun dia tak ingin membuat Daren khawatir. Daren sudah berbuat banyak untuknya. Tidak perlu menambah khawatir pria itu bukan?
Tak lama Sagara kembali bersama dokter laki-laki dan seorang perawat. "Halo, Lili. Sudah bangun?" sapa dokter itu ramah.
Lili seketika tersenyum. Membuat Daren dan Sagara ikut tersenyum diam-diam. "Udah, dok."
"Saya dr Martin. Saya cek dulu detak jantungnya ya." ucap dr Martin sebelum menempelkan stetoskopnya di dada Lili. "Tarik nafas dalam, buang pelan-pelan."
Lili mengikuti instruksibdr Martin dengan baik. Gadis itu merasa canggung saat semua mata memperhatikannya. Dia tak terbiasa dengan perhatian tertuju padanya.
Dr Martin kemudian berbicara kepada perawat dengan bahasa medis yang tak Lili mengerti. Dengan sigap perawat itu segera mencatat di papannya.
"Apa perut kamu terasa sakit?" tanya dr Martin.
YOU ARE READING
Princess In Distress
ChickLitApa jadinya jika ternyata nama yang kita miliki selama ini ternyata bukanlah nama kita? Apa jadinya jika masa lalu kita yang kita tahu selama ini ternyata hanyalah sebuah kebohongan? Itulah yang Lili alami. Belasan tahun dia dibohongi oleh kedua ora...
