"Bangun!"
Suara keras diikuti guyuran air membuat River tersentak dari tidurnya, ia langsung terduduk tegak. Kepalanya terasa berputar dan dipukul-pukul, ditambah air yang baru saja diguyurkan ke tubuhnya memperburuk kondisinya.
Merina memandang rendah sosok pemuda bersurai cokelat yang tengah terduduk basah. Sesekali terdengar suara bersin dan batuk kecil. Ibu tiri River itu mengenryitkan dahi, melempar ember besi di tangannya ke sembarang tempat.
"Kau sakit?" tanyanya retoris.
River hanya mendongak, mengangguk karena memang dirinya benar-benar merasa pusing. Merina mengulas senyum miring, "tidak peduli, cepat siapkan sarapan untukku dan putra-putraku."
Wanita bergaun mewah itu berlalu begitu saja, meninggalkan River yang memijit pelipisnya pelan. Pemuda itu mendengus lirih, menahan pening di kepalanya, dan bangkit dari duduknya.
"Hah, benar-benar buruk."
Dengan perlahan, River berjalan mendekati jendelanya yang kini terbebas dari gembok. Iris cokelatnya berkilat ketika kedua lengannya membuka jendela kamarnya. Udara segar menyerbu masuk, diikuti angin yang membelai wajah basah River.
Tubuh pemuda itu bergidik, merasa kedinginan. Puas menikmati udara, River meraih beberapa potong pakaiannya, kemudian berlalu untuk mandi terlebih dahulu.
"Aku harus mengepel kamar juga.." keluhnya.
Di ruang makan, Merina mengipaskan kipas bulu meraknya dengan lembut. Kedua matanya terpejam damai. Sementara di seberangnya kedua putranya duduk dengan bosan. Gerald memangku dagu dengan sebelah tangannya, melirik sinis ke tangga menuju kamar River. Sedangkan Arnold merebahkan kepalanya ke atas meja.
"Aku lapar, dia lama sekali." Arnold mengeluh, membuat Merina membuka kelopak matanya. Wanita itu hendak membuka suara ketika sosok River terlihat menuruni tangga dengan lemah. Ketiga pasang mata di ruang makan menghunus tubuh lemah River yang melangkah menuju ruang masak.
Gerald berdecak, "dia sakit?"
"Sepertinya begitu." Merina membalas tenang ketika Arnold terlihat mengernyitkan dahinya.
"Bagaimana dia bisa sakit?" tanyanya bodoh. Namun membuat Merina menghentikan gerak pergelangan tangannya yang menggerakkan kipas bulu merak. Iris ibu tiri River itu melirik ruang masak dengan penuh keraguan.
Ketika sosok River keluar dari ruang masak dengan sepanci sup ayam, Merina melipat kipas bulu meraknya, dan menempelkannya di bibir merahnya.
"Bagaimana kau bisa sakit?" tanyanya tajam. River terlihat tenang, meletakkan panci sup ayam ke atas meja beserta nasinya dari atas meja dorong. Iris cokelatnya menyorot lantai, bergejolak panik.
"Tadi malam sepertinya hujan, terasa dingin di kamar." tuturnya tenang.
Merina mengendurkan kernyitan dahinya, namun tetap menyorot putra tirinya curiga. Arnold mengunyah potongan ayam dengan semangat disaat Gerald baru saja mengaduk mangkuknya.
"Sepertinya baru kali ini kau sakit hanya karena hal itu?" Gerald menyeletuk, membuat tubuh River menegang. Merina menyandarkan punggung ke sandaran kursi, meletakkan kipas bulu ke atas meja makan.
Jemari lentik sang ibu tiri memainkan sendok perak di dalam mangkuk, seulas senyum miring terbit di wajahnya.
"Kau... keluar dari kediaman tadi malam?"
River mendongak, menggeleng kuat. "Tidak, nyonya!"
Merina mengamati puncak kepala River, turun ke wajah pucat si pemuda itu, dan turun ke ujung kakinya. Wanita bergaun mewah itu mendesah dan melambaikan tangan tak acuh, meminta River pegi dari hadapannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Destroying Fairytale: Cinderella
FantasíaUntuk menghargai jasa Duke dan Duchess Naois yang telah memburu monster magis selama lima tahun, sang Raja mengadakan sebuah pesta perayaan sekaligus pesta ulang tahun keponakannya yang boleh dihadiri oleh keluarga bangsawan maupun rakyat biasa. Sta...
