-HAPPY READING -
Malam itu, Yara berdiri di depan cermin besar di kamarnya, memastikan bahwa penampilannya sudah rapi. Gaun sederhana berwarna peach yang dia kenakan membuatnya terlihat elegan, meskipun hatinya dipenuhi rasa cemas. Ini bukan hanya makan malam keluarga biasa. Ini adalah pertemuan dengan Om Emanuel, sosok yang diceritakan Aidan dengan nada sinis sepanjang perjalanan pulang sekolah tadi.
"Jangan terlalu berharap sama Om Emanuel." kata Aidan saat itu. "Dia cuma pura-pura peduli. Sejak Papa meninggal, dia memanfaatin situasi dan ngambil alih semuanya. Kak Saga sama Kak Daren nggak pernah ngomong apa-apa sama aku. Tapi aku yakin pasti mereka juga ngerasa sama."
Yara ingat betapa Aidan terlihat kesal saat bercerita. "Dia janji bakal ngembaliin posisi CEO ke Sagara begitu aku atau kamu udah balik ke rumah, tapi... sampai sekarang dia pura-pura nggak tahu kamu udah pulang."
Cerita itu membuat Yara merasa waspada. Sulit baginya memahami bagaimana seorang paman bisa menggunakan kesedihan keponakannya demi keuntungan pribadi. Dia pikir keluarga kandung tak akan saling menjatuhkan. Rupanya dia salah. Sekarang, dia akan bertemu langsung dengan orang yang dibicarakan Aidan itu, dan hatinya penuh dengan perasaan tidak nyaman.
Setibanya di rumah Om Emanuel, Yara terpana melihat mewahnya tempat itu. Rumah tersebut hampir serupa dengan rumah mereka sendiri, hanya saja lebih mewah dan penuh hiasan mahal. Sama seperti di rumah mereka, lukisan-lukisan besar terpajang rapi di dinding. Beberapa patung binatang berwarna emas menghiasi setiap sudut ruangan, seolah pemilik rumah ingin menunjukkan betapa banyak uang yang dia miliki ketika seseorang memasuki rumahnya. Yara merasa semua itu sedikit berlebihan.
Yara melirik Sagara dan Aidan, yang terlihat biasa saja dengan kemewahan ini, seolah mereka sudah terbiasa. Tapi bagi Yara, semua ini masih terasa asing. Dia menegakkan bahu, mencoba terlihat tenang saat sepasang suami istril menyambut mereka. Lelaki itu tampak berusia 50an tahun. Belum ada rambut putih yang terlihat di kepalanya, namun Yara bsa melihat beberapa kerutan di wajahnya yang kini tersenyum pada mereka. Sementara wanita di sampingnya sama sekali jauh dari bayangan Yara. Aidan memberitahu bahwa Om Emanuel memiliki seorang istri bernama tante Rosalinda. Tetapi Aidan tidak mengatakan bahwa Tante Rosalinda merupakan keturunan asing.
"Yara, akhirnya kita bertemu," kata Tante Rosalinda dengan senyum hangat. Suaranya menunjukkan aksen Australia yang kental. Yara sudah sangat sering mendengar aksen itu saat tinggal di Bali. Dia tersenyum sambil membalas pelukan tiba-tiba dari Tante Rosalinda.
"Akhirnya kita bisa bertemu. Bagaimana kabar kamu, Yara?" Om Emabuel bertanya.
"Baik, Om" jawab Yara.
"How about we have this conversation over dinner?" Tante Rosalinda mengusulkan.
"That'd be great. Ayo kita langsung ke ruang makan." Om Emanuel mempersilakan mereka semua ke ruang makan.
Di meja makan obrolan ringan mereka berlanjut, Yara beberapa kali menjawab pertanyaan Tante Rosalinda menggunakan bahasa inggris, yang membuat Tante Rosalinda terkesan. Yara menceritakan pada Om Emanuel dan Tante Rosalinda bahwa di Bali dia bejkerja di sebuah toko buku milik orang Belanda. Dia juga sering berhadapan dengan wisatawan asing, sehingga baginya bahasa inggris adalah makanan sehari-hari.
Aidan masih tampak tak begitu senang dengan kegiatan makan malam ini. Yara bisa merasakannya. Perhatian Yara tertuju pada Om Emanuel. Lelaki itu tampak ramah di permukaan. Hal itu membuat Yara tak bisa memahami kenapa Aidan merasa bahwa Om Emanuel adalah orang yang licik.
Tak lama, seorang gadis memasuki ruang makan dan bergabung dengan mereka. Tante Rosalinda mengenalkan gadis itu. "Yara, ini adalah anak kami. Amora."
Amora adalah gadis berpenampilan modis, dengan rambut panjang bergelombang dan tatapan percaya diri. Usianya ternyata tidak jauh berbeda dari Yara dan Aidan. Yara dan Amora saling berpelukan. "Akhirnya aku bisa ketemu sama orang yang selama ini selalu diceritain orang-orang." Amora berucap dengan nada bercanda. "Aku sering dengar cerita tentang kalian dari Papa dan Mama."
Pertemuan itu berlangsung dengan lancar, tak seperti yang dia bayangkan sebelumnya. Meski begitu, Yara merasa ada ketegangan yang tak terlihat di antara keluarganya dan Om Emanuel.
