31. AMBIL TINDAKAN

278 26 0
                                        

-HAPPY READING-

Pulang. Yara berkali-kali mendengar ketiga kakaknya mengatakan bahwa dia sudah pulang. Dia aman. Tak akan ada yang akan menyakitinya lagi. Benarkah?

Beberapa minggu setelah berada di rumah, Yara seperti kehilangan dirinya yang lama. Senyum cerianya menghilang, digantikan oleh keheningan yang muram. Setiap kali Sagara, Daren atau bahkan Aidan berusaha berbicara dengannya, Yara akan mengalihkan pandangan, seakan semua kata-kata itu tidak pernah ditujukan padanya. Dia menolak untuk berbicara tentang apa yang dia alami selama berada di rumah Arion. Dia juga menolak untuk menemui psikolog yang datang ke rumah beberapa hari setelah dia pulang. Yara menghindari semua orang. Dia menutup dirinya rapat-rapat dari dunia. Dia menyembunyikan rasa sakitnya dalam-dalam di tempat yang tak bisa diusik oleh orang lain.

Selama berada di rumah, Yara memaksakan diri untuk ikut makan bersama saat waktu makan tiba. Tetapi saat duduk di meja, dia hampir tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia ikut duduk di meja makan agar tak ada yang mengusiknya.

Aidan, yang biasanya ceria dan penuh semangat, kini merasakan kesedihan setiap kali melihat adik kembarnya yang tampak begitu terpuruk dalam traumanya. Yara memang ada di hadapannya. Tapi rasany Yara sangat jauh dari jangkauannya. Dia bisa menggenggam tangan Yara, tetapi dia tak bisa berbagi apa yang Yara rasakan. Yara, adik kembarnya yang selalu berbagi apapun dengannya, kini berubah menjadi sosok yang sangat asing.

Sagara dan Daren tahu bahwa kondisi ini bukanlah Yara yang mereka kenal. Mereka memberikan waktu kepada Yara, mengizinkannya untuk tidak pergi ke sekolah hingga dia merasa benar-benar pulih. Namun, Yara tidak menunjukkan reaksi apapun terhadap perkataan Sagara maupun Daren. Adik mereka itu tidak membantah dan juga tidak menolak tawaran itu. Semuanya seolah tersimpan dalam diamnya.

Pagi itu, saat mereka sedang sarapan, Sagara memecahkan keheningan melingkupi meja makan. “Aku mendapatkan email dari Amora.” katanya. “Dia menyampaikan permohonan maafnya kepada kita, terutama kepada Yara. Dia berharap suatu saat kita bisa bertemu dalam keadaan yang lebih baik. Dia memutuskan untuk ikut Tante Rosa ke Australia.”

Daren menyeruput kopi paginya. Dia menghela nafas dalam dan berat. “Sayang banget Amora harus kena imbas dari perbuatan Emanuel. Padahal dia anak yang baik.” ucap Daren. Selama ini dia mengenal Amora sebagai gadis yang baik, tak pernah terlibat dengan pergaulan bebas. Bahkan pendidikannya pun berjalan dengan baik.

Mendengar nama Emanuel, Yara menundukkan kepala, tidak merespon.

Aidan yang duduk di samping Yara memperhatikan adik kembarnya itu tampak semakin tenggelam dalam pikirannya. Ia mengamati betapa adiknya itu tidak merespons sama sekali. Hal ini tentu saja tidak luput dari perhatian Sagara.

“Aidan, cepat berangkat ke sekolah. Kamu sudah hampir terlambat.” perintah Sagara, memecah keheningan lagi.

Aidan sebenarnya sengaja mengulur-ulur waktu agar bisa tinggal di rumah dan menemani Yara, tetapi Sagara tidak memberikan kelonggaran sedikit pun. Aidan lalu berpamitan untuk berangkat. Sebelum pergi, dia mengecup pelipis Yara seperti yang selalu dia lakukan, berharap bisa mengembalikan sedikit kehangatan yang perlahan hilang dari gadis itu.

Setelah Aidan pergi, Daren mencoba membuka percakapan yang lebih mendalam mengenai kondisi Yara. “Yara,” katanya lembut, “apa yang bisa Kakak lakukan buat membantumu?”

Yara mengangkat kepala dan menatap Daren dengan mata kosong. “Aku baik-baik aja kok. Nggak perlu bantuan Kakak.” jawabnya, mengalihkan pandangan kembali ke makanan di piringnya yang hampir tak tersentuh.

Daren menghela nafas dalam. “Yara, kamu sekarang udah ada di rumah yang aman. Di sini, kamu nggak perlu nyembunyiin perasaan kamu. Kalau kamu butuh bantuan, kami semua ada buat kamu.”

Princess In DistressStories to obsess over. Discover now