Happy Reading
*
Seorang gadis kecil yang lincah dan penuh tawa. Putri dari keluarga terpandang itu, Nona Kwon Lalisa, gemar bermain petak umpet dengan para pelayan di rumahnya yang luas. Pada suatu sore yang cerah, Lisa dengan riangnya berlari menyusuri lorong-lorong rumahnya, dikejar oleh beberapa pelayan yang berusaha menangkapnya.
Lisa, dengan cekikikan riangnya, memasuki setiap ruangan yang ia lewati, mencari tempat persembunyian yang aman. Namun, setiap kali ia bersembunyi, para pelayan selalu berhasil menemukannya. Tawa riangnya yang tak tertahankan menjadi petunjuk keberadaannya.
Setelah beberapa kali gagal bersembunyi, Lisa memutuskan untuk tidak lagi mencari tempat persembunyian. Ia memilih untuk berlari secepat mungkin menyusuri lorong-lorong rumahnya yang panjang. Para pelayan pun berusaha mengejarnya, namun Lisa terlalu lincah untuk ditangkap.
Dalam keasyikan berlari, Lisa tidak menyadari bahwa ia telah sampai di ujung lorong. Ia pun terpleset dan tersungkur di lantai marmer yang licin. Para pelayan yang mengejarnya pun langsung berhenti dan menghampirinya.
Namun, Lisa tidak menangis karena terjatuh. Ia justru tertawa terbahak-bahak, membuat para pelayan bingung.
Tiba-tiba, seorang wanita anggun, yang tak lain adalah Nyonya Kwon, ibu dari Lisa, datang menghampiri mereka. Dengan wajah khawatir, ia segera membantu putrinya untuk berdiri.
Para pelayan hanya bisa berdiri diam, menyaksikan Nyonya Kwon memeluk dan menenangkan putrinya yang masih tertawa. Nyonya Kwon pun tersenyum melihat putrinya yang tidak menangis meskipun terjatuh. Ia tahu bahwa putrinya adalah anak yang kuat dan ceria.
Setelah memastikan bahwa Lisa tidak terluka, Nyonya Kwon mengajak putrinya untuk beristirahat dan minum teh bersama. Para pelayan pun kembali ke tugas masing-masing, meninggalkan Lisa dan ibunya yang sedang menikmati waktu bersama.
"Kamu ini memang nakal sekali," seru ibunya sambil membantu putrinya berdiri. Setelah berdiri tegak menghadap ibunya, sang ibu mencubit hidung putrinya dengan gemas sambil tersenyum.
"Cepat ganti pakaianmu, tamu-tamu sudah berdatangan di lantai bawah," ucap ibunya sambil membalikkan tubuh putrinya menghadap ke arah para pelayan.
Salah satu pelayan segera menghampiri Lisa dan dengan sopan mengantarnya kembali ke kamarnya. Sang ibu kemudian mengamati putrinya yang berjalan memasuki kamar dengan tatapan penuh kasih sayang.
Saat sang ibu masih menatap putrinya, sebuah tepukan lembut mendarat di bahunya. Ia menoleh dan mendapati suaminya berdiri di belakangnya dengan senyum hangat. Senyumnya pun merekah lega.
"Saatnya kita turun, para tamu undangan telah tiba," ucap Marco dengan suara tenang namun berwibawa.
Lucya, sang ibu dari Lisa, hanya mengangguk kecil, menunjukkan anggukan tanda setuju. Ia menerima uluran tangan Marco, suaminya. Keduanya kemudian berjalan beriringan menuju tangga megah yang menghubungkan lantai atas dan bawah kediaman mereka.
Meskipun terdapat lift yang lebih praktis, mereka berdua memilih untuk menuruni tangga. Bagi mereka, momen ini adalah kesempatan untuk menyapa para tamu yang telah hadir, sekaligus menjadi penanda bahwa acara akan segera dimulai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Only Two Year
Random[ ON-GOING ] Lalisa Manoban × Choi Seungcheol Ketika Lisa masih berusia sepuluh tahun, orangtuanya sudah menjodohkannya dengan anak tunggal dari kerabat dekat orangtuanya. Mereka juga membuat perjanjian, ketika Lisa sudah beranjak dewasa harus meni...
