o -- 21

47 7 0
                                        


Keheningan menggelayuti kereta kuda Naois yang melaju dengan kecepatan sedang menuju ke kediaman Naois. Tiga sosok di dalam kereta kuda terduduk dengan tenang, menikmati perjalanan dengan pikiran yang mengelana.

River duduk di sebelah Riley, tentunya setelah Riley berdebat alot dengan saudari kembarnya. Sementara satu-satunya gadis di dalam kereta kuda duduk di seberang saudara kembar dan calon suaminya.

Iris cokelat River tersembunyi dibalik kelopak matanya yang tertutup, tubuhnya masih lemas dengan keringat dingin yang terus membasahi pakaiannya. Kepalanya semakin terasa berat dengan anak panah yang menghujam tanpa ampun.

Di seberangnya, Ruley memandang tubuh lunglai River dengan khawatir, gadis itu mengontak matanya dengan iris hijau kembarannya.

Memahami maksud saudari kembarnya, Riley mengangguk. Pemuda beriris hijau itu menempelkan punggung tangannya ke dahi River dengan lembut, kemudian tersentak. 

"Panas, sepertinya dia demam." 

Si kembar Naois kelimpungan mendapati River yang tertelan kesadarannya, berkali-kali pemuda itu mengingau memanggil ayah dan ibunya dengan dahi mengernyit. Tubuhnya terus menghasilkan keringat dingin.

"D-Dia menangis!" Ruley tanpa sadar memekik, membuat Riley yang tengah menyelimuti pemuda di sampingnya dengan jasnya ikutan panik.

Seketika suasana tenang di dalam kereta kuda digantikan dengan kekacauan si kembar yang payah menangani seseorang yang sedang sakit.

Dari kejauhan, sosok Duke Naois yang mondar-mandir di depan gerbang kediaman Naois tertangkap oleh iris hijau Riley. Pemuda itu membulatkan kedua matanya senang.

Di sisi lain, Duke Naois yang menangkap keberadaan kereta kuda hitam berlambang Naois mendesah lega. Ia hendak menyambut putra dan putrinya ketika pintu kereta kuda yang berhenti di depannya langsung terbuka.

Sosok pemuda asing di topangan kedua anak kembarnya menyambut pandangannya, membuat Duke Naois setengah bingung setengah panik melihat kondisinya yang begitu lemah.

"Ayah, tolong River!" 

Mendengar seruan si kembar, Duke Naois menggendong River dengan mudah di kedua lengannya, lalu melangkah cepat menuju pintu kediaman. Pria paruh baya yang dibuntuti oleh putra-putrinya itu bergegas menuju kamar kosong di lantai satu.

Selepas merebahkan tubuh basah River, Duke memberi intruksi si kembar untuk memanggil dokter kediaman, dan mengambilkan handuk, sebaskom air hangat, dan sepasang pakaian kering.

Ruley berlalu memanggil dokter dengan gaun yang ia singkap hingga lutut untuk memudahkan sepasang kakinya berlari, sementara Riley meminta bantuan pelayan untuk mengambilkan handuk dan sebaskom air hangat, sementara dirinya sendiri menuju kamarnya untuk mencari pakaian untuk calon kakak iparnya.

Sosok Duke Naois sendiri melepas pakaian River, sesekali mengeluarkan kata-kata penenang untuk si pemuda yang gelisah dan memanggil kedua orang tuanya. Keadaan buruk pemuda di atas ranjang mencungkil sudut terdalam Duke Naois yang sejak dulu menyayangi anak-anak.

"Apa yang terjadi padamu, anak muda?"

Ketika seorang pelayan datang dan menyerahkan handuk bersih serta sebaskom air hangat, Duke Naois dengan telaten mengurus River yang sakit di balik pintu tertutup. Riley sendiri sempat masuk untuk mengantarkan pakaian, sebelum memutuskan untuk keluar karena takut mengganggu.

Beberapa saat kemudian, Ruley datang dengan seorang dokter yang tergopoh-gopoh. Sang dokter langsung diberikan intruksi untuk masuk ke dalam kamar saja, sementara Ruley berusaha menahan diri untuk tidak ikut masuk.

Destroying Fairytale: CinderellaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang