-HAPPY READING-
Yara berdiri diam di samping jendela. Jendela itu dilengkapi dengan teralis besi yang membuatnya merasa semakin merasa terkurung. Di luar, hanya ada hamparan hutan yang tak berujung, begitu sunyi dan menakutkan. Tak ada jalan keluar dari tempat ini, Yara tahu itu. Sudah hampir sebulan ia tinggal di rumah mewah yang terasa bagai neraka ini, terasing dari dunia luar. Arion tak pernah memberinya sedikit pun kesempatan untuk melarikan diri dari keadaan. Setiap pintu terkunci rapat, dan setiap sudut rumah ini diawasi.
Yara masih ingat dengan jelas bagaimana Om Emanuel, dengan mudahnya menyerahkan dirinya kepada Arion. Sempat terbersit dalam pikirannya, kenapa Om Emanuel tak langsung membunuhnya saja jika ia ingin dia pergi selamanya? Lebih mudah, lebih cepat, daripada mengurungnya di tempat terisolasi ini. Terlebih saat Yara memahami bahwa penculikannya 17 tahun yang lalu pun didalangi oleh orang yang sama. Om Emanuel memiliki banyak kesempatan untuk menghabisinya. Tetapi dia tak melakukannya. Mengapa? Menghabisinya akan mempermudah apapun yang dia rencanakan.
Yara menatap sekeliling kamar yang kini seperti penjara. Tanpa cermin, tanpa benda tajam apapun, tanpa alat tulis. Tak ada apapun yang bisa ia gunakan untuk melukai Arion atau dirinya sendiri. Bahkan alat makannya pun terbuat dari plastik murahan. Semua diatur sedemikian rupa agar ia tidak punya kekuatan sedikit pun. Bukan hanya tubuhnya yang terkurung di sini, tetapi juga pikirannya, terkungkung dalam rasa putus asa dan ketidakpastian.
Di luar kamar, Yara bisa mendengar keributan kembali terdengar. Suara keras Arion dan Ayana, kekasihnya, saling bersahutan. Beberapa hari setelah dia tiba di sini, dia akhirnya tahu bahwa Starla bukanlah nama sebenarnya. Perempuan yang selama ini dia anggap sebagai teman itu ternyata adalah kekasih Arion yang bernama Ayana.
Sayup-sayup Yara bisa mendengar semua yang Arion dan Ayana perdebatkan di luar sana. Nama Yara beberapa kali terlontar dari mulut mereka. Perselisihan antara Arion dan Ayana hampir selalu tentang dirinya. Ayana sering kali cemburu dengan perhatian yang berlebihan dari Arion kepada Yara.
Entah apa yang membuat gadis seperti Ayana begitu rela menyerahkan dirinya untuk lelaki seperti Arion. Ia bahkan membantu Arion menangkap Yara dan membawanya ke sini. Ayana tahu betul bahwa Arion memperlakukan Yara dengan buruk. Tidak hanya secara fisik, tapi juga secara mental.
Di awal, Yara begitu marah kepada Ayana karen berbohong padanya. Bagaimana mungkin seorang wanita bisa melihat kekejian seperti ini dan hanya diam? Namun seiring berjalannya waktu, rasa marah itu berubah menjadi rasa kasihan. Ayana hanyalah korban manipulasi Arion. Cinta buta telah mengubahnya menjadi seseorang yang tak lagi bisa berpikir jernih, rela disakiti dan dikhianati demi memuaskan nafsu lelaki yang jelas tak pernah benar-benar mencintainya.
Keributan di luar kamar tiba-tiba berhenti. Suasana rumah kembali sunyi. Yara menegang, hatinya berdebar kencang. Saat itulah suara kunci berderak dari arah pintu kamar. Arion masuk dengan wajah dingin, lalu mengunci pintu di belakangnya. Mata Yara menatapnya penuh kewaspadaan, jantungnya berdegup tak karuan. Ia tahu betul apa yang akan dilakukan Arion.
Arion melangkah mendekat, dengan senyum yang membuat darah Yara berdesir ngeri. "Udah hampir sebulan kamu di sini, Lili." ucapnya pelan. "Tubuh kamu udah kembali terbiasa dengan sentuhanku. Terus kenapa kamu masih berpura-pura menolakku? Kamu tahu permainan ini akan berakhir kayak apa kan? Nyerah aja dan nikmatin semuanya. Cuma kamu wanita yang mendapatkan semua ini dari aku."
Yara mengangkat dagunya, menatap Arion dengan penuh kebencian. "Kamu menjijikkan," katanya dengan suara bergetar, namun penuh keteguhan. "Aku nggak akan pernah nyerahin diriku buat kamu."
Arion tertawa kecil, seakan-akan perlawanan Yara hanyalah candaan baginya. "Kamu bikin permainan ini makin asik." gumamnya sambil mendekat, matanya berkilat dengan niat busuk. "Aku suka ketika kalau kamu melawan."
Yara mundur beberapa langkah hingga punggungnya menabrak dinding. Tak ada tempat lagi untuk lari. Saat Arion melangkah cepat ke arahnya, Yara mencoba menendang, namun Arion dengan mudah menangkisnya. Ia jatuh tersungkur di lantai. Tangannya berusaha menahan Arion yang kini menindihnya, tapi kekuatannya tak sebanding dengan Arion.
