22. It's all over

895 89 12
                                        


Happy reading

*

*

*




South Korea | 09.00 AM

Pagi ini, Lisa memilih untuk memulai harinya dengan ketenangan. Ia duduk di bangku rotan kesayangannya di taman belakang, menyesap teh hangat yang mengepulkan aroma harum.

Matahari pagi menyinari dedaunan hijau yang berkilau, menciptakan suasana damai yang menenangkan. Di sebelahnya, Leo, kucing Scottish fold, bermain-main dengan bola benang kecil, sesekali menggosokkan tubuhnya ke kaki Lisa seakan meminta belaian.

Semilir angin pagi membawa aroma bunga-bunga yang sedang mekar. Lisa menghirup udara segar itu dalam-dalam, merasakan ketenangan yang perlahan menyelimuti hatinya.

Matanya tertuju pada kolam ikan kecil di sudut taman. Ikan-ikan koi berwarna-warni berenang kesana kemari, menciptakan riak-riak kecil di permukaan air.

Lisa memperhatikan para pelayan yang tengah merawat tanaman, terutama bunga kesayangannya. Mata elangnya menangkap sedikit perubahan pada mawar merah tua kesukaannya. Kelopaknya tampak sedikit layu, dan tanah di pot terasa kering. Ia menghampiri salah satu pelayan, Jiran.

"Jiran, sepertinya mawar merah tua di sudut taman kurang mendapat air. Bisakah kamu siram lebih sering?" pinta Lisa lembut.

Jiran mengangguk patuh, "Baik, Nyonya. Akan saya perhatikan."

Setelah menyampaikan pinta pada Jiran, Lisa sudah berpindah posisi dalam memperhatikan bunga-bunganya di taman. Yang tengah tumbuh mekar dengan indah. Mata elangnya menyusuri setiap sudut taman, dari bunga mawar merah tua kesayangannya hingga deretan bunga lavender yang mulai merekah. Semilir angin membawa aroma harum bunga-bunga itu, menenangkan hatinya.

Lisa duduk di bangku taman, merenung. Taman ini bukan sekadar kumpulan tanaman, melainkan hasil dari kerja kerasnya dan para pelayan. Setiap bunga memiliki cerita dan makna tersendiri. Bunga mawar merah tua melambangkan cinta dan keindahan, sementara lavender membawa ketenangan dan keseimbangan.

Melihat ada kekosongan ruang, Lisa kepikiran menambahkan bunga baru. Edelweiss, bunga kesukaannya sejak kecil, terlintas di benaknya. Ia meminta Jiran, salah satu pelayan yang paling berpengalaman, untuk membantunya mencari bibit edelweiss. Namun, Jiran ragu.

"Nyonya, edelweiss sangat sulit dirawat. Saya khawatir bunga itu akan mati," ujar Jiran.

Lisa kecewa dengan penolakan Jiran. Ia merasa bahwa Jiran tidak cukup percaya padanya. Perdebatan kecil pun tak terelakkan, membuat suasana menjadi tegang.

"Bagaimana kalau bunga lain saja nyonya?"

"Tidak, aku mau edelweiss" Masih bersikeras ingin bunga cantik yang berasal dari pegunungan itu.

"Baiklah nyonya, saya akan mencarikan bibit edelweiss yang nyonya inginkan."

Seolah tidak bisa melawan kemauan dari Lisa, Jiran akhirnya memilih mengalah dan mengiyakan akan mencari bibit bunga edelweiss.

Namun, dalam hatinya, ia merasa ada konflik. Di satu sisi, ia ingin menyenangkan hati Lisa. Di sisi lain, ia khawatir jika edelweiss tidak bisa tumbuh dengan baik di taman ini. Ia takut jika kegagalan ini akan membuatnya terlihat tidak kompeten di mata Lisa.

Mendengar balasan Jiran, yang mau mencari bibit bunga edelweiss, Lisa seakan langsung girang. Matanya berbinar-binar, membayangkan taman belakang rumahnya akan dihiasi bunga-bunga putih lembut itu.

Only Two Year Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang