27. Nightmare

225 31 2
                                        






Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.








Silahkan untuk mengunjungi chapture sebelum untuk menyinkronkan setiap alur —






—————







Jarum jam sudah menunjuk pukul dua dini hari. Hoshi melangkah pelan, tepukan lembutnya mendarat di pundak Seungcheol yang tampak ringkih di bawah sorotan lampu neon. Pria itu tidak bergeming, tatapannya terpaku pada pintu unit darurat—pintu yang sama yang menelan Lisa berjam-jam lalu dan belum juga terbuka.

"Seungcheol" panggil Hoshi dengan suara pelan, nyaris berbisik. Ia kemudian duduk di kursi kosong di sebelahnya, merasakan aura keputusasaan yang menguar dari adik iparnya itu. "Sudah waktunya istirahat. Biar aku dan yang lain yang berjaga."

Seungcheol tidak langsung merespons. Wajahnya pias, dengan lingkaran hitam yang kentara di bawah matanya. "Aku masih ingin di sini," jawabnya akhirnya, suaranya serak dan nyaris tak terdengar. Tangannya yang terkepal di atas pangkuan tampak gemetar.

"Setidaknya isi perutmu dulu. Kau belum makan apa pun sejak sore tadi," bujuk Hoshi, menyodorkan sebotol air mineral yang dibawanya. "Jangan menyiksa dirimu seperti ini. Kalau Lisa tahu kau sekacau ini, dia pasti akan sangat sedih."

Nama Lisa disebut, dan bahu Seungcheol semakin merosot. "Bagaimana aku bisa menelan makanan?" balasnya getir. "Di saat dia mungkin menahan sakit di dalam sana, bahkan untuk bernapas saja mungkin dia berjuang... Aku tidak bisa. Rasanya tidak pantas."

Hoshi menghela napas panjang, memahami perasaan itu, namun tak bisa membiarkannya. "Lalu kau mau menunggu di sini sampai pingsan? Apa itu akan membantunya? Justru sebaliknya, Seungcheol. Saat Lisa sadar nanti, dia butuh melihatmu kuat. Siapa yang akan memberinya semangat kalau kau sendiri tumbang?"

"Siapa yang keras kepala? Aku tidak..." Seungcheol mencoba membantah, namun suaranya tercekat. Ia sadar betul Hoshi ada benarnya.

Hoshi menatapnya lekat, kali ini dengan sorot mata yang lebih serius, namun tetap penuh empati. "Aku tahu kau menyalahkah dirimu sendiri, tapi ini bukan salahmu. Sekarang, yang terpenting adalah kita semua harus kuat untuknya."

Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap.

"Dengar, Seungcheol. Di luar sana, usiamu mungkin lebih tua dariku. Tapi di sini, saat ini, aku adalah kakaknya Lisa. Aku punya tanggung jawab untuk menjaganya, dan itu termasuk menjaga orang yang paling berarti untuknya," ujar Hoshi dengan nada mantap. "Dan kau sangat berarti untuknya. Jadi, sebagai kakaknya, aku mohon padamu... Dengarkan aku kali ini. Pergilah makan, istirahat sebentar. Aku janji, aku tidak akan beranjak seinci pun dari sini sampai kau kembali."

Keheningan menyelimuti mereka sejenak. Akhirnya, dengan sangat perlahan, Seungcheol mengangkat wajahnya dan menatap Hoshi. Di matanya yang memerah, ada secercah pemahaman.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 24, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Only Two Year Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang