Ruley memincingkan kedua matanya, melipat kedua lengannya ke depan dada. Wajahnya begitu masam ketika Merina tidak menjawab apapun. Gadis beriris kuning itu mendengus, mengetukkan ujung kakinya ke lantai tempatnya berada.
"Maafkan saya Nona muda dan Tuan muda, namun di rumah ini benar-benar hanya ada putra-putraku, yang bersin tadi hanyalah kakek dari kedua putraku." sahut Merina tenang, wanita yang selalu bersembunyi dibalik kipas bulu meraknya itu sejujurnya benar-benar ingin mengacak-acak wajah sang Nona muda Naois.
Riley terlihat merenung, kemudian sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah salah satu ksatria Naois yang tengah membisikkan sesuatu. Iris hijau si pemuda itu bergulir dari Merina, ke Gerald, lalu ke Arnold.
Ruley menyatukan kedua alisnya mendengar sahutan dari Merina. Gadis itu benar-benar yakin akan firasatnya, namun ia tidak bisa bertingkah seenaknya terus menerus.
Saat Ruley hendak menyerah dan berpamitan, Riley tiba-tiba berdeham meminta perhatian. Seketika berpasang-pasang mata di dalam kediaman Anderson memusatkan perhatian ke bungsu Naois.
"Maaf atas kelancangan saya, Nyonya. Namun, bukankah anda memiliki tiga orang putra?"
Merina membeku, kedua pupil matanya melebar. Wanita itu tanpa sadar melangkah mundur.
"A-Aah, d-dari siapa anda mendengarnya, Tuan muda?" bantahnya gugup.
Ruley mengernyitkan dahi, "kau berbohong. Odys, Liam, pergi ke atas!" dua ksatria yang disebutkan namanya oleh nona mereka menjawab tegas, lalu melangkah melewati Merina dan kedua putranya yang mematung.
"Nona muda, tidakkah anda tidak sopan di kediaman kami?" Gerald membuka suara, rasa sukanya pada Nona muda Naois lenyap seketika melihat tabiat gadis itu di depan mata.
Ruley mendengus, hendak mendebat ketika Riley mencengkram bahunya lembut.
"Maafkan kami Tuan muda kediaman Anderson, namun kami benar-benar harus segera menemukan lelaki itu."
Disaat Merina dan kedua putranya hendak menimpali, Liam yang tadinya Ruley suruh untuk pergi ke atas bergegas turun ke bawah. Ksatria Naois itu melangkah lebar menuju nonanya dan membisikkan sesuatu.
Seketika Ruley mengembangkan senyumnya, sepertinya masih ada harapan.
"Bawa dia turun."
Setelah mengangguk, Liam kembali menaiki tangga. Merina membuka kipas bulu meraknya, merasa cemas di dalam hatinya. Namun tiba-tiba ia ingat kunci kamar putra tirinya masih dibawa oleh putra kandungnya, ia lega.
"Nona muda, bukankah pintu ruangan atas terkunci?" Merina membuka suara, menyita perhatian Ruley yang kala itu tengah berbisik dengan saudara kembarnya.
Iris kuning gadis itu menyorot ibu tiri River datar, "lalu? Bukankah pintu bisa didobrak? Itu jawabanku jika kau ingin membuatku meminta kunci kepadamu." tukasnya tajam.
Merina mencengkram gaunnya kuat-kuat, bahkan kipas bulu meraknya terlihat sedikit bergetar karena cengkraman kuat tangan yang menggenggam.
"A-Ah, tidak. Saya hanya bertanya saja."
Suara langkah kaki menuruni tangga membuat setiap pasang mata yang ada mengamati tangga dengan sorot mata yang berbeda-beda. Gerald, Merina dengan sorot kesal dan cemas, Arnold dengan sorot penasaran, dan si kembar Naois yang menyorot penuh harap.
Sesosok pemuda berkemeja putih dengan tali di bagian dada terlihat menuruni tangga dengan lengan Odys yang menuntunnya. Sosoknya terlihat lemas dan terseok kala menuruni tangga.
Ruley mengernyitkan dahi, "dia sakit?" tanyanya entah pada siapa.
Arnold yang sedari tadi tidak membuka suara mengangguk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Destroying Fairytale: Cinderella
FantasíaUntuk menghargai jasa Duke dan Duchess Naois yang telah memburu monster magis selama lima tahun, sang Raja mengadakan sebuah pesta perayaan sekaligus pesta ulang tahun keponakannya yang boleh dihadiri oleh keluarga bangsawan maupun rakyat biasa. Sta...
