Benar kata Sophia. Ketika kereta kuda mereka berhasil mencapai gerbang istana, terlihat antrean panjang menuju pintu masuk. River menghela napas, entah mengapa jantungnya berdebar kencang. Ia gugup, dan Sophia yang menyadari kegugupan sahabatnya hanya terkikik.
Ketiga orang itu masih berada di dalam kereta kuda. Seorang prajurit istana akan mendata tamu yang datang menggunakan kereta, kemudian memanggilnya satu persatu. Begitu pula dengan tamu yang berjalan kaki.
River memandang keluar jendela, dimana beberapa sosok berlalu lalang dengan gaun dan setelan yang cantik. Mereka bergerombol dan saling memuji, tak mempedulikan kereta kuda yang berjajar.
"Sejujurnya sedikit tidak adil untuk rakyat yang tidak bergelar." Arthur tiba-tiba membuka suaranya, memecah keheningan di dalam kereta kuda. River mengalihkan pandangan, menyorot iris hijau milik Arthur.
"Mau bagaimana lagi, cukup sulit mengatasi dan mengatur para bangsawan yang kolot di istana." Sophia mendesis dibalik kipas bulu yang menyembunyikan setengah wajahnya. Sebuah tepukan lembut menyapu bahu gadis itu, Arthur memandang tunangannya dengan lembut. Dengan sorot mata memberi peringatan.
Sophia mendengus, memilih untuk mengipas lembut wajahnya sembari menyandarkan kepala ke bahu tunangannya. Iris cokelat River sedari awal memandang sepasang tunangan di depannya dengan sorot aneh, seakan menganalisis sesuatu. Sesekali pemuda beriris cokelat itu mengerutkan kening, terlihat sibuk dengan dunianya.
Arthur mengernyit, mengedipkan matanya, dan memandang tunangannya bingung. Mengernyit, Sophia mendekatkan telinganya pada Arthur yang menunduk. "Apakah River tidak nyaman? Gerak-geriknya terlihat aneh."
Iris cokelat Sophia mengamati sahabatnya, kemudian berkedip paham. Gadis itu beralih mendekatkan bibirnya ke telinga Arthur. "Sepertinya ia tengah mendapatkan inspirasi baru, biarkan saja."
Mengangguk, Arthur kembali ke posisinya. Iris hijau pemuda itu sibuk mengamati tunangannya yang terlihat begitu indah dalam balutan gaun berwarna jingga. Sebuah senyuman terlukis di wajah Arthur, "kau cantik." bisiknya lembut.
Seketika wajah Sophia memerah malu. Gadis itu menepuk lengan tunangannya dengan kipas bulu yang ia tutup. Senyuman malu-malu terbit di wajah manisnya, menimbulkan tawa kecil tunangannya.
Suara ribut-ribut terdengar dari luar, beberapa prajurit istana mengatur beberapa orang yang berada di tengah jalan untuk menepi. Sepertinya sebuah kereta kuda yang merupakan tamu penting di kerajaan datang. Lebih tepatnya, sang tokoh utama dalam pesta perayaan di istana.
"Ah, kereta Naois." River tiba-tiba berseru dengan binar di kedua matanya. Sebuah kereta berwarna hitam elegan dengan lambang Naois berlalu melewati kereta kuda mereka. Sekilas, iris cokelat River bersinggungan dengan sepasang iris kuning milik seseorang.
Tubuh pemuda beriris cokelat itu membeku, jantungnya berdegup kencang, wajahnya memerah dengan cepat. Sophia yang sempat melihat sekelibat kereta kuda berwarna hitam mengerling jahil.
"Apakah cantik?" tanya Sophia tiba-tiba, River mengangguk tanpa sadar. Pandangan pemuda itu masih terpaku keluar jendela kereta kuda, wajahnya bersemu manis. "Sangat," bisik River lembut. Sophia yang mendengarnya entah mengapa merasa tersipu, memilih untuk mengusakkan kepalanya ke lengan tunangannya tanpa mempedulikan rambutnya yang sedikit kusut.
Tangan kanan Arthur terangkat, merapikan helai rambut tunangannya yang mencuat karena gesekan kepala gadis itu dengan lengan bajunya. Ketika tersadar, iris cokelat River memandang Sophia dan Arthur dengan canggung. Pemuda itu berdeham, "maaf, aku... melamun."
Ketiganya sedikit terguncang ketika kereta kuda bergerak maju. Lengan Arthur terulur membatasi bagian depan Sophia, mencegah gadis itu terjungkal ke depan. Sedangkan River hanya mengelus punggungnya yang sedikit membentur sandaran kursi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Destroying Fairytale: Cinderella
FantasyUntuk menghargai jasa Duke dan Duchess Naois yang telah memburu monster magis selama lima tahun, sang Raja mengadakan sebuah pesta perayaan sekaligus pesta ulang tahun keponakannya yang boleh dihadiri oleh keluarga bangsawan maupun rakyat biasa. Sta...
