River Anderson, putra Baron Anderson yang tadinya memandang kagum para Naois yang kembali ke kerajaan kini tengah menuliskan sesuatu dalam kertas kusam berwarna kekuningan. Seekor tikus gendut berwarna putih bertengger di bahu kirinya dengan secuil keju di kedua kaki mungilnya.
Selesai dengan kertasnya, River memasukkannya ke dalam saku celana kusamnya dan meraih keranjang berisi makanan yang tadi ia beli. Manik cokelatnya memandang kerumunan Naois yang kini bubar untuk kembali ke kediaman masing-masing.
Naois merupakan marga milik Duke Naois, namun digunakan juga sebagai sebutan ksatria-ksatria keluarga mereka. Helaan napas terdengar dari River, pemuda itu memandang iri beberapa Naois yang masih berkerumun di sekitarnya. Sejak kecil River memiliki keinginan untuk menjadi seorang ksatria, terutama ksatria Naois. Sejak dulu, Naois tak pernah gagal mendidik ksatria mereka.
Sorot mata River meredup, mengingat bahwa dirinya harus memupuskan harapannya untuk menjadi ksatria, apalagi ksatria Naois. Hidupnya yang dulunya serba ada dan serba bebas kini telah lenyap, berbalik menjadi kehidupan yang penuh kekangan.
Beberapa tahun lalu, ayahnya sang Baron Anderson menikah lagi setelah ditinggal pergi ke alam baka oleh sang istri di usia River yang ke tujuh. Baron Anderson membawa seorang wanita dengan dua putranya yang memiliki usia tak jauh beda dengan River.
River kecil berusia sepuluh tahun, sementara kakak tirinya berusia dua belas tahun dan tiga belas tahun. Pada awalnya, sang ibu tiri memperlakukannya dengan penuh kasih sayang, begitu juga dengan kedua kakak tirinya. Ayahnya juga terlihat semakin bahagia, menjadikannya rajin bekerja. Naas, Baron Anderson mengalami kecelakaan yang membuatnya meninggal ketika masih berada di luar kota.
Saat itu usia River enam belas tahun, menyaksikan mayat ayahnya yang dikirim pulang dalam sebuah peti hitam. Sepucuk surat diberikan pada Merina, sang ibu tiri. River tak menyadari bahwa sorot mata ibu tirinya semakin tajam setelah membaca surat wasiat ayahnya, pemuda itu bersimpuh di sebelah peti mati ayahnya, mengelus lembut permukaan licin kayu yang dicat hitam.
"River, ayahmu bilang kau adalah anak yang tidak berbakti!" Seakan petir menyambar di otaknya, River tercengang. Pemuda itu mengalirkan air mata dengan gelengan kepala seakan tak percaya. "T-Tidak mungkin, ayah tidak mungkin mengatakan hal itu kepadaku!"
Tak mau mempercayainya begitu saja, River berupaya merebut sepucuk surat ayahnya dari tangan ibu tirinya. Sayangnya, saat itu kedua kakak tirinya langsung mendorongnya menjauh, bahkan memukulnya ketika dirinya memberontak.
Manik cokelat River dipenuhi oleh rasa kebingungan, mengapa ia merasa keluarga tirinya berubah? Tubuh remaja laki-laki itu bergetar, maniknya menyorot dalam ketiga sosok di depannya. Sang kakak tiri tertua, Gerald memandang River sengit setelah membaca surat yang dibawa Merina. Arnold, kakak tiri kedua River mendecak tidak puas.
"Kami sudah berusaha sebaik mungkin memperlakukannya dengan baik, mengapa ayah tiri tidak memberi kami apapun?!!" Arnold memprotes. Merina menepuk punggung putra keduanya pelan, melirik River dan menggelengkan kepala. Isyarat untuk menyembunyikan isi suratnya.
River yang masih kebingungan tak menyadari gerak-gerik ibu tirinya yang menyembunyikan surat di balik lipatan gaunnya. Gerald yang memahami niat ibunya, mendekati River dan mencengkram dagu adik tirinya.
"Dengar, ayahmu mengatakan bahwa kau bukan anak yang berbakti. Karena itu, warisan ayah hanya diberikan kepadaku, adikku, dan ibuku!" Gerald menyeringai mendapati wajah adik tiirnya yang memucat. River menggelengkan kepala, sedari awal pemuda itu hanya fokus pada kalimat 'ayahmu mengatakan bahwa kau bukan anak yang berbakti'.
"T-Tidak, ayah tidak mungkin bilang begitu!" Meraung, River bangkit dan merebut sebuah kertas dari tangan ibu tirinya. Maniknya bergetar ketika membaca tulisan demi tulisan yang tertera. Tubuh ringkihnya luruh ke lantai, air matanya mengalir deras.
