34. UCAPAN PERPISAHAN

281 20 0
                                        

Hai lovely readers :*

Just informing, cerita ini tinggal satu chapter lagi. Sudah aku siapin satu chapter terakhirnya T.T

Ada 2 extra chapter ya di karyakarsa. Linknya ada di bioku.

Finally aku selesain cerita ini. Thank you for staying. Thank you for supporting. Stay healthy, stay happy you guys :*

-HAPPY READING-

Lorong markas itu diselimuti kesunyian. Kesunyian yang menakutkan, di mana hanya suara langkah kaki penjaga dan bisik-bisik beberapa staf medis yang terdengar. Namun di dalam salah satu ruang tahanan, suasana tegang terasa begitu pekat.

Sagara, Daren, dan Aidan kini berada di ruangan dingin tanpa jendela itu. Ruangan di mana mereka menempatkan Arion dan Emanuel dalam satu sel yang kotor dan sempit. Di sana, hanya ada tiga kursi kayu yang disediakan oleh penjaga, tempat Alexander bersaudara duduk untuk menghadapi dua orang yang telah mengganggu ketenangan hidup keluarga mereka.

Arion duduk di lantai sebelah kiri. Sorot matanya menampakkan dengan kepasrahan dan ketakutan. Sementara Emanuel duduk di seberang, terdiam dengan raut wajah yang masih saja angkuh. Tatapan matanya seakan menantang tiga bersaudara itu untuk menghabisinya. Kaki dan leher mereka dirantai, kedua tangan diborgol, membuat mereka tak berdaya.

Sudah hampir dua minggu mereka terkurung di bawah sini, dan selama itu pula, suasana di antara mereka berdua telah berubah. Pada awalnya, mereka saling menyalahkan. Tetapi kini, setelah berhari-hari terkurung dalam kegelapan, mereka menyerah pada takdir yang tidak bisa dihindari. Takdir yang menanti mereka adalah kemurkaan Alexander bersaudara.

“Kapan kau akan membunuh kami, Sagara?” tanya Emanuel dengan nada mengejek. Meskipun dari luar dia tampak angkuh, tetapi dalam hatinya dia berharap agar Sagara segera mengakhiri penderitaannya. Dia memilih untuk mati daripada merasakan hukuman ini lebih lama lagi.

“Cih!” Sagara menatap mereka dengan dingin. “Kematian terlalu mewah untuk kalian berdua.” jawabnya tegas. “Aku tidak akan membunuh kalian sekarang. Aku akan membuat kalian memohon untuk dibunuh.” Di dalam hatinya, amarah menggelegak, tetapi dia berusaha tetap tenang. “Aku tidak akan menuruti permohonan kalian, sama seperti saat kalian tidak menuruti Yara ketika gadis kecil itu memohon ampun.”

Daren, yang sejak tadi diam, akhirnya berbicara. “Hari ini, kami nggak akan nyentuh kalian. Hari ini adalah hadiah untuk Aidan. Kami akan kasih dia waktu satu jam. Sebagai hadiah perpisahan.”

Aidan tersenyum menyeringai mengerikan. Lelaki muda itu sudah menantikan hari ini sejak mengetahui apa yang dilakukan oleh Arion dan Emanuel pada Yara. Aidan akan memanfaatkan waktu singkatnya sebaik-baiknya. Tidak akan ada kata ampun untuk mereka berdua.

Di tengah kesunyian yang menegangkan, tiba-tiba, Arion menangis. Air mata mengalir di pipinya. “Tolong.” ujarnya dengan suara terisak. “Kasih aku satu kesempatan terakhir buat ketemu Lili. Aku mau meminta maaf sama Lili. Apa yang udah aku lakukan… aku sangat menyesal.” Arion terisak seperti anak kecil.

Mendengar permohonan itu, Aidan tidak bisa menahan amarahnya. Dia menggeram, lalu menendang perut Arion dengan keras hingga Arion tersungkur ke lantai. “Apa lo kasih kesempatan buat adek gue ngebela diri? Apa lo pernah kasih kesempatan buat adek gue istirahat, hah?!” tanya Aidan dengan nada tinggi. “Nggak akan ada lagi kesempatan buat lo!” Suara Aidan penuh kemarahan dan kebencian. Setiap kata yang diucapkan oleh Arion hanya menambah kemarahan dalam dirinya. “Dan satu hal lagi yang perlu lo inget! Nama dia adalah Yara. Bukan Lili.”

Princess In DistressStories to obsess over. Discover now