32. PENYESALAN AIDAN

262 22 1
                                        

-HAPPY READING-

Seminggu sejak percakapan Yara dengan Sagara dan Daren, keadaan Yara semakin memburuk. Ia hampir tidak pernah keluar dari kamarnya. Sagara, Daren, dan Aidan dapat merasakan betapa sunyinya rumah mereka tanpa tawa dan canda dari Yara. Mereka tahu Yara hampir tak pernah tidur. Kalaupun Yara tertidur, tidurnya tak pernah bisa nyenyak. Yara selalu terbangun dengan air mata mengalir di pipinya. Mimpi-mimpi buruk menghantuinya, terutama mimpi tentang Arion yang selalu membawanya kembali ke dalam kamar itu. Membawanya kembali ke peristiwa yang ingin ia lupakan.

Hari Minggu itu, Daren memberanikan diri untuk mendatangi Yara di kamarnya. Sudah seminggu ini Yara tidak mengucapkan sepatah kata pun. Hal itu membuat Daren sangat khawatir. Dengan hati-hati, ia membuka pintu kamar dan menemukan Yara duduk di kursi di samping jendela. Sorot matanya kosong, menatap ke luar dengan tatapan kosong. Aidan duduk di samping Yara, menggenggam tangannya sambil membacakan buku Harry Potter kesukaan Yara, yang mungkin tidak pernah didengar Yara. Ia selalu berusaha menemani Yara, tidak pernah meninggalkan sisinya, berharap bisa menghiburnya. Sarapan yang dibawa oleh Aidan belum tersentuh sama sekali.

"Yara." Daren memanggil dengan lembut, "Kenapa nggak dimakan sarapannya?"

Yara tak menjawab. Daren pun tak terkejut ataupun kecewa. Semakin hari rasanya Yara semakin jauh dari jangkauannya.

Aidan menghela nafas panjang dan menutup bukunya. Sakit rasanya melihat saudara kembarnya seperti ini. Terlebih dia tak tahu apa yang bisa dilakukannya untuk menolong Yara. Bahkan membaca buku pun sepertinya tak berpengaruh banyak. Yara seakan tenggelam dalam dunianya yang semakin hari semakin gelap.

"Besok pagi dr. Yasmin, psikolog yang nanganin kamu di Bali, akan datang." Daren menginfokan dengan hati-hati.

Sagara telah meminta dr. Yasmin untuk menemui Yara, berharap pertemuan itu bisa membantu adiknya untuk sedikit terbuka. Daren melanjutkan, "Mungkin akan lebih mudah buat kamu buat bicara sama dr. Yasmin, mengingat kalian udah pernah melakukan sesi konsultasi sebelumnya."

Aidan menatap Yara dengan harapan. "Ra..." ucapnya penuh harap. "Kita coba ya?" Suara Aidan bergetar, menahan tangis. Namun, Yara tetap diam, wajahnya tampak pucat dan kosong. Dia terus memandang keluar jendela, seolah ada dunia lain yang lebih baik di luar sana, dunia yang tidak lagi dapat ia jangkau. Aidan menundukkan kepalanya, menggenggam tangan Yara dengan kedua tangannya. Air mata mengalir di pipinya.

"Ra, please. Tolong balik, Ra." Aidan memohon, suaranya bergetar. "Balik sama aku seutuhnya. Aku nggak bisa terus lihat kamu kayak ini." Aidan meletakkan kepalanya di pangkuan Yara.

Dengan lembut, Aidan menggenggam tangan Yara kembali, membiarkan semua perasaan duka dan harapan terluapkan dalam genggaman tangan mereka. Yara membalas genggaman tangan Aidan. Dia meremas tangan Aidan dengan perlahan, lalu semakin keras seiring ekspresi wajahnya yang berubah.

Aidan merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Dia mendongakkan kepalanya, menatap Yara dengan cemas. "Kenapa, Ra?" tanyanya dengan nada khawatir. "Kamu kenapa?"

Yara tidak menjawab, tetapi tubuhnya bergetar. Satu tangannya memegangi perutnya. Daren, yang melihat ada sesuatu yang tidak beres pada adik perempuannya, bertanya, "Perut kamu sakit?" Kepanikan tergambar jelas dari wajah, gestur dan suaranya.

Yara tetap tidak menjawab, tetapi isak tangisnya semakin keras. Tanpa ragu, ia membopong tubuh Yara dan membaringkannya di tempat tidur. Yara masih terus terisak, mengerang kesakitan. Gadis itu meringkuk sementara Daren mengelus punggungnya, mencoba meredakan rasa sakitnya.

Di sisi lain Aidan berdiri di tempatnya. Dia terkejut saat melihat sesuatu yang tak pernah dia bayangkan. Tubuhnya mematung sejenak. Ia melihat banyak darah di tempat Yara duduk sebelumnya. "Kak, ada banyak darah!" serunya, panik.

Princess In DistressStories to obsess over. Discover now