[ ON-GOING ]
Lalisa Manoban × Choi Seungcheol
Ketika Lisa masih berusia sepuluh tahun, orangtuanya sudah menjodohkannya dengan anak tunggal dari kerabat dekat orangtuanya.
Mereka juga membuat perjanjian, ketika Lisa sudah beranjak dewasa harus meni...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
— Target adalah 80 vote, cepat mencapai angka maka akan segera update. Semoga bisa memenuhi syarat oke.
—————
Setelah perbincangan yang terasa begitu panjang di antara keluarga besar Seungcheol, Lisa selalu menampilkan senyum manis dan ramah di hadapan mereka. Ia berusaha keras untuk terlihat baik-baik saja dan menikmati kebersamaan tersebut, meskipun jauh di lubuk hatinya, ia merasa sangat tidak nyaman. Namun, begitu pintu kamar tertutup dan mereka berdua telah berada di dalam kesunyian, topeng kepura-puraan itu langsung runtuh.
"Seungcheol?" Lisa memulai dengan nada suara yang terdengar getir. Ia mendudukkan diri di tepi ranjang dengan gerakan yang sedikit kasar, melampiaskan kekesalannya. "Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya, kalau keluargamu punya kebiasaan mencampuri urusan orang lain seperti itu? Semua pertanyaan dan sindiran mereka tadi benar-benar membuat suasana hatiku buruk." Gerutunya, raut wajahnya kini menunjukkan kekecewaan yang mendalam.
Seungcheol menghela napas panjang, berusaha mempertahankan kesabarannya. Ia ikut duduk di tepi ranjang, berhadapan dengan istrinya yang tampak begitu terpukul. "Sudah kukatakan tadi, Sayang. Aku sudah mencoba memberikanmu isyarat, tapi sepertinya kamu terlalu fokus dengan percakapan mereka dan tidak menyadarinya." Ucapnya dengan suara lembut, mencoba menenangkan Lisa.
"Terserahmu," jawab Lisa singkat, sambil memalingkan wajahnya. Ia masih diliputi oleh kekesalan yang luar biasa.
Bagaimana bisa keluarga Seungcheol begitu lancang menyinggung topik sensitif mengenai kehamilan? Lisa sangat tahu bahwa dirinya dan Seungcheol belum juga dikaruniai momongan setelah berbulan-bulan pernikahan mereka. Namun, apakah hal itu perlu diungkit dan dijadikan bahan perbincangan yang membuatnya merasa semakin tertekan?
Seungcheol mengulurkan tangannya, menggenggam jemari Lisa dengan lembut. "Kau tidak apa-apa?" Tanyanya dengan nada penuh perhatian. Ia bisa merasakan ketegangan yang menyelimuti tubuh istrinya.
Lisa menoleh, menatap Seungcheol dengan sorot mata tajam yang menyiratkan kekecewaan dan sedikit amarah. Sebuah senyum sinis terukir di bibirnya. "Apa menurutmu aku terlihat baik-baik saja sekarang, Seungcheol?" Tanyanya retoris, menyiratkan bahwa pertanyaan itu tidak memerlukan jawaban.
Seungcheol kembali menghela napas, memahami sepenuhnya bahwa topik mengenai kehamilan memang sangat sensitif. Bukan hanya bagi Lisa, tetapi juga bagi dirinya sendiri. Sebagai seorang suami, ia juga merasakan tekanan dan harapan dari keluarga besar untuk segera memiliki keturunan.
"Aku sungguh minta maaf atas kejadian" ucap Seungcheol dengan nada menyesal. "Sejujurnya, aku ingin sekali mengakhiri pembicaraan itu secepatnya. Hanya saja, saat itu kamu terlihat begitu tenang menanggapinya, seolah-olah semua baik-baik saja. Aku jadi berpikir kamu tidak terlalu terganggu."