"Ayah, maafkan River.. Maaf.." Isakan River mengeras, pemuda itu meringkuk di lantai, di sebelah peti mati ayahnya, mendekap kertas yang kini teremas kuat di tangannya.
Bukannya iba, kedua saudara tiri River memutar bola mata mereka dan pamit kepada ibunya untuk pergi bermain. Merina yang memiliki kelicikan di hati maupun pikirannya menggelengkan kepala, meminta kedua putranya untuk berpura-pura sedih atas kehilangan ayah tiri mereka.
Pada hari pemakaman, Arnold dan Gerald memainkan peran dengan baik. Keduanya menangis terisak-isak melihat ayah tiri mereka dimakamkan. Merina tak pernah berhenti mengusap kedua matanya. Hanya River yang berdiri dengan raut wajah datar menatap peti mati ayahnya perlahan dikuburkan.
Para pelayat yang gemar bergosip mulai menyebarkan bisanya. Mereka saling berbisik membandingkan kesedihan putra kandung dan putra angkat Baron Anderson. Mereka menyebarkan kata-kata yang mereka anggap sebagai 'fakta' tanpa mau menyelidiki aslinya. Meskipun selalu dibubuhi kata 'aku tidak tahu ini benar atau salah', nyatanya celah seseorang tetap dianggap sebagai kolam keburukan.
Bahkan, River menangkap beberapa kebohongan yang dibalurkan para penggosip untuk memperpedas kalimatnya. Namun pemuda itu hanya diam, pikirannya mengembara tentang isi surat ayahnya yang masih ia simpan dengan rapi di kamarnya.
Steven, sang pengurus kediaman Baron Anderson menghela napas. Pria tua itu membungkuk, menjajarkan tingginya dengan tinggi tuan mudanya. "Tuan muda, Nyonya memberi tahu saya isi surat wasiat Tuan Anderson yang menyatakan bahwa warisan akan diberikan kepada mereka bertiga, apakah Tuan muda merasa aneh? Apakah saya perlu menyelidikinya?"
River menggeleng kosong, membuat Steven mendesah. Sejujurnya pria tua itu merasa ada sesuatu yang aneh, namun ia tak dapat menemukan celah. Manik tuanya memandang dalam nyonya rumah yang masih sibuk mengusap air mata palsunya.
Pria tua itu membenarkan kacamatanya, menegapkan punggungnya melindungi punggung rapuh sang tuan muda. Meskipun berdiri di sisi nyonya rumah lebih menguntungkan, Steven tetap memilih untuk berdiri di sisi tuan mudanya. Mungkin karena itulah, beberapa bulan kemudian ia dipecat.
Merina memandang bengis pria tua yang merapikan barang-barangnya di lantai. Wanita dengan dua anak itu tadinya melempar paksa barang-barang Steven, memecat pria tua itu dan mengusirnya dengan paksa. Tak dapat melawan, Steven menghela napas penuh sesal.
River yang kala itu keluar kamar untuk mencari cookies tertegun. Kedua kaki jenjangnya melangkah lebar mendekati Steven. Kepalanya mendongak, menatap ibu tirinya kosong. "Ibu, mengapa ibu mengusir paman Steven?"
Berdecak, Merina memutar bola matanya. "Dia sudah tua, lebih baik digantikan oleh generasi yang lebih muda dan lebih memahami apa yang nyonyanya inginkan." Steven mencengkram lembut lengan tuan mudanya, berbisik menenangkan di telinga River.
"Tuan muda, saya pamit. Jika membutuhkan sesuatu, silakan ketuk pintu rumah saya. Saya selalu berharap kebahagiaan anda." Steven berdiri, membungkuk untuk memberikan salam perpisahan dan berlalu dengan kereta kuda di depan kediaman Anderson.
River memandang sendu Steven yang berlalu, ia berbalik hendak kembali ke kamarnya ketika sebuah tamparan melayang di pipinya. Pemuda bermanik cokelat itu tertegun, memegangi pipi kanannya yang terkena tamparan dari ibu tirinya, Merina.
"Ibu?" Sekali lagi sebuah tamparan menggenai pipi kirinya, River membelalak tak percaya. Merina tersenyum miring, "mulai saat ini panggil aku 'nyonya', panggil Arnold dan Gerald 'tuan', dan bereskan barang-barang di kamarmu dan pindahlah ke loteng!"
Tanpa bisa membantah, River melaksanakan perintah ibu tirinya yang kini ia panggil 'nyonya'.
o --
KAMU SEDANG MEMBACA
Destroying Fairytale: Cinderella
FantasyUntuk menghargai jasa Duke dan Duchess Naois yang telah memburu monster magis selama lima tahun, sang Raja mengadakan sebuah pesta perayaan sekaligus pesta ulang tahun keponakannya yang boleh dihadiri oleh keluarga bangsawan maupun rakyat biasa. Sta...