Saat makan malam dimulai, meja penuh dengan makanan mewah yang tampaknya disiapkan khusus untuk acara ini. Namun, suasana hangat itu berubah begitu Om Emanuel mulai membuka pembicaraan.
"Jadi, Yara," kata Om Emanuel sambil tersenyum tipis. "Bagaimana kehidupanmu di Bali? Aku dengar kamu mengalami masa-masa yang cukup sulit."
Yara menegang mendengar pertanyaan itu. "Iya, Om." jawabnya singkat, tak ingin mengungkit masa lalu yang menyakitkan.
Om Emanuel mengangguk perlahan. "Aku tidak menyangka kamu akhirnya bisa kembali. Itu benar-benar keajaiban. Kami semua sangat bersyukur atas kepulanganmu."
Ucapan itu terdengar tulus, tapi bagi Yara, ada sesuatu yang terasa salah. Seakan-akan Om Emanuel ingin menekankan betapa "beruntungnya" dia bisa kembali.
Aidan yang duduk di sebelah Yara menyadari perubahan ekspresi saudaranya. Tanpa suara, dia meraih tangan Yara di bawah meja dan menggenggamnya erat, seolah ingin berkata: 'Tenang, aku ada di sini.'
Sagara kemudian mengambil kesempatan untuk mengangkat topik yang selama ini mengganggunya. "Om, aku ingin bicara sedikit tentang janji yang dulu Om buat," katanya dengan nada tenang tapi tegas.
Om Emanuel menatap Sagara sejenak, lalu tersenyum tipis. "Oh, tentu, kita bisa bicarakan itu di kantor nanti. Ini kan acara reuni keluarga, Sagara. Tak perlu membawa urusan bisnis ke meja makan."
Sagara tak menunjukkan ekspresi marah, tapi jelas ada sindiran di balik kata-katanya. "Benar juga. Lagipula, tujuan utama kami datang malam ini adalah untuk menunjukkan bahwa Yara sudah benar-benar pulang. Sekarang, Om punya waktu untuk meresapi kenyataan itu."
Kata-kata Sagara menggantung di udara seperti sebuah peringatan halus. Seketika Yara bisa merasakan suasana menjadi lebih tegang. Tante Rosalinda melirik ke arah suaminya sejenak sebelum kembali tersenyum dan mempersilakan para tamunya untuk menikmati hidangan. Sepertinya Tante Rosalinda paham dengan situasi yang suaminya hadapi.
Yara menunduk, merasakan ketegangan di antara keluarganya itu. Aidan, di sisi lain, hanya tersenyum tipis seolah menikmati momen ini. Momen di mana Sagara secara elegan menegaskan bahwa keluarga mereka kembali lengkap dan posisi Om Emanuel tak lagi aman.
Setelah makan malam usai, mereka pindah ke ruang tamu untuk menikmati kopi dan hidangan penutup. Yara dan Aidan duduk di samping Daren, sementara Amora bergabung dan mulai mengobrol dengannya tentang sekolah.
"Aku denger kamu sekolah bareng Aidan, ya?" tanya Amora.
"Iya, aku baru pindah beberapa minggu lalu," jawab Yara.
Amora tampak antusias mendengar itu. "Mungkin suatu hari kita bisa nongkrong bareng. Aku juga sering main ke kafe-kafe di sekitar sana."
Yara tersenyum. "Boleh, aku seneng kalau ada teman baru."
Di sudut ruangan, Yara bisa melihat Sagara dan Om Emanuel masih terlibat percakapan serius. Suaranya tak sampai terdengar jelas. Tapi dari sorot mata Sagara, Yara tahu bahwa dia sedang berusaha menegaskan sesuatu. Sesuatu yang selama ini mengganjal dalam hatinya.
Aidan menyenggol lengan Yara pelan. "Gimana perasaan kamu?" bisiknya. Aidan memahami posisi saudara kembarnya itu. Yara belum benar-benar sembuh dari luka lamanya. Menghadapi situasi konflik sekecil apapun bisa membuat Yata merasa tak nyaman.
Yara menarik napas dalam-dalam dan berbisik. "Nggak tahu." Yara menjawab jujur. "Kamu bener. Aku ngerasain apa yang kamu ceritain tadi siang."
Aidan mendengus. "Jelas banget kan kalau dia orang licik. Kamu harus hati-hati sama orang itu. Kita nggak tahu apa yang bisa dia lakuin buat pertahanin posisinya."
Perasaan Yara semakin tak nyaman. Semakin lama Yara melihat Om Emanuel berbicara dengan Sagara, Yara bisa semakin jelas melihat bahwa Om Emanuel adalah orang yang manipulatif. Orang ini jelas tak bisa dipegang kata-katanya. Mungkin benar ucapan Aidan. Dia harus berhati-hati menghadapi Om Emanuel.
-TO BE CONTINUED -
YOU ARE READING
Princess In Distress
ChickLitApa jadinya jika ternyata nama yang kita miliki selama ini ternyata bukanlah nama kita? Apa jadinya jika masa lalu kita yang kita tahu selama ini ternyata hanyalah sebuah kebohongan? Itulah yang Lili alami. Belasan tahun dia dibohongi oleh kedua ora...
