19. SUARA YARA

375 32 1
                                        

Ternyata menjadi orang dengan banyak uang itu melelahkan. Ketika kita hanya memiliki sedikit uang, maka kita cukup pergi ke suatu tempat, membeli apa yg perlu kita beli, lalu pulang. Tetapi kini di sini lah Yara. Duduk di depan sebuah departemen store, menunggu Daren dan Aidan yang tengah membeli entah apa lagi untuknya.

"Ini buat jogging." ucap Daren sembari menenteng kotak sneakers.

"Jogging?" tanya Yara seolah kebingungan. Tidak pernah ada cerita di hidupnya dia melakukan olahraga di luar pelajaran olahraga di sekolah.

"Mulai besok kamu ikut Kakak jogging. Bisa pagi jam setengah enam, atau sore sepulang Kakak kerja. Baru abis itu kamu boleh mulai ngegym." jawab Daren.

"Ngegym?!" Yara membelalakkan matanya. Dia sama sekali tidak memiliki rencana untuk masuk ke ruangan home gym di dalam rumah mereka.

Daren menganggukkan kepalanya dengan enteng seolah hal itu bukanlah persoalan besar. Tetapi bagi Yara, tentu saja itu adalah persoalan besar. Dia sama sekali tidak terbiasa dengan aktivitas fisik dan dia pun tidak memiliki rencana merubah kebiasaannya.

"Aku udah dapet nih. Nggak tahu kamu suka yang mana. Jadi aku beli semuanya." Aidan muncul dengan membawa 4 paperbag yang entah apa isinya.

Yara memandangi kantong itu dengan penuh curiga. Dia curiga mereka lagi-lagi membeli barang yang tidak benar-benar dia perlukan. Sejauh ini mereka sudah berhasil memaksa Yara untuk membeli HP baru, laptop, beberapa pasang flatshoes, baju-baju baru, perlengkapan sekolah baru, bahkan barang-barang yang mereka rasa 'akan Yara butuhkan' untuk mendekor kamarnya. Kamarnya sudah sempurna. Apa lagi yang akan dia rubah?

"Apa itu?" tanya Yara menunjuk kantong yang dibawa Aidan.

"Jaket." jawab Aidan mengedikkan bahunya.

"Aku udah punya jaket. Dua." Yara mengangkat dua jarinya untuk menekankan maksud perkataannya.

"Terus? Nggak harus dipakai barengan kan." jawab Aidan sambil lalu. "Aku laper banget. Kita makan dulu." ucap Aidan sambil menggandeng tangan Yara.

Yara tak berkutik. Dia mengikuti langkah Aidan. Lebih tepatnya mengikuti kemana Aidan akan membawanya.

Di belakang Yara, diam-diam Daren tersenyum melihat dua adik kembarnya. Sejak semalam Aidan tak membiarkan Yara lepas dari pandangannya. Bahkan jika bukan karena Sagara mengancam akan memasukkan Yara ke sekolah yang terpisah dengannya, Aidan ingin tidur sekamar dengan Yara. Alasannya sederhana dan mengharukan sebenarnya. Dia ingin merasakan menjadi saudara kembar dan menebus kenangan yang seharusnya mereka bangun saat kecil.

Daren hampir saja luluh mendengar alasan yang dilontarkan Aidan. Tetapi Sagara dengan tegas melarangnya. Selain mereka kini sudah dewasa dan tidak etis, Sagara tidak ingin Yara merasa tidak nyaman. Gadis itu baru saja mengalami peristiwa traumatis yang berkaitan dengan laki-laki. Sagara ingin Yara merasa nyaman dan aman di rumah barunya dengan memberinya ruang sendiri dan menjaga privasinya.

Aidan masuk ke dalam restoran italia yang ada di mall itu. Yara masih mengikuti di belakangnya.

Aidan dan Daren dengan cepat bisa menentukan menu yang akan mereka santap siang itu. Sedangkan Yara, satu-satunya makanan italia yang pernah dia rasakan adalah spageti instan yang dia masak sendiri di rumah. Semua nama makanan yang ada di daftar menu sangat asing baginya. Beruntungnya Aidan mengerti bahwa kembarnya sedang kebingungan, jadi dia menyarankan Yara untuk memesan yang sama dengannya yaitu lasagna. Daren juga memesankan seporsi Canolli dan gelato untuknya. Daren tahu bahwa Yara suka makanan manis dan yakin Yara akan menyukai hidangan tersebut.

"Nanti sore aku ada latihan. Aku pengen ajakin kamu ke latihan." ucap Aidan sesaat setelah pelayan pergi.

"Latihan?" tanya Yara tak paham.

Princess In DistressStories to obsess over. Discover now