"Teriak aja yang kenceng." bisik Arion di telinganya sambil tertawa. "Nggak ada yang bisa denger kamu di sini."
Yara menjerit sekeras-kerasnya, menendang dan memukul dengan sisa tenaga yang ia miliki, namun semuanya sia-sia. Tubuh Arion terlalu berat dan kekuatan Yara tak mampu melawannya. Air mata bercucuran di pipinya, mencampur rasa marah, takut, dan putus asa. Ini bukan sekadar permainan bagi Arion. Ini adalah caranya menunjukkan kekuasaannya, cara dia menunjukkan bahwa tak ada satu pun yang bisa menentangnya.
Arion mencengkeram kedua tangan Yara, menekannya kuat-kuat ke kasur. Yara terus meronta, tapi setiap perlawanan yang ia lakukan hanya membuat Arion semakin bersemangat. Seolah-olah Arion menikmati kepedihan dan rasa takut yang ia timbulkan.
Saat itulah pintu kamar tiba-tiba terbuka. Ayana berdiri di ambang pintu, wajahnya merah karena marah, tapi sorot matanya penuh luka. "Arion, cukup!" teriaknya, suaranya bergetar namun tegas.
Arion menoleh dengan kesal. "Apa lagi, Ayana?" tanyanya gusar. "Kamu tahu aku nggak suka diganggu waktu…"
"Nggak. Aku nggak tahan lagi lihat kamu memperlakukan perempuan kayak gini." potong Ayana. Matanya kini menatap Yara sejenak, seolah meminta maaf pada Yara atas apa yang menimpanya. "Kamu janji sama aku. Kamu bilang kamu nggak akan nyentuh dia kayak gini lagi."
Arion berdiri, dengan gerakan cepat dan kasar melepaskan Yara. "Kamu cemburu aku lebih perhatian sama Lili?" ejeknya. "Keluar dari kamar ini terus tutup telinga kamu rapat-rapat.”
Ayana mengepalkan tangannya, mencoba menahan amarah yang membara di dadanya. Hatinya sakit mendengar ucapan Arion. Arion adalah lelaki pertama yang dia cintai sepenuh hatinya. Dia tidak menyangka lelaki itu akan mematahkannya separah ini. "Aku sayang sama kamu, Arion. Aku cinta sama kamu. Apa nggak ada sedikitpun ruang buat aku di hati kamu?" Suara Ayana terdengar sangat putus asa.
Yara yang masih terguncang berusaha mengatur napasnya. Dia bangun dan membenahi bajunya yang hampir tak menutupi apapun. Yara menatap Ayana dengan rasa tak percaya dan harapan. Apakah mungkin Ayana, meski telah begitu terjerat dalam pesona gelap Arion, masih memiliki sedikit hati nurani? Adakah harapan untuk Yara bahwa Ayana akan membantunya keluar dari sini?
Arion mendekat ke Ayana, mencengkeram dagunya dengan kasar. "Cinta? Kamu tahu apa artinya cinta, Ay? Ini cinta. Punya kekuasaan penuh atas orang lain.” Arion menunjuk ke arah Lili. “Kamu cinta sama aku karena aku bisa kasih apapum buat kamu itu, kan? Aku ambil kamu dari jalanan, aku kasih kamu makan, tempat tinggal, baju, kehidupan. Semuanya. Karena itu kamu cinta sama aku kan? Cintamu ke aku nggak akan bisa nandingin cintaku ke Lili."
Ayana tak menjawab. Dia hanya berdiri di sana dan menatap Arion dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu nggak akan pernah ninggalin aku," bisik Arion, suaranya penuh ancaman. "Kamu tahu apa yang bakal terjadi kalau kamu coba-coba melawan."
Ayana menggigit bibir bawahnya. Hatinya berada di persimpangan antara takut dan rasa bersalah. Yara menyadari bahwa ini mungkin satu-satunya kesempatan baginya. Jika Ayana benar-benar berniat membantunya, ini mungkin saatnya. Namun sebelum Yara bisa bertindak lebih jauh, Arion mendorong Ayana keluar dari kamar. "Keluar," perintahnya. "Aku selesain urusanku di sini."
Ayana mematung di ambang pintu, terlihat ragu. Untuk pertama kalinya, ada ketakutan dan keraguan di wajahnya yang selalu terlihat tegar.
Yara memandang Ayana penuh harap, mencoba meminta pertolongannya. Namun Ayana melangkah pergi, meninggalkan Yara berdua dengan monster yang tak tahu belas kasihan.
Pintu kembali terkunci. Arion menatap Yara dengan senyum licik, seakan mengisyaratkan bahwa semuanya telah kembali berada dalam kendalinya.
Yara menatap kosong ke arah pintu yang kini tertutup rapat. Untuk sekejap, ia berpikir mungkin ada secercah harapan. Namun, harapan itu pupus begitu cepat. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa tak ada yang bisa menyelamatkannya dari monster di hadapannya. Bahkan tidak dirinya sendiri.
Lagi-lagi Yara kalah.
-TO BE CONTINUED-
YOU ARE READING
Princess In Distress
ChickLitApa jadinya jika ternyata nama yang kita miliki selama ini ternyata bukanlah nama kita? Apa jadinya jika masa lalu kita yang kita tahu selama ini ternyata hanyalah sebuah kebohongan? Itulah yang Lili alami. Belasan tahun dia dibohongi oleh kedua ora...
