-HAPPY READING-
Hari-hari di sekolah terasa berlalu dengan cepat. Memiliki teman Ghea, Yara merasa seperti menemukan dunia yang tepat untuknya. Ghea adalah teman yang luar biasa. Mereka selalu duduk bersebelahan di kelas, makan siang bersama, dan menghabiskan waktu sepulang sekolah. Persahabatan mereka tumbuh dengan alami, seakan mereka telah saling mengenal sejak lama. Salah satu kebiasaan baru mereka adalah menonton pertandingan basket di sekolah, dan tentu saja, alasan utama mereka datang adalah untuk melihat Aidan.
Aidan selalu tampil menonjol di lapangan sebagai kapten tim. Setiap kali dia mencetak poin, dia sering melirik ke arah Yara dan Ghea, seolah ingin memastikan bahwa mereka memperhatikannya. Yara hanya bisa tertawa geli melihat tingkah saudaranya itu.
“Tengil banget sih. Suka pamer, ya?” Ghea menggerutu sambil menyikut lengan Yara ketika Aidan berhasil memasukkan bola lagi dengan gerakan yang tampak sengaja dibuat dramatis.
“Iya. Sok ganteng. Mana banyak yang ngefans lagi.” jawab Yara. Dari luar dia tampak terganggu dengan sikap Aidan yang suka memamerkan keahliannya. Tetapi dalam hati dia sangat bangga dengan saudara kembarnya itu. Meski baru saja mengenal kembali Aidan setelah sekian lama, dia merasa semakin akrab dengan sifat-sifat saudaranya itu. Salah satu yang membuatnya sering merasa tak tahan adalah sifat sok ganteng di depan para perempuan.
Aidan sangat suka tebar pesona di hadapan para perempuan. Bukan hanya siswa perempuan di sekolah ini saja. Ketika mereka pergi berdua pun Aidan selalu menarik perhatian banyak perempuan dari berbagai kalangan. Yang menjadi masalah bagi Yara adalah dia tahu betul bahwa Aidan tak akan pernah meladeni perempuan yang mendekatinya. Entah sudah berapa hati perempuan yang Aidan patahkan, tetapi Yara belum melihat satu perempuan pun yang benar-benar dianggap serius oleh Aidan. Pernah suatu kali Yara bertanya pada Aidan mengenai orientasi seksualnya. Hal itu mengakibatkan Yara digelitiki hingga memohon ampun.
Sore itu, seusai pertandingan, Ghea ikut pulang bersama Yara dan Aidan. Mereka bertiga berjalan santai menuju parkiran mobil sambil bercanda dan tertawa. Aidan mengantar mereka ke rumah dengan mobilnya sebelum pergi bersama teman-temannya, meninggalkan Ghea dan Yara di rumah.
“Nggak ada siapa-siapa di rumahku,” ujar Ghea sambil tersenyum. “Makanya aku ikut kamu aja hari ini.”
Yara senang Ghea memilih untuk menghabiskan waktu bersamanya. Di kamar Yara, mereka duduk bersila di atas karpet, bercengkrama sambil meminum jus dingin yang baru saja mereka buat di dapur.
“Kamu betah tinggal di sini?” tanya Ghea tiba-tiba, sambil menatap Yara dengan rasa ingin tahu.
Yara mengangkat bahu, berpikir sejenak. “Nggak tahu deh… Rasanya masih aneh tinggal di sini. Tapi aku bersyukur karena semua orang di sini baik sama aku.”
Ghea mengangguk, lalu, dengan nada ringan, dia bertanya lagi. “Kamu dulu tinggal di Bali, kan? Pernah kerja juga katanya di sana?”
“Iya.” jawab Yara sambil tersenyum tipis. “Aku kerja di coffee shop sama di toko buku juga. Toko bukunya punya orang Belanda. Orangnya baik banget. Dari situ aku ketemu sama Kak Daren.”
“Oh, jadi itu kenapa kamu jago bahasa Inggris.” Ghea menimpali.
Yara mengangguk. “Iya, lumayan lah. Kak Daren sering datang ke toko itu. Dia suka ngobrol sama aku. Dari situ, kami jadi dekat. Sampai akhirnya… aku sampai di sini deh”
Ghea mengangguk mendengar cerita Yara. Dia sudah pernah sedikit mendengar cerita mengena Yara dari Aidan. Dia tak menyangka kejadian seperti itu benar ada di dunia nyata. Kedengarannya seperti di film drama.
YOU ARE READING
Princess In Distress
ChickLitApa jadinya jika ternyata nama yang kita miliki selama ini ternyata bukanlah nama kita? Apa jadinya jika masa lalu kita yang kita tahu selama ini ternyata hanyalah sebuah kebohongan? Itulah yang Lili alami. Belasan tahun dia dibohongi oleh kedua ora